3 Prinsip Utama Menghadapi Rekan Kerja nan Menyebalkan

Bagaimana bisa bekerja dengan nyaman kalau kamu punya masalah dengan rekan kerja yang menyebalkan?

3 Prinsip Utama Menghadapi Rekan Kerja nan Menyebalkan
Photo by Nik MacMillan from Unsplash

"Salah satu bagian dari pekerjaan adalah membangun relasi."

- Lindsey Pollak

Kecuali jika kamu adalah seorang pekerja perorangan, maka menjalin hubungan profesional dengan orang lain adalah mutlak.

Hampir di setiap pekerjaan yang melibatkan organisasi, di samping harus piawai menangani pekerjaan, kamu yang adalah seorang pekerja tentu juga harus dapat menjalin hubungan yang baik dengan rekan kerja lainnya.

Tentu saja harus. Karena di banyak kesempatan berikutnya, kamu mungkin akan dilibatkan dalam berbagai proyek bersama rekan kerja tersebut. Atau tak usah menunggu lama, deh. Mungkin saja sekarang kamu harus bekerja di satu ruangan yang sama dengannya.

Siapa sih, yang ingin lama-lama terlibat dengan partner kerja yang menyebalkan? Kamu mungkin pernah merasa awkward dan atau kesulitan ketika harus bekerja sama dengan:

  • Rekan kerja yang pernah berselisih paham denganmu,
  • Rekan kerja yang teramat kaku,
  • Rekan kerja yang suka pamer,
  • Rekan kerja yang selalu mengeluh, atau bahkan
  • Rekan kerja yang sering memotong pembicaraan kamu.

Bagaimana, ya?

Habisnya, mau bersikap masa bodoh juga sulit. Karena lagi-lagi, kamu dan rekan kerja menyebalkan itu masih saling membutuhkan. Terlepas dari hebatnya negosiasi emosi yang nanti akan kamu jalani, kamu mutlak tetap harus menjalin relasi yang baik dengannya.

Jauh di dalam hati, kamu mungkin tidak ingin berteman lebih jauh dengan tipe orang semacam itu. Tapi menjaga relasi dengan rekan kerja tentu saja adalah bagian yang tidak bisa dipisahkan dari pekerjaan kamu.

Sebelum kamu menumpukkan kekesalan di pojok hati kamu dan mulai meledak di saat yang tidak tepat, mari memahami 3 prinsip utama berikut dalam menghadapi rekan kerja nan menyebalkan itu.

Memahami Adanya Perbedaan dalam Diri Setiap Manusia

Mengenal karakter rekan kerja melalui keterlibatan dalam proyek yang sama

Coba tinjau kembali sejauh apa kamu mengenal rekan-rekan kerja kamu.

Tahukah kamu bahwa si A sangat sensitif dengan suara keras, sehingga hanya akan membalas dengan tatapan sinis ketika kamu menyapanya dengan riang di pagi hari?

Atau tahukah kamu bahwa si B adalah tipe serius yang selalu kesulitan untuk menanggapi candaan-candaan kamu secara santai?

Jika kamu belum dapat mengidentifikasi karakter dari rekan kerja kamu, maka mulailah dengan mengenal mereka dari sekarang. Kamu bisa melakukan ini melalui interaksi-interaksi sederhana, seperti ketika makan siang atau bahkan sembari mengerjakan proyek bersama.

Kunci penting dari interaksi ini adalah dengan sepenuhnya menghadirkan diri kamu dan menjadi pendengar aktif dalam setiap pembicaraan. Itu artinya, hindari bermain ponsel bahkan saat sedang mengobrol santai dengan rekan kerja, ya.

Kamu dan rekan kerja mungkin akan saling menemukan kesamaan interest, hobi, atau bahkan perbedaan dan hal-hal mengejutkan lainnya.

Namun, apapun yang akan kamu temukan nanti, doktrinkan diri kamu bahwa setiap orang pasti memiliki perbedaan, dan perbedaan itulah yang membuat dunia ini berwarna. Ini akan menjadi langkah awal yang baik untuk dapat saling memaklumi dan mengapresiasi perbedaan masing-masing.

Tetap Menjadi Diri Sendiri

Percaya diri adalah bentuk nyata dari merasa nyaman dengan diri sendiri

Kamu mungkin sering mendengar para motivator kondang yang kerap menyerukan slogan be yourself. Tentang bagaimana kamu harus mengekspresikan diri kamu tanpa perlu menggunakan topeng orang lain.

Namun, menjadi diri sendiri bukan berarti kamu harus mengabaikan kepentingan orang lain, ya. Sembari menjadi diri sendiri, kamu harus tetap dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan di sekitar kamu. Garis bawahi bahwa menyesuaikan diri tidak sama dengan mengubah diri kamu.

Misalkan jika kamu adalah pribadi yang senang berseloroh, kamu harus memahami kapan waktu yang tepat dan tidak tepat untuk meluncurkan gurauan kamu. Dengan terlebih dahulu mengetahui karakter dari rekan kerja, maka kamu akan lebih mudah membuat penyesuaian.

Tetaplah nyaman dengan menjadi diri kamu sendiri. Paulo Coelho dalam kutipannya pernah menyebutkan bahwa orang lain akan memperlakukan kamu sebagaimana kamu menganggap dirimu sendiri.

Ibarat sebuah cermin. Ketika kamu tidak menyukai diri kamu, orang lain akan dapat merasakan itu dan kemudian merefleksikannya kembali padamu.

Ketika kamu sampai pada titik dimana kamu secara pribadi tidak menyukai diri kamu, jangan ragu untuk mengevaluasi diri dan menemukan kembali kenyamanan kamu. Bagaimanapun, hanya kamu yang paling memahami karakter diri kamu pribadi.

Pantangan yang Harus Dihindari

Tanda berhenti

Tiga hal yang tak kalah penting untuk kamu pertimbangkan dalam menjalin hubungan sosial dengan rekan kerja, di antaranya:

1. Berhenti Menghakimi

Permasalahan yang cenderung dimiliki oleh setiap dari pribadi manusia adalah dengan berpikir bahwa setiap orang adalah sama dengan dirinya, dan jika tidak, maka orang itu lah yang harus berubah.

Manusia cenderung menjadikan dirinya sebagai standar untuk menilai perilaku orang lain.

Inilah yang membuat kamu kerap merutuki ketidaksopanan rekan kerja yang selalu memasang wajah acuh setiap kali berpapasan dengan kamu. Atau juga yang membuat kamu ekstra sebal ketika rekan kerja tidak mengucap maaf setelah perselisihan kecil kalian.

Kembali pada prinsip pertama, bahwa setiap orang adalah berbeda. Menghakimi adalah bentuk lain dari merasa bahwa diri kamu sendiri adalah yang paling benar.

Mungkin saja rekan kerja yang kamu kira acuh setiap berpapasan itu memang punya garis wajah tegas nan cuek. Hargai itu.

Mungkin saja rekan kerja yang kamu kira angkuh untuk minta maaf itu memang punya prinsip untuk tidak mudah minta maaf atas kesalahan-kesalahan kecil. Maklumi itu.

Kamu tentu boleh untuk tidak setuju terhadap pendapat orang lain, namun hindari untuk menjudge pribadi lain. Bukan kewajiban kamu untuk mengubah orang lain.

2. Berhenti Menyenangkan Orang Lain

Kamu harus paham benar, bahwa tidak mungkin bagi setiap orang untuk menyukai kamu. Meski kamu hanya bekerja di sebuah kantor yang berisikan beberapa kepala, tidak setiap karakter pribadi yang ada di sana bisa menerima dan diterima oleh kamu.

Oleh karenanya, berhentilah berusaha untuk menyenangkan setiap orang. Pasalnya, kesenangan adalah hal subjektif, yang berarti kamu perlu menyenangkan setiap orang dengan cara yang berbeda-beda—berganti-ganti topeng, istilahnya.

Dr. Ilene Strauss Cohen pernah menyebutkan bahwa seseorang memilih untuk menjadi pleaser agar dapat disukai oleh semua orang. Ini sering kali dianggap sebagai jalan pintas untuk dapat diterima dalam sebuah lingkungan sosial.

Celakanya, banyak di antara kamu yang tidak sadar bahwa dengan menyembunyikan diri yang sebenarnya, sesungguhnya akan memudahkan orang lain untuk mengentengkan dan meremehkan kamu dikarenakan ketiadaan prinsip yang kamu pegang.

Jangan mengkhawatirkan penolakan. Tidak semua orang bisa menyukai kepribadian kamu, dan itu tidak apa-apa.

3. Berhenti Bersembunyi di Balik Kata Be Yourself

Ada sebuah sekat tipis di antara menjadi diri sendiri dan bersikap egois. Pada dasarnya, menjadi diri sendiri berawal dari menemukan kenyamanan dengan diri sendiri. Yang mengarahkannya pada egoisme adalah ketika salah memersepsikan keberadaan orang lain di sekitarnya.

Ketika kamu dapat merasa nyaman untuk tampil di hadapan orang lain sebagai diri kamu sendiri, ada kalanya kamu akan merasa enggan untuk melakukan sedikit penyesuaian.

Sebut saja ketika kamu menolak untuk mendiskusikan kendala dalam pekerjaan dengan rekan kerja yang lebih muda karena merasa lebih benar dan senior. Atau ketika kamu dengan mudahnya meledak-ledak ketika menemukan kesalahan pada rekan kerja yang tidak kamu sukai.

Kamu mungkin bisa menyangkal dengan mengungkit karakter tegas dan perfeksionis yang kamu punya. Tapi menoleh pada situasi lain dimana dengan mudahnya kamu menoleransi kesalahan rekan kerja lain yang kamu senangi, agaknya sesuatu perlu dipertanyakan di sini.

Menjadi diri sendiri bukan tentang keleluasaan menunjukkan kepribadian kamu secara utuh hanya kepada orang-orang tertentu.

Menjadi diri sendiri adalah tentang sepenuhnya memegang kontrol penyesuaian karakter pribadi kamu terhadap orang-orang di sekitar dengan kacamata objektif.

Jadilah diri sendiri yang dapat kamu pertanggungjawabkan.


Menjaga hubungan baik dengan rekan kerja, bukan semata demi mengumpulkan teman dan relasi yang dapat kamu andalkan. Bukan juga tentang mendapatkan geng baru untuk menemani kamu hangout selepas jam kerja.

Ada kalanya, kamu harus tetap berhubungan baik dengan rekan kerja, hanya agar kamu dapat menikmati pekerjaan yang menjenuhkan itu dibarengi oleh segelas kopi panas dan perasaan nyaman yang tak membebani.

Ketiga prinsip di atas mungkin hanya soal mengubah mindset yang membutuhkan banyak waktu untuk dapat tertanam dalam diri kamu sebagai prinsip pribadi.

Namun yakinlah, bahwa dengan terampil menghadapi berbagai macam karakter akan memberikan banyak peluang karir buat kamu.