4 Pengarang Ini Bukunya Membuatmu Merasa 'Nge-Blend' dengan Masyarakat!

Novel-novel mereka terasa lokal banget

4 Pengarang Ini Bukunya Membuatmu Merasa 'Nge-Blend' dengan Masyarakat!
Photo by Artem Beliaikin from Pexels

Nama Pramoedya Ananta Toer atau Seno Gumira Ajidarma mungkin sama sekali tidak asing di telingamu. Ya, keduanya, dan banyak penulis maestro lain memang penulis-penulis yang membuat kita mengenal lebih jauh tentang wajah Indonesia serta berbagai konflik yang menyertainya. Baik di masa yang sangat lampau atau setelahnya.

Tapi, selain mereka ada juga beberapa penulis yang karyanya bisa membuatmu serasa nge-blend dengan masyarakat, alias punya gaya yang lokal banget. Beberapa penulis ini di antaranya!

Ayu Utami

Pengarang Indonesia dengan gaya lokal

Sebagai seorang pemerhati gender sekaligus novelis, kamu akan dapat langsung merasakan khasnya gaya Ayu Utami dalam karya-karyanya. Perempuan kelahiran 21 November 1968 ini merupakan salah satu penulis senior perempuan yang bisa dibilang memiliki gaya sangat segar di masanya.

Novel pertamanya yang berjudul Saman (1998) adalah terobosan besar ketika pertama kali diperkenalkan ke publik. Bisa dibilang novel ini membobol tabu budaya di Indonesia saat itu.

Pada saat itu, seksualitas adalah topik yang tidak umum dibicarakan, dan Ayu Utami melalui Saman berani membawakannya. Dengan latar belakang sosio-politik era Orde Baru, tentu saja kamu akan merasakan flashback ke belakang dan menemukan konflik-konflik suram era zamannya. 

Novel Saman ini sendiri memiliki adik dwiloginya berjudul Larung yang diterbitkan dua tahun kemudian. Sama seperti Saman, Larung juga menggambarkan keresahan Ayu Utami yang berkolerasi dengan masa itu, yaitu otoritarian rezim militer. 

Selain kedua novel tersebut, ada juga Seri Bilangan Fu, yang terdiri dari Bilangan Fu, Manjali dan Cakrabirawa, Lalita, Maya, dan lainnya.

Sama seperti dwilogi Saman dan Larung, Seri Bilangan Fu juga terasa lekat dengan kebudayaan lokal masyarakat Indonesia terutama karena keakraban dengan dunia spiritual dan mistis. Ya, bisa dibilang Ayu Utami emmang suka memasukkan unsur-unsur mistis ke dalam karya-karyanya.

Tidak cuma itu, penceritaan latar tempat yang sangat lokal seperti candi-candi di Jawa Tengah, membuat kita menikmati cerita para tokoh sambil merasakan pekatnya budaya Indonesia. 

Selain novel-novel di atas, Cerita Cinta Enrico, Soegija: 100% Indonesia, Si Parasit Lajang, dan Pengakuan: Eks Parasit Lajang juga tidak kalah menarik untuk dibaca. 

Eka Kurniawan

Pengarang Indonesia dengan gaya lokal

Bagi para pembaca buku era kiwari, nama Eka Kurniawan tentunya sama sekali tidak asing. Apalagi, beliau juga sering menulis status-status menohok di sosial medianya.

Eka Kurniawan memang sangat hits beberapa tahun terakhir, karena beberapa novelnya seperti Cantik Itu Luka; Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas; dan Lelaki Harimau menjadi perbincangan di kalangan pembaca muda. 

Takdir memang tidak ada yang bisa menebak, meski Lelaki Harimau terlebih dahulu terbit dibanding Cantik Itu Luka, sebenarnya yang belakangan ini lahir dari pengarangnya lebih dulu. Sayangnya, Cantik Itu Luka sempat ditolak beberapa kali sebelum akhirnya mendunia di luar negeri dan baru diterima di Indonesia. 

Dalam novel-novel karya Eka Kurniawan, tentu saja kamu akan menemukan jejak-jejak ke-Indonesiaan yang sangat kental. Bukan menyasar pada kaum yang punya privilege, namun justru mengangkat detil dari kalangan orang biasa yang memang Indonesia banget. 

Seperti dalam Cantik Itu Luka, ceritanya mengambil latar belakang pergundikan yang sempat kondang di era kolonial Indonesia. Lalu, pada Lelaki Harimau kamu akan diajak menerima dengan ikhlas kenyataan bahwa hubungan manusia memang rumit.

Dalam karya-karya lulusan Filsafat Universitas Gadjah Mada ini, kamu tidak akan menemukan kisah-kisah realis saja. Dalam novel-novelnya, Eka Kurniawan suka memadukan realisme dan surealisme dengan sangat halus dan pastinya menarik!

Sujiwo Tejo

Pengarang Indonesia dengan gaya lokal

Nama ini tentu sangat familiar tidak hanya sebagai seorang penulis, melainkan juga seniman, dalang, dan bahkan bintang tamu acara debat di televisi.

Kamu mungkin kaget bahwa sebenarnya pria kelahiran Jember ini awalnya adalah mahasiswa jurusan Matematika di Institut teknologi Bandung (ITB). Banting setir karena lebih mencintai dunia seni, kemudian ia menjadi seorang dalang kondang yang mempopulerkan wayang Indonesia bahkan hingga ke luar negeri. 

Baik dalam pendalangan ataupun kepenulisan, bisa dibilang Sujiwo Tejo memberikan warna yang sama sekali tidak biasa. Jika kita mengenal Rahwana sebagai sosok raksasa yang antagonis, tidak pada novelnya yang berjudul Rahvayana 'Aku Lala Padamu'.

Jangankan mendapat imej yang bengis, dalam novel tersebut justru kita mendapatkan Rahwana yang cinta mati pada Shinta dan memperlakukannya bagaikan the most precious person on earth.

Bukan cuma membalik pakem pewayangan saja, Sujiwo Tejo juga memiliki gaya penceritaan yang imajinatif. Kamu akan menemukan tokoh-tokoh pewayangan dengan aktifitas dan latar belakang yang realis-surealis.

Misalnya lagi buku duetnya dengan Buya M.N. Kamba yang berjudul Tuhan Maha Asyik juga menggunakan tokoh-tokoh kental Indonesia sebagai subjek-subjeknya.

Bagi yang suka menantang pakem dan imajinasi, baik kedua buku ini atau karya Sujiwo Tejo yag lain tidak boleh kamu lewatkan. 

Okky Madasari

Pengarang Indonesia dengan gaya lokal

Bagi kamu yang haus dengan kisah pemaknaan hidup dengan gaya yang realis, maka karya-karya Okky Madasari mungkin bisa melegakan dahagamu.

Perempuan kelahiran Magetan, Jawa timur ini rupanya tidak bisa memisahkan kegetiran lokal dari konflik-konflik masyarakat biasa di Indonesia dengan karya-karyanya. Dan justru inilah yang membuat karya-karya Okky susah membuatmu memberi jeda minum di tengah membaca novel-novelnya.

Meskipun tokoh-tokoh dalam novel karya Okky Madasari adalah orang-orang biasa, tapi tidak bisa dipungkiri kalau setiap konfliknya membuatmu remuk redam. Jika hatimu sudah mulai merasa remuk ketika membaca novel-novel beliau, kamu akan tergiur untuk melihat kembali dan memberi pemaknaan ulang atas hal-hal yang kamu ketahui.

Contohnya di novel pertamanya yang berjudul Entrok. Dalam novel tersebut, kedua tokoh utamanya adalah seorang ibu dan anak bernama Marni dan Rahayu yang mengalami gegar budaya.

Mungkin kita semua sudah terbiasa menerima fakta bahwa perbedaan generasi memang pasti menimbulkan gegar budaya, tapi kita tidak akan semudah itu menerima faktanya ketika membaca novel ini.

Pada kenyataannya, gegar budaya bukan hanya menimbulkan gesekan domestik kecil-kecilan seperti perbedaan kebiasaan anak jaman sekarang dan orang jaman dulu. Gegar budaya bahkan bisa membuat relasi keluarga benar-benar gegar dikarenakan pemahaman prinsip agama, ideologi, dan segalanya yang berbeda.

Tidak jarang, dalam novel Okky Madasari kita bisa tiba-tiba menemukan penghayatan atas konflik-konflik masyarakat masa lalu dan masa sekarang yang sebenarnya masih bersinggungan satu sama lain.

Novel Okky lainnya yang sangat recommended untuk dibaca adalah 86, Maryam, Pasung Jiwa, Kerumunan Terakhir, dan kumpulan cerita Yang Bertahan dan Binasa Perlahan.

Ngomong-ngomong, sebagai kaum digital, Kerumunan Terakhir wajib banget untuk dibaca demi pemaknaan hidup di tengah kehidupan digital yang bagai balapan. 


Itu dia beberapa penulis buku yang karyanya punya cita rasa lokal dan pastinya membuatmu terasa sangat dekat dengan masyarakat. Membaca karya keempat penulis tersebut bukan cuma memberikan relaksasi jiwa pada dirimu, tapi juga memberi kekayaan lebih atas pemahaman hidup ini lho!