5 Buku yang Perlu Kamu Baca Sebelum Memasuki Usia 30

Bagi kamu yang masih remaja, mau usia 20-an, pertengahan 20-an, atau hampir 30, jangan sia-siakan waktumu ya.

5 Buku yang Perlu Kamu Baca Sebelum Memasuki Usia 30
Photo by Le Tan from Unsplash

“Aku tuh orangnya males baca”

- Somebody

Oke...

Untuk menanggapi itu semua, menyebutkan alasan kenapa seseorang harus membaca buku sebenarnya sangatlah mudah.

Apa kamu tahu mengapa ada seorang sarjana atau bahkan penyandang gelar master yang masih percaya teori konspirasi yang sejatinya hanya berdasarkan cocoklogi? Itu karena, gelar akademis tidak membuat kamu lantas memiliki logika yang runut.

Logika yang runut ini sendiri dihasilkan jika kamu sering melatihnya dengan cara mengasah ilmu berpikir secara komprehensif melalui membaca. Sedangkan, standar keilmuan kita di Indonesia ini sejak puluhan dekade masih menganut basis hafalan.

Selain itu, masih banyak hal lain yang bisa kamu dapatkan dari membaca. Misalnya, besarnya rasa toleransi, menerima orang lain, tidak mudah menjustifikasi, punya banyak perspektif, dan sebagainya.

Nah, sampai sini apa masih kurang meyakinkan?

Bagi kamu yang masih remaja, mau usia 20-an, pertengahan 20-an, atau hampir 30, jangan sia-siakan waktumu ya.

Jangan terlalu lama deh, kalau mau kepoin orang lewat Instagram. Mendingan kamu melakukan kegiatan santai bergizi, contohnya membaca. Karena itulah, di sini ada 5 buku yang patut banget buat dibaca sebelum usiamu kepala tiga.

1. Tetralogi Pulau Buru

Buku hits yang sudah dikeramatkan sebagai gerbang pengantar buku berfaedah ini pasti tidak asing. Apalagi, bulan depan akan dirilis versi film dari seri pertamanya, yaitu Bumi Manusia. Lalu, memangnya kenapa buku ini wajib dibaca?

Tertralogi Pulau Buru adalah buku yang akan menjungkir-balikkan egomu, aduh sadis. Iya beneran, buku ini akan membuatmu malu sendiri dan bertanya-tanya apa yang bisa saya lakukan agar menjadi seseoarang yang bermanfaat dalam masyarakat.

Buku ini sendiri memang berisi banyak keresahan dan semangat sang penulisnya sendiri, yang pernah jadi kandidat peraih Nobel, Pramoedya Ananta Toer. Namun, hiruk-pikuk di kepalanya diceritakan secara apik dan sastrawi melalui tokoh Minke, figur penjelmaan dari Tirto Adhi Soerjo.

Jangan khawatir bagi yang suka bumbu romantis, buku ini juga punya kok.

Dijamin, setelah kamu membaca Tetralogi Pulau Buru kamu akan merasa menjadi manusia yang lebih visioner.

2. Perempuan di Titik Nol

Buku kali ini tidak datang dari Indonesia, melainkan Mesir. Penulisnya sendiri adalah feminis asal Mesir, yaitu Nawal El Sadaawi. Membaca buku ini akan membuatmu menyadari banyak hal dan sangat mungkin, marah. Tapi harus tetap sabar ya!

Bagaimana tidak, di negara muslim seperti demikian, rupanya perilaku para prianya (mungkin tidak semua) sama sekali tidak mencerminkan keislaman. Buku ini tidak hanya ditujukan pada yang masih memiliki pemikiran patriarkis, namun juga saksi dari fenomena patriarki.

Dan menariknya, buku ini bukan sembarang novel. Walaupun ukurannya kecil, tapi novel ini adalah cerita dari seorang terpidana mati perempuan bernama Firdaus. Bagi kalian yang ingin mengetahui fakta lebih jauh tentang bagaimana fenomena patriarki terjadi di belahan dunia lain, buku ini sangat recommended!

3. Entrok

Dari judulnya saja sudah kelihatan, kan kalau penulisnya orang Indonesia? Penulisnya sendiri adalah Okky Madasari, penulis kondang dengan gaya nyentrik. Hal yang akan membuatmu jatuh cinta pada buku ini adalah selera kepenulisan dari Okky Madasari sendiri.

Pengarang asli Jawa Timur ini menggunakan dialek-dialek khas dan objek-objek lokal Jawa Timuran dalam novel Entrok. Nuansa Jawa Timuran ternyata mambu menjadi pengantar yang sangat nyaman bagi konflik-konflik novel Entrok.

Justru dengan atmosfer kedaerahan itulah konflik terasa sangat dekat dan mentarget langsung sensitifitas empatimu, nah lho. Konflik yang dibawakan dalam film Entrok ini sendiri masih dilatar-belakangi era orde baru.

Di dalam novel Entrok, kamu bisa mendapat pelajaran tentang beragama pada Tuhanmu, menjadi masyarakat beragama, feminisme, ketimpangan sosial, kapitalisme, dan sebagainya. Bagaimana? Sudah mulai tertarik dengan novel ini?

4. Sapiens: A Brief History of Humankind

Buku yang ditulis oleh Yuval Noah Harari ini bahkan mencoba dipopulerkan oleh selebritis-influencer Maudy Ayunda. Nih, Maudy aja ngajak kamu baca, masa kamu nggak mau?

Mungkin sekilas ada yang berpikir, “buku apaan nih, kan aku udah belajar sejarah manusia sama biologi juga waktu sekolah”.

Oke memang Yuval di sini memakai pendekatan saintifik, tapi ya bukan berarti menumpahkan kembali isi bukumu dulu ya.

"Setelah kamu membaca buku ini kamu akan merefleksikan kembali nilai-nilai yang selama ini kamu yakini secara otomatis."

- Maudy Ayunda

Meskipun dengan pendekatan saintifik-historik, ia juga mengelaborasinya hingga menyangkut kondisi sosial dan segala yang diyakini manusia.

Secara garis besar, buku ini dibagi menjadi 4 pembahasan utama, yaitu Revolusi Kognitif, Revolusi Agrikultur, Persatuan Umat Manusia, dan Revolusi Saintifik.

Apa kamu mau mencoba membacanya?

5. Masyarakat Tanpa Tuhan

Buku yang ditulis oleh Phil Zuckerman ini sangat bisa menjadi pembuka pikiran bagi masyarakat fundamentalis agama.

Aduh berat ya kedengarannya?

Sederhananya begini, buku ini mematahkan mitos bahwa tanpa Tuhan sebuah masyarakat akan penuh kekacauan dan bencana.

Buktinya?

Yuk, tengok Skandinavia.

Sudah bertahun-tahun negara-negara Nordik ini hidup tentram, lempeng, walaupun mayoritas tidak beragama atau tidak mengakui adanya Tuhan. Buku Masyarakat Tanpa Tuhan sendiri memang mengambil basis data dari negara-negara di sana, terutama Denmark dan Swedia.

Jika ada orang yang menganggap bahwa agama berkolerasi kuat dengan moralitas, maka sangat perlu membaca buku ini.

Orang-orang Skandinavia menganggap perilaku baik bukan bagian dari agama, melainkan budaya yang mendarah daging dan memang harus dianut. Ya tidak perlu kaget kan, jika disana tidak ada semacam persatuan alumni-alumni.

Eh, nggak niat nyindir, sih.

Buku ini menceritakan bahwa masyarakat di sana menjunjung tinggi kesetaraan akses untuk hidup sejahtera, tanpa memandang mereka siapa dan apa agamanya atau seksualitasnya. Sehingga, tidak ada ketimpangan sosial ataupun huru-hara karena semua orang ingin sesamanya sejahtera sebagaimana dirinya.

Itu dia 5 Buku yang Perlu Kamu Baca Sebelum Memasuki Usia 30.

Kita harus sadar kawan, banyaknya kebencian adalah karena kurangnya memahami orang dengan pandangan berbeda.

Jadi, agar kamu menjadi pribadi yang lebih berkualitas, wajib deh, untuk membaca buku-buku ini.