5 Hal yang Perlu Dipastikan Sebelum Memutuskan Berkeluarga

Berkeluarga bukan hanya tentang menyatukan dua insan yang saling mencintai. Institusi sakral ini memiliki beberapa kunci keberhasilan, apa saja?

5 Hal yang Perlu Dipastikan Sebelum Memutuskan Berkeluarga
Photo by Samantha Gades from Unsplash

Tidak dipungkiri, saat ini banyak sekali gembar-gembor ajakan untuk menikah muda. Tetapi, pernikahan sejatinya bukan hanya soal suka sama suka. Pernikahan bukan sekedar ritual sehari dan kisah romantis yang akan kalian jalin bersama, guys. Ada banyak pertimbangan yang perlu kalian pikirkan bukan hanya dalam sehari dua hari. 

Pertimbangan untuk memutuskan menikah atau tidak pun, seharusnya kalian lakukan sendiri, sambil sedikit riset dan belajar dari pengalaman orang lain. Dan tentu saja, ketika kamu mencari pertimbangan, jangan hanya mencari sesuatu yang hanya ingin kamu dengar.

Ketika kamu belajar dari pengalaman orang lain, kamu juga perlu belajar dari pengalaman yang mengenakkan dan tidak mengenakkan, dengan begitu, kamu akan lebih memiliki banyak perspektif. 

Jangan membayangkan pernikahan akan seperti cerita di Disney princess ya.

Pernikahan nantinya akan merubah hampir seluruh aspek dalam hidup kamu, intinya kamu akan membuat sebuah institusi baru dengan kerja-samamu bersama pasangan.

Nah, institusi sakral ini memiliki beberapa kunci keberhasilan, apa saja?

1. Pastikan kalian berdua memiliki ketangguhan secara finansial

Agak sedikit berbeda ya, karena di sini kita menyebutnya ketangguhan. Maksudnya ketangguhan itu bukan cuma mempunyai pekerjaan yang bisa diandalkan, hunian, tabungan, dan sebagainya. Ya mereka semua perlu pastinya, tapi ada juga yang penting, yaitu ketekunan dan kreatifitas dalam bekerja. Nah lho, apalagi ini???

Ketekunan dalam bekerja kalian pastinya sudah paham, tetapi untuk kretifitas dalam bekerja ada maksudnya sendiri. Kretifitas dalam bekerja ini maksudnya inisiatif untuk selalu meningkatkan kesejahteraan keluarga yang akan kalian bangun melalui bekerja, tentunya dengan cara yang halal.

Artinya, kamu perlu memastikan apakah calon pasanganmu ini tidak keburu puas dengan perekonomian saat ini, karena ketika kalian merasa sangat aman, di situlah bahaya mengancam, ceilah.

Rasionalnya begini, kita tidak bisa menghindari kehidupan yang semakin serba kapitalis kan, jadi kamu dan pasangan harus mampu mencari peluang mengembangkan karir agar kalian bisa memastikan kehidupan yang nyaman bagi keluarga kalian, terutama untuk anak-anak.

Selain itu, ketangguhan dalam hal finansial juga berarti saat tiba-tiba terpuruk dalam hal ekonomi, kalian berdua harus siap dengan solusi agar asap dapur tetap mengepul. Aspek finansial ini bisa dibilang sesuatu yang urgensinya sangat tinggi.

Bukannya menganjurkan kalian materialistis ya, tetapi kalian tahu tidak, kalau KDRT juga mencakup aspek finansial? Kalian juga perlu tahu bahwa ketika kalian punya anak, kalian harus menghadirkan rasa aman bagi mereka, salah satunya dalam hal ekonomi.

Jangan sampai calon anak kalian tidak berani bercita-cita dan sulit mengembangkan diri hanya karena takut tidak ada biaya. 

2. Bicarakan tentang pembagian pekerjaan rumah

Sebelum kamu memutuskan menikah, pastikan apakah pasanganmu orang yang patriarkis atau tidak. Ini hal yang krusial, karena keluarga adalah sebuah bentuk kerja-sama, ketika salah satu pihak memiliki hirarki di bawahnya, kamu tidak akan puas dengan pernikahanmu.

Bagaimanapun, kalian berdua memiliki hak mengembangkan diri, karena pernikahan tidak seharusnya mengekangmu. Selain itu, pentingnya pembagian pekerjaan rumah adalah, untuk membangkitkan kesadaran bahwa kalian berdua adalah tim dan saling membutuhkan satu sama lain.

Lagipula, ketika kalian memiliki anak nanti, kesetaraan yang kalian perlihatkan akan membentuk pemahaman gender yang baik bagi anak-anak kalian.Selain itu, keadilan dalam membagi tugas juga membuat anak kalian melihat bagaimana bekerja-sama yang baik dan menempatkan diri dengan baik.

Hal itu juga akan berpengaruh pada perilakunya di luar rumah. Anak kalian tidak akan terpikir untuk berperilaku superior terhadap orang lain, selain juga mengajarkan anak kalian ikut membantu pekerjaan rumah tentunya. 

3. Apakah kalian berdua sudah banyak belajar tentang psikologi? Terutama psikologi anak dan keluarga?

Di negara kita perlu diakui bahwa kesadaran ini amat sangat rendah. Padahal, membangun keluarga bukan hanya melibatkan aspek teknis. Banyak papa atau mama muda yang kaget dengan tantangan emosional yang hadir setelah mereka menikah. Ini dikarenakan mereka belum mendalami khazanah manusia melalui psikologi.

Terlabih penting, ketika kalian memutuskan punya anak, nantinya bagaimana kondisi psikis anak tersebut juga tanggung jawab kalian. Banyaknya orang yang mengalami gangguan psikologis di usia dewasanya karena generasi tua kita benar-benar gagap akan hal ini.

Hasilnya? Well done, banyak sekali orang yang sebenarnya tumbuh dengan kejiwaan yang penuh luka dikarenakan orang tuanya sendiri. Siklus seperti ini harus berhenti di kamu, kawan.

Saya jadi ingat kata-kata seorang psikolog di sebuah tulisannya bahwa,

Masyarakat yang sejahtera lahir dari kejiwaan yang sehat

Baik laki-laki atau perempuan, jangan sepelekan urusan ini, karena nantinya kondisi psikologis tiap anggota keluarga akan berpengaruh satu sama lain.


4. Cek kesehatan nggak cuma fisik, mental juga!

Yang pasti diperlukan dalam cek kesehatan fisik adalah tes darah, untuk mendeteksi adanya resiko kelainan darah, kondisi anemia, leukimia, dan sebagainya. Selanjutnya pemerikasaan kadar gula darah, urin, dan hepatitis.

Ada lagi cek infeksi penyakit menular seksual. Dan bagi yang berencana memiliki anak, harus melewati tes TORCH (Toxoplasma, Rubella, Cytomegalovirus, Herpes Simplex), TORCH ini berguna untuk menghindari cacat janin, prematur, bahkan keguguran.

Nah, kalau untuk kesehatan mental, ini mutlak perlu! Kondisi mental sukar terdeteksi dan terkadang tidak terduga kemunculannya. Kamu tidak mau kan, ketika sudah menikah ternyata pasangan atau malah kamunya jadi mengalami ketidakstabilan psikis.

Ini akan menjadi hal yang sangat berat bagi pasanganmu dan anak-anakmu kelak. Makanya, sebelum kalian berdua menikah, pastikan bahwa secara mental kalian tidak memiliki gangguan yang berarti.

Jika memang ada, tidak perlu merasa malu ataupun rendah diri, cukup pastikan kamu atau pasangan menyembuhkan diri terlebih dahulu, agar di kemudian hari tidak ada efek buruk pada keluarga kalian, apalagi diriwayatkan ke anak kita.

Mungkin kalian belum tahu ya, salah satu faktor masalah kejiwaan itu genetik lho.

 5. Bicarakan nilai-nilai yang kalian anut, entah itu dalam hal kehidupan, agama, pendidikan, dan sebagainya


Seseorang yang kamu ajak menikah, haruslah seseorang yang memiliki visi dan misi sejalan denganmu. Kalian tidak perlu persis sama dalam setiap nilai yang kalian anut, perbedaan adalah wajar, tetapi garis besarnya tetap harus sejalan.

Ini penting bukan hanya untuk kelangsungan rumah tangga kalian, tetapi juga komunikasi kalian berdua. Memiliki pasangan yang bisa diajak membicarakan mulai dari yang penting sampai nggak penting itu lebih mengasyikkan.

Membicarakan nilai-nilai di sini juga penting untuk mengambil jalan tengah seandainya ada ketidaksamaan perspektif, jadi kalian bisa mengambil jalan tengahnya. Dan pastinya, jangan berusaha untuk lebih benar dari calon pasanganmu. Ingat, kalian tidak sedang akan berlomba, tapi mencari titik temu.


Nah, itu dia 5 hal yang perlu dipastikan sebelum memutuskan berkeluarga. Ingat ya, pernikahan itu bukan pencapaian atau bahkan tujuan akhir, ia adalah sebuah proses. Sebelum memutuskan untuk menikah, kamu dan pasangan harus matang, terutama secara mental, karena usia tidak benar-benar menjamin kedewasaan.

Jangan terburu-buru untuk menikah, selesaikan dulu urusan kalian dengan diri masing-masing. Jangan ada penyesalan ketika kalian nanti sudah berkeluarga. Akhir kata, karena pernikahan adalah sebuah kata kerja, jadi lakukan sebaik-baiknya!