5 Kiat Sukses Menyikapi Penolakan

Setiap orang pasti pernah mengalami penolakan. Ini bukan tentang musababnya, namun bagaimana menyikapi kekecewaan di balik penolakan.

5 Kiat Sukses Menyikapi Penolakan
Photo by Drew Hays from Unsplash

Siapa sih yang tak pernah ditolak?

Kalau bukan soal cinta, mungkin kamu pernah ditolak saat melamar kerja. Atau mungkin topik skripsi kamu belum jua mendapat kata yes dari pembimbing. Bisa juga tentang usaha kamu minta izin orang tua untuk liburan ke luar kota yang justru berakhir dengan omelan.

Setiap dari kamu pasti pernah mengalami penolakan. Entah atas hal-hal yang sekadar remeh, hingga pada perkara yang dapat membawa kekecewaan besar.

Apapun bentuknya, penolakan tentu tidak menjadi pilihan semua orang. Oleh karenanya ada yang disebut dengan melakukan yang terbaik.

Karena itu, kamu akan mempersiapkan berkas-berkas dan penampilan terbaik demi bisa lolos dalam sebuah wawancara kerja. Ketika hendak menyatakan cinta, kamu tentu juga akan mematangkan semua persiapan kamu.

Karena yang namanya penolakan, bagaimana pun remehnya, seringkali akan membawa kekecewaan.

Gawatnya, tidak setiap orang memiliki kekebalan yang sama terhadap penolakan. Kamu dan seorang teman mungkin baru saja ditolak dalam sebuah wawancara kerja yang sama. Namun persamaan itu tidak lantas menjadikan kekecewaan kalian serupa.

Tepat sekali. Penolakan itu subjektif. Berbagai pengalaman serta karakter masing-masing individu, memegang kendali besar dari bagaimana kamu menyikapi sebuah penolakan. Yang mana berarti, kamu juga bisa mengubah perspektif kamu terhadap sebuah kata "No".

Mari menilik beberapa kiat berikut, agar kamu dapat sukses dalam menyikapi penolakan.

1. Menerima Penolakan

Menikmati kekecewaan yang datang adalah bentuk dari menerime penolakan

Ketika mengalami penolakan, kamu mungkin banyak mendengar dan menerima kata-kata mutiara tentang optimis, tetap semangat, atau dorongan untuk mencoba lagi. Klise, sih.

Tidak semudah itu, Saudara.

Hati kecil kamu pasti juga menggumamkan hal yang sama.

Begini kuncinya. Di awal mengalami penolakan, ada baiknya untuk tidak menghindar. Ya. Terdengar tak masuk akal, memang. Namun, toh, cepat atau lambat, kamu tetap harus menerima penolakan itu.

Terimalah segala pergolakan rasa sakit yang menjangkiti hati. Resapilah setiap tusukan kekecewaan yang datang. Jangan tolak untuk melahap sedih yang menghampiri.

Percayalah, akan lebih baik melakukan ini sekarang, dibanding membiarkannya terpendam terlalu lama, kemudian meledak di waktu yang salah.

2. Mengganti Fokus

Fokus pada hal-hal positif di hidup kamu

Setelah mengusahakan langkah pertama, berikutnya adalah tentang mengubah fokus. Jika sebelumnya yang menjadi fokus kamu adalah hal-hal negatif atas penolakan yang kamu dapat, maka sekarang adalah saatnya untuk menjadi lebih positif.

Daripada terus memikirkan jawaban mana yang salah hingga berujung penolakan pada wawancara terakhir kamu, bersyukurlah atas betapa beruntungnya kamu masih bisa makan tiga kali sehari.

Dibanding memenuhi pikiran dengan detik-detik dia memalingkan tatapannya dari pernyataan cinta kamu, berterima kasihlah atas kasih sayang orang tua yang masih kamu terima hingga saat ini.

Jangan tenggelam terlalu lama dalam kubangan sesal dan kecewa atas penolakan. Sadarilah bahwa masih ada banyak hal baik yang kamu miliki.

"Bukan kebahagiaan yang menjadikan Anda bersyukur. Rasa syukurlah yang menjadikan Anda berbahagia."

- Mario Teguh

3. Berbagi

Berbagi adalah cara paling ampuh untuk melepaskan beban di hati

Tenang, kamu tidak sendirian.

Sebagai makhluk sosial, kamu tentu tidak hidup hanya seorang diri. Ada keluarga, teman, atau bahkan kekasih yang bisa menjadi tempat kamu mencurahkan isi hati.

Kamu tidak perlu menyimpan semuanya sendirian. Bercerita pada orang-orang terdekat yang kamu percayai akan melepaskan banyak beban di hati kamu.

Kacamata orang lain pun bisa melihat sisi yang berbeda dari penolakan yang kamu alami. Bahkan jika kamu perkenankan, akan ada beragam saran atau nasihat yang bisa kamu dengar dari mereka.

Tidak perlu membayangkan curahan hati intens dan serius. Terkadang, curahan hati colongan yang kamu bagikan secara random dalam obrolan di komunitas kamu juga bisa membantu—tidak termasuk status galau di media sosial loh, ya.

Sejatinya, dalam banyak kasus keterpurukan, manusia hanya ingin didengar.

4. Berhenti Menyalahkan Diri

Tidak menyakiti diri sendiri adalah bentuk sempurna dari menyayangi diri

Menjadi pesimis setelah mendapatkan penolakan adalah hal yang umum. Kamu mungkin akan mencari-cari kesalahanmu untuk mendapatkan pembenaran atas penolakan yang kamu alami.

Namun, jangan menjadikan hal ini lantas memenuhi pikiran kamu dengan stigma-stigma tak berkesudahan. Kamu masih memegang kendali atas diri kamu.

Berhentilah menyalahkan diri sendiri.

Yakinlah bahwa penolakan ini tidak selalu tentang kamu. Bukan karena kamu tidak berharga, tapi semata karena dia belum dapat melihat kecocokan di diri kamu. Bukan karena kamu kurang dalam banyak hal, namun kamu hanya belum sesuai dengan apa yang mereka cari.

Jadi, berhenti lah menyakiti diri sendiri dengan pikiran-pikiran negatif. Kamu hanya perlu mencoba lagi hingga akhirnya menemukan mereka yang memang menginginkan dan membutuhkan kamu.

Ingat, setiap orang memiliki zona waktu yang tidak sama.

5. Belajar dari Kegagalan

Mereka yang berhasil adalah mereka yang mau belajar setelah jatuh

"Jangan takut jatuh, karena yang tidak pernah memanjatlah yang tidak pernah jatuh. Jangan takut gagal, karena yang tidak pernah gagal hanyalah orang-orang yang tidak pernah melangkah."

- Buya Hamka

Lihat sisi positifnya. Dengan ditolak, kamu akan mendapatkan persepsi lain tentang dirimu. Dengan ditolak, kamu akan menemukan celah-celah tak terlihat yang perlu ditambal. Melalui penolakan, kamu akan tahu bahwa ada beberapa hal tentang diri kamu yang perlu kamu perbaiki.

Penolakan adalah jalan untuk berkembang.

Jangan jadikan penolakan sebagai alasan untuk berhenti berjuang.

Chill on. Ditolak hanya sebagian kecil dari cerita hidup yang perlu kamu lalui. Sesekali, keluar dari zona nyaman itu perlu, agar kamu tahu bahwa dunia tidak sesempit ruang di hatinya yang enggan diberikan untukmu.

Jadilah seseorang yang cerdas dengan belajar dari sebuah penolakan. Ketimbang merutuki momentum yang tidak bisa kamu ulangi, akan bijak kiranya jika kamu dapat melakukan introspeksi dan meningkatkan kualitas diri.

Biasakan untuk mencari tahu apa yang bisa kamu pelajari dan perbaiki dari sebuah penolakan. Kamu akan takjub dengan berbagai improvisasi yang bisa kamu kreasikan.


Manusia tidak dirancang untuk selalu bahagia. Kalau kamu mau hidup senang, berusaha lah. Sejak zaman purba pun demikian. Kodrat manusia adalah untuk berjuang dan bertahan dalam siklus kehidupan. Bahagia dan senang hanyalah bonus.

Pahamilah bahwa manusia pasti mengalami fase terluka. Mengertilah bahwa semua itu adalah normal dan tak lebih dari sebagian kecil jejak roda kehidupan yang sedang berputar.

Jangan sampai langkah kamu berhenti pada sebuah penolakan. Ada banyak kesempatan besar yang menanti kamu di waktu berikutnya. Kamu hanya belum bertemu dengan yang tepat.

Jangan menyerah.