AI, Si Dokter Masa Depan

Para saintis sedang mengembangkan sistem berbasis AI untuk mendeteksi penyakit manusia. Mungkinkah peran dokter tergantikan oleh AI?

AI, Si Dokter Masa Depan
Photo by Franck V. from Unsplash

Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan yang juga sering disingkat AI saat ini mulai lumrah didengar. Dikutip dari Wikipedia, AI merupakan kecerdasan buatan yang didemonstrasikan oleh sebuah mesin.

Embel-embel kecerdasan buatan tidak menjadikan AI lantas tertinggal oleh manusia. AI justru dibuat untuk dapat menirukan cara kerja manusia, di antaranya untuk dapat belajar dan melakukan pemecahan masalah.

Di banyak penelitian yang melibatkan AI, telah terbukti bahwa AI dapat memecahkan sebuah masalah dengan tingkat deviasi yang cukup kecil. AI mampu menemukan pola paling spesifik di antara beberapa item—yang bahkan luput dari analisis manusia—untuk kemudian membedakan keduanya dengan tegas.

Sebagai kecerdasan buatan yang diproses oleh sebuah mesin, AI memiliki banyak keunggulan yang sayang untuk dilewatkan oleh para pelaku industri, di antaranya:

  1. Tingkat akurasi yang tinggi. Algoritme pelatihan yang ditanamkan pada AI membuatnya mampu mengoreksi kesalahan pengambilan keputusannya untuk mencapai hasil yang lebih tepat.
  2. AI tidak mengenal kata bosan dan lelah. Oleh karenanya, pembelajaran yang dilakukan AI dapat terus berlangsung tanpa henti selama 24 jam sehari atau bahkan 7 hari seminggu.
  3. AI tidak melibatkan faktor emosi dalam membuat keputusan. Karena intervensi hasil hanya dapat dilakukan dengan secara khusus mengubah algoritme pelatihan dan pengujian AI yang terkait, maka dapat dikatakan bahwa simpulan yang dihasilkan oleh AI adalah objektif tanpa melibatkan subjektivitas apapun.

Tidak terkecuali di bidang medis, pemanfaatan AI pun enggan untuk diabaikan. Di bidang medis sendiri, AI banyak dipergunakan sebagai sebuah sistem yang dapat mengklasifikasikan sebuah gejala sebagai kondisi medis tertentu.

Algoritme pelatihan berulang hingga menemukan hasil yang tepat yang mana menjadi keunggulan AI menjadikan sistem ini menarik karena tak jarang menampilkan hasil diagnosis yang sesuai dengan fakta di lapangan.

Maka dari itu, tak heran jika para praktisi medis sendiri pun mulai dibuat khawatir oleh pemanfaatan AI yang semakin meluas di lahan garapan mereka.

Geoffrey Hinton, seorang saintis komputer bahkan pernah berkelakar di sebuah konferensi di Toronto dengan mengatakan untuk sebaiknya berhenti melatih para radiolog karena fungsi mereka yang dapat segera tergantikan oleh AI.

Bercanda atau bukan, Beliau hanya sedang memberikan peringatan bahwa AI akan terus berkembang dan tidak menutup kemungkinan di suatu saat nanti AI akan mendominasi dunia medis.

AI Sebagai Ahli Diagnosis

Kemampuan diagnosis dokter AI cukup menjanjikan

Di bidang medis sendiri, AI telah banyak diaplikasikan untuk membantu para praktisi medis dalam membuat keputusan—salah satunya adalah keputusan terkait diagnosis penyakit ataupun kelainan yang sedang diderita seseorang.

Sejauh ini, AI tidak hanya dapat melakukan diagnosis melalui keluhan-keluhan dan data rekam medis pasien semata, namun juga dapat secara teliti menentukan pembacaan dari hasil pemeriksaan lengkap pasien, seperti hasil-hasil pemeriksaan laboratorium hingga hasil radiologi layaknya CT Scan.

Mari mengutip sebuah jurnal penelitian yang dipublikasikan pada tahun 2019. Penelitian tersebut mencoba menggunakan AI untuk membuat prediksi terhadap progres penyakit ginjal diabetes yang melibatkan data rekam medis elektronik dari 64 ribu orang pasien.

Alhasil, dapat disimpulkan setelahnya bahwa sebuah program berbasis AI mampu memprediksi perkembangan penyakit diabetes yang dapat mengarah kepada ginjal kronis dengan keakuratan hingga 71%.

Penelitian ini tentu dapat berkontribusi besar bagi banyak pasien di luar sana untuk dapat mempersiapkan pencegahan yang efektif terhadap risiko hemodialisis.

Hasil yang tidak jauh berbeda pun tampak pada laporan penelitian dari Jerman terkait penggunaan AI untuk mendeteksi usus buntu.

Usus buntu sendiri telah dikenal luas oleh para praktisi medis sebagai sebuah penyakit yang cukup sulit untuk dideteksi dikarenakan gejalanya yang cenderung tidak jauh berbeda dengan penyakit di bagian abdomen lainnya seperti maag.

Oleh karena itu, keberadaan suatu sistem yang dapat membantu para dokter dan ahli medis dalam mendiagnosis usus buntu menjadi sebuah kebutuhan untuk menghindari penanganan-penanganan yang tidak perlu pada pasien yang sebenarnya tidak menderita penyakit tersebut.

Para peneliti Jerman dari sumber publikasi yang terkait pun berhasil menunjukkan bahwa keterlibatan AI dalam mendiagnosis usus buntu dapat mendukung ketelitian diagnosis hingga 90%.

Jika sistem ini dapat diterapkan secara resmi di lingkup kedokteran, bayangkan akan ada banyak orang di luar sana yang dapat terbebas dari risiko apendektomi hanya karena kesalahan diagnosis usus buntu yang dilaporkan telah mencapai 40%.

AI, Si Dokter Masa Depan

AI mulai mengintai posisi dokter dan praktisi medis lainnya

AI dapat menggantikan banyak peran dari para dokter dan praktisi medis lainnya. Hasil radiologi yang umumnya membutuhkan pembacaan dari dokter ahli, kini sudah dapat dilakukan oleh AI. Begitu pula dengan analisis pemeriksaan laboratorium yang juga bisa dikerjakan oleh AI.

Andai nanti sebuah robot dokter berbasis AI benar telah muncul, pasien adalah yang paling diuntungkan olehnya. Sistem pengerjaan yang cepat dan berakurasi tinggi, mudah dijangkau, serta bahkan berbiaya rendah, menjadikan dokter AI ini memiliki banyak poin tambahan untuk tidak ditolak.

Meski demikian, segelintir orang di luar sana masih mengkhawatirkan perkembangan AI yang begitu pesat. Jika AI terus berkembang di dunia medis, apakah para praktisi medis akan kehilangan pekerjaan mereka?

Bagaimanapun, perkembangan robot AI tidak main-main. Lihat saja contoh robot AI Erika yang telah dijadikan presenter berita di Jepang. Atau robot-robot AI lain yang menguasai jalan di balik fungsi auto drive pada mobil masa kini. Tidak salah kalau berpikir dokter AI akan segera menyusul rekan-rekannya yang lain.

Habisnya, kemampuan prediksi AI yang stabil dan tak kenal lelah banyak diakui telah melampaui ketelitian diagnosis oleh para dokter. Fakta-fakta ini setidaknya sedang menunjukkan bahwa AI memiliki masa depan yang menjanjikan, terutama di dunia medis dan kedokteran.

Ya, AI menjanjikan masa depan yang baik bagi para pasien, namun tentunya tidak demikian bagi para dokter dan praktisi medis lainnya. Meskipun terdengar konyol, bayangan ancaman dari sebuah mesin yang bahkan tidak bernyawa itu benar sedang mengintai.

Lalu, Mungkinkah?

Peresmian AI sebagai dokter masih harus melewati proses panjang

Mungkinkah hanya tinggal waktu menanti AI mendominasi berbagai peran dan posisi di dunia medis?

Agaknya, ini masih menjadi perdebatan panjang di antara para ahli. Meskipun menampakkan hasil yang menjanjikan, namun AI memiliki kekurangan yang  juga sukar untuk diabaikan.

AI bisa dengan mudah membedakan kuda dan buaya, namun akan kesulitan membedakan antara T-Rex dan Velociraptor.

Kekuatan AI terletak pada kemauan dan kemampuannya dalam belajar. Maka dari itu, kurangnya data latih sebagai media pembelajaran AI akan sangat berpengaruh kepada tingkat akurasinya.

AI butuh data latih yang tidak sedikit. Cukup wajar jika AI dapat dengan mudah mengklasifikasikan penyakit yang cukup umum namun sulit didiagnosis, karena ketersediaan data yang masif menjadikan AI sangat terlatih untuk mengenali kondisi tersebut.

Lain cerita dengan penyakit-penyakit langka yang tidak memiliki data yang cukup untuk melatih si dokter AI. Kecerdasan dari dokter sungguhan masih sangat diperlukan di situasi-situasi semacam ini.

Oleh karenanya, seorang pegiat AI, David Talby, pernah menyampaikan dalam sebuah tulisannya,

“AI tidak akan menggantikan dokter, namun AI akan secara drastis mengubah pekerjaan dokter.”

Setidaknya hingga saat ini, peran AI di dunia medis masih dibatasi sebagai pendukung keputusan dokter, bukan sebagai pembuat keputusan utama. Mungkin akan terjadi. Mungkin AI akan menjadi dokter sungguhan di masa depan. Tapi tidak dalam waktu dekat.