Air

Dan air tetap pada siklusnya hingga menguap, sama seperti perasaan gadis itu yang entah kapan akan berakhir.

Air
Photo by Erik Witsoe from Unsplash

Air baru saja terlempar dari awan abu-abu gelap. Suaranya nyaring ketika satu demi satu mulai berjatuhan di atap seng. Segera setelahnya, mereka meluncur, terserap ke tanah, tersangkut di dedaunan, menggenang di lantai, atau memercik di atas sebuah payung seorang gadis muda.

Air mulai menunggu. Hujan deras perlahan menyisakan gerimis. Gelayutannya di sudut atap payung gadis itu masih bertahan untuk sekian detik. Dengan satu gerakan kecil dari si gadis, air mulai tergoyah, dan akhirnya jatuh, lalu mengikuti jejak air yang lain, menggenang dan terserap di tanah.

Gadis itu menghentikan langkahnya, mulai memerhatikan sepasang anak di lapangan sekolah. Sebuah pohon oak yang cukup besar dan lebat cukup memayungi keduanya. Meskipun sesekali, gadis itu dapat melihat air yang memercik ataupun lolos dari ranting-ranting pohon hingga mencapai rambut dan pakaian kedua pemuda itu.

Tak lama memerhatikan, gadis bertubuh mungil itu berlari kecil ke arah keduanya. Tahu kalau kehadirannya tidak akan digubris semudah itu, maka dengan sebuah teriakan keras, gadis itu lantas memecah suara hujan, hingga kedua pemuda di sana beralih pandang padanya.

"Nadia! Ngapain, sih!"

Salah satu bocah yang berambut gelap balas berteriak. Dana. Dana Rianto. Begitu nama yang keluar dari mulut gadis muda tadi. Nama itu disebutkannya dengan lantang, penuh penekanan di setiap sudut katanya.

Lalu beberapa lembar kertas yang digulung mendarat persis di kepala pemuda bernama Rianto itu. Ah, bocah lain di sebelahnya dapat melihat rambut gelap Dana yang basah memercikkan air setelahnya.

"Besok Aldo harus kembali ke Samarinda. Kok malah diajak hujan-hujanan? Kalau dia sakit bagaimana!" Nadia kembali memasang pandangan tajamnya. Setiap pertanyaan yang ia maksudkan kembali berakhir sebagai pernyataan seruan.

"Ah, Nadia. Ini bukan salah Dana, kok." Pemuda lain dengan rambut sedikit pirang mencoba menenangkan. "Aku sengaja mengajak Dana kemari, karena ingin mengenang masa kecil kami sebelum kembali ke Samarinda."

Seperangkat papan catur yang tergeletak di bawah pohon cukup menjelaskan itu. Lagi-lagi ini tentang catur. Kedua makhluk laki-laki itu tidak pernah menunjukkan ketertarikan pada hal lain selain pada bidak-bidak statis yang harus mereka gerakkan dengan penuh strategi untuk mematikan langkah lawan.

"Setidaknya baca suasana, dong! Aldo, perjalanan besok cukup panjang. Pikirkan juga kesehatanmu."

Dana memicing. Dia heran. Tidak biasanya gadis yang sering dijulukinya pendek itu sangat memerhatikan Aldo. Mungkin benar, Aldo, Dana, dan Nadia adalah teman baik sejak kecil. Tapi mengingat karakter Nadia yang biasanya, ini tentu berlebihan. Meski wanita, namun di antara mereka bertiga, Nadia adalah yang paling lelaki. Nadia yang biasanya memang hobi marah-marah pada keduanya, karena itu Dana heran dengan sikap Nadia yang mendadak menjadi manis.

Perhatian Nadia itu... tampaknya menyimpan sesuatu. Kiranya begitu yang dipikirkan Dana.

"Eh, Nad." Dana Rianto kemudian mendekatkan wajahnya pada Nadia. Ah, air yang tadinya bergelayut di ujung payung Nadia, sekarang sampai terjatuh di punggung pemuda itu—saking dekatnya jarak mereka. "Kamu tidak sedang naksir Aldo, kan?"

Dan, oh, untuk yang kesekian kalinya, seorang Rianto dapat merasakan tinju spesial dari atlet karate sekelas Nadia. Meski bertubuh mungil, Nadia pernah menyabet gelar juara karate sewaktu SMA. Cukup sudah untuk membuktikan sebaris kalimat, “Don’t judge a book by the cover.”

"Terserah!"

Dengan cepat, Nadia meraih tangan Aldo dan menyeretnya paksa, meninggalkan Dana yang kini meringis atas tinju indah barusan.

Air sudah tidak terlalu banyak yang merintik dari langit. Nadia bahkan sampai menyampingkan payungnya. Sekarang yang terdengar hanya percikan air dari tanah becek yang dijejaki mereka. Air-air cokelat itu kini mendarat manja di sepatu kedua remaja yang masih menyusuri jalan sepanjang sekolah.

Satu dua titik air dari langit menghantam lembut wajah keduanya. Nadia yang tidak memedulikan itu tetap menyeret Aldo dengan paksa. Aldo dapat melihat kediamannya yang baru saja mereka lewati. Tampaknya, Nadia sudah meralat pemikirannya yang tadi—yang menyuruh Aldo kembali ke rumah untuk beristirahat sebelum kembali ke Samarinda esok hari.

Dan benar saja. Keduanya kini berhenti di salah satu taman di ujung perumahan. Dengan kesal, Nadia segera menjatuhkan dirinya di salah satu bangku yang masih basah akibat hujan. Air-air di sana kini terserap oleh celana panjang gadis yang lekat dengan ikatan tunggal pada surai cokelatnya itu. Aldo yang mahfum dengan bahasa tubuh itu turut mendudukkan diri di sebelah gadis berparas manis tersebut. Agaknya, dengan posisi demikian, mereka terlihat seperti sepasang kekasih di bawah rintikan hujan.

"Dana bego!" Nadia mengacak-acak rambutnya. Ikatan di sana kini tampak berantakan.

Dengan sigap, pemuda yang lekat dengan senyum ramahnya itu meraih pergelangan tangan Nadia. "Jadi, bagaimana? Kamu yakin?"

Ketertarikannya pada catur tidak serta merta menjadikan Aldo pandai membaca perasaan wanita. Demi Tuhan, Aldo. Seharusnya dia menenangkan Nadia dahulu, bukan memunculkan permasalahan yang baru.

Tapi tampaknya, Nadia memang bukan seorang gadis seperti kebanyakan gadis lainnya. Dihantam satu pertanyaan—bukan—dihantam satu masalah begitu justru membuatnya yang tadinya menggila karena sebal, kini terdiam tanpa gerakan yang berarti. Nadia sedang berpikir.

Cara Aldo memandangi Nadia sekarang lebih terkesan seperti tengah menuntut jawaban dari pemilik iris cokelat di sebelahnya.

Air yang lain kini jatuh sebagai air mata seorang gadis muda. Ya. Nadia menangis. Bukan diniatkan sejak awal. Hanya saja, air mata itu tiba-tiba meleleh mengiringi akhir dari suara hujan. Pemuda di sebelahnya segera menyodorkan selembar sapu tangan yang akhirnya segera ditolak oleh Sang Gadis.

"Kamu enggak apa-apa?" Aldo kembali memecah kesunyian itu. Bagaimanapun, siapapun yang melihat, pasti akan menduga kalau dirinyalah penyebab Nadia menangis.

"Aldo... aku takut."

Suara lemah Nadia mencapai pendengaran Aldo yang masih mengkhawatirkan gadis di sebelahnya. Kata takut barusan, entah bagaimana menggerakkan tangan Aldo untuk merangkul gadis mungil itu.

"Enggak apa. Kamu bisa pikirkan lagi."

Sengukan pelan Nadia meruntuhkan kesan gadis kuat yang dimilikinya. Tapi dia tetap tidak peduli. Benar. Menumpahkan sesuatu yang memenuhi ruang hatinya saat itu lebih penting baginya.

"Enggak, Do. Aku sudah tidak punya pilihan. Kalau terlalu lama berpikir, Bapak pasti akan berubah pikiran." Nadia mengusap air matanya. "Lagi pula, aku yang sekarang bukan siapa-siapa untuk Dana. Dia juga masih tergila-gila sama seniornya di kampus." Kini sengukan Nadia berganti seringai kecut.

"Haaaaah..." Kali ini Aldo meluruskan kakinya dan mulai melemaskan badan. Air sudah berhenti turun dari langit. Dari caranya melipat tangan di belakang kepalanya, tampaknya menunjukkan kalau Aldo sedang menganggap ini sebuah mimpi di siang hari. "Nadia yang kutahu tidak akan menyerah semudah itu." Dia melanjutkan.

Entah Nadia harus merasa tersanjung atas pujian barusan, atau justru merasa tersinggung karena sahabatnya terlalu melebih-lebihkan. Yang pasti, gadis itu kini sudah berdiri tegak menantang langit yang sedang mengusir awan abu-abu gelap tadi.

"Selama ini, aku cuma jalan di tempat, Do. Memaksa Bapak untuk kuliah, padahal enggak ada biaya. Biar pun tahu begitu, ku bela-belain bertahan demi seorang cowok yang malah naksir orang lain. Aku bodoh, ya?"

Nadia memamerkan senyuman tipisnya pada awan keabuan yang perlahan bergerak menjauh dan memberikan celah bagi mentari. Benar, ia masih ragu pada keputusannya saat ini. Tapi ada alasan yang kuat juga untuknya tetap melanjutkan pilihan.

Aldo kali ini tidak berkata banyak. Ia tahu, jikalau keputusan Nadia sudah bulat, tak ada yang bisa mematahkannya. Nadia akan ikut Aldo ke Samarinda.

Semenjak lulus SMA, Aldo sudah ikut pamannya merantau dan bekerja ke Samarinda, sedangkan Dana dan Nadia memilih untuk melanjutkan ke Perguruan Tinggi di Semarang, kota kelahiran mereka. Namun karena masalah ekonomi, Nadia kini memutuskan untuk berhenti kuliah dan mulai mencari uang. Beruntung lah ada sahabatnya, Aldo, yang menawarkan pekerjaan padanya.

Gadis hitam manis itu kini merentangkan kedua tangannya, seolah ingin membiarkan dinginnya udara menyesap di sekujur pori-porinya. 

"Lagipula, daripada mikirin Dana yang enggak peka, bukankah lebih baik kalau aku mencari pemuda lain?" Wajah lembut Nadia kini menoleh ke arah Aldo yang masih menatapnya bingung. Goresan keyakinan di kedua bola mata cokelat Si Gadis agaknya membuat Aldo sedikit awas. "Umm... Mencoba jatuh cinta ke Aldo, misalnya. Ahahahaha..."

Aldo bergegas bangkit dari bangkunya, kemudian menempatkan kedua telapak tangannya pada masing-masing pipi Sang Gadis. Dengan sedikit memaksa, dia mulai menekan kedua tangannya, seolah ingin menyatukan kedua telapak itu.

"Bodoh. Kamu kira gampang bikin aku jatuh cinta?"

Nadia hampir saja menghajar pemuda berwajah pucat itu, sampai suara lain yang dikenalnya mematahkan niatannya.

"Katanya Aldo harus pulang, istirahat, besok berangkat. Eh ternyata maksudnya ini."

"Dana!"

Kedua insan yang nyaris diduga sepasang kekasih itu lekas menyerukan kata yang sama pada sosok pemuda lain yang kini berdiri angkuh dengan tatapan penuh keingintahuan.

"Eh, bukannya begitu..."

"Ya sudah, lah. Maaf ya, mengganggu. Lanjutkan lagi, aku pulang duluan."

Baru saja Dana melambaikan tangan dan berbalik arah hendak pulang, pemuda lain dengan kemeja birunya segera menangkap tangan yang lain dari pemuda berkulit cokelat muda di sana. Dana—nama pemuda yang dicegat barusan—kini telah berbalik beradu tatap dengan sepasang iris hitam jernih di belakangnya.

"Nadia." Aldo kembali memecah keheningan sekian detik barusan. "Bukannya kamu mau bicara sesuatu ke Dana?"

"Hah?"

Sungguh. Apa yang diminta Aldo barusan belum terpikir di kepala Nadia. Bahkan selama perbincangan singkat mereka tadi, tidak ada perjanjian seperti itu. Ah, lagi-lagi, pemuda berdarah Jawa-Sumatera itu memutuskan semuanya sendirian. Nadia seharusnya tidak lupa kalau Aldo adalah yang tercerdas di antara mereka bertiga.

Gadis manis itu masih mencerna permintaan tersebut. Bukan. Gadis dengan daya ingat super seperti dirinya bukannya tidak mengerti arti dari sesuatu yang dibahasakan Aldo barusan. Justru karena mengerti, Nadia jadi kelimpungan begitu. Dia hanya tidak tahu bagaimana cara menyampaikan permintaan Aldo tersebut kepada Dana.

Di sela itu, Dana dengan mudahnya melepaskan rematan Aldo di pergelangannya. "Kalau cuma mau ngumumin hubungan kalian, itu sudah terlambat. Aku sudah lihat semuanya, kok."

Dan Nadia merasa seperti tersengat seketika itu juga.

"Aku akan meninggalkan Semarang mulai besok!"

Ah, akhirnya kalimat yang menyesakkan itu keluar juga. Aldo tahu, Nadia sangat berjuang untuk melontarkan kalimat itu pada seorang yang dicintainya. Wajah Nadia yang perlahan memerah karena emosi sudah cukup membahasakan itu.

"Maaf, aku baru ngomong sekarang. Aku enggak punya pilihan. Kalau kuberitahu sejak dulu, aku pasti semakin galau." Nadia mulai menutupi wajahnya dengan satu telapak tangannya, sementara telapak tangan yang lain sibuk dirematnya dengan kuat.

"Ini soal apaan sih, Nad? Jangan bikin bingung, dong! Aku ada salah sama kamu? Oke, aku minta maaf! Jangan kayak gini dong, Nad!"

Aldo menggapai pundak kanan Dana, sembari menggeleng sebagai isyarat untuk tidak melanjutkan kalimatnya. Sementara Dana tentu saja masih menuntut penjelasan. Kedua alisnya yang dipertemukan, serta dadanya yang kembang kempis tidak beraturan, seolah meneriakkan ketidakrelaannya atas sesuatu yang masih menjadi tanda tanya besar baginya.

"Aku enggak bisa lanjut kuliah, Dan." Nadia kembali membuka pembicaraan yang sempat terputus sekian detik lamanya. Tampaknya kini, gadis tomboy itu sudah dapat mengatur pikirannya. "Aku akan ikut Aldo kerja di Samarinda. Aku enggak mau menjadi beban buat bapakku. Adik-adikku juga masih sekolah."

Dana mendesis pelan. Ia tidak bisa berkata apapun. Sungguh hatinya ingin sekali melarang Nadia pergi, namun ia sadar, dirinya saat ini tidak bisa berbuat banyak untuk menahan Nadia tetap di sana.

Aldo kembali menepuk pundak pemuda lain di sebelahnya. "Sudah jelas, kan?" Aldo tampaknya lelah juga dengan kebungkaman sedari tadi. Kini langkahnya mantap menuju Nadia, kemudian merangkulnya dengan lembut. "Kalau kamu enggak gerak cepat, jangan salahkan aku kalau di Samarinda nanti kami menjalin hubungan serius."

Dana mulai menampakkan ketidaksukaannya. Jangankan merangkul Nadia seperti itu, menyentuhnya sedikit saja, Dana pasti sudah dihujani pukulan. Agaknya, dia merasa iri sebagai teman masa kecil Nadia. Atau mungkin, iri sebagai seorang laki-laki.

"Maaf ya, Dana." Nadia berusaha menarik sudut-sudut bibirnya untuk menyunggingkan sebuah senyuman. "Aku pasti akan sering ngasih kabar."

Manis. Itu yang terbersit di benak Dana ketika melihat Nadia menyunggingkan senyum langkanya. Wajah lembutnya yang terbingkai sinar matahari dari barat sana, terlihat lebih dan lebih manis lagi.

Dengan perlahan, Aldo mulai menuntun Nadia keluar dari taman kota—mengantarkan gadis itu pulang. Tentu saja untuk bersiap sebelum keberangkatan esok hari. Tapi ketika langkah mereka mulai mendekati Dana, Nadia berhenti dan meraih pergelangan tangan kanan cinta pertamanya itu.

"Da-na Ri-an-to."

Penegasan di setiap suku kata dari namanya itu tidak mengubah posisi bungkam Dana. Ia kini masih mencoba mencari arti dari kalimat-kalimat Nadia sebelumnya. Dia berharap, mata gadis itu akan berteriak bahwa semua yang diucapkannya tadi adalah bohong.

"Ayo berjanji!" Nadia memulai intimidasi lembutnya. "Sebelum aku balik ke Semarang, jangan menjalin hubungan romantis dengan siapapun. Kamu harus lihat perubahanku dulu." Dan tiga jari Nadia segera menyentil dahi seorang Dana.

Pemuda itu tidak berkata apapun. Sentilan barusan seakan membuatnya semakin membisu di sore indah itu. Ah, atau mungkin, permintaan Nadia tadilah yang mengatupkan sumber suara tegasnya.

Dana kini hanya dapat menyaksikan punggung pakaian kedua temannya yang kian menjauh dari area pandangnya. Dia sangat ingin mengejar gadisnya, menghentikan rencana apapun itu untuk meninggalkannya. Tapi sesuatu tentang perubahan Nadia nanti menahan kakinya untuk diam di sana. Cukup diam dan menunggu. Ya. Sampai nanti, dia akan benar yakin bahwa yang dinantinya memang layak untuk dinanti.

Matahari kini sudah terlihat bulat di ujung barat sana. Nyaris tenggelam. Air pun mulai menguap dan kembali ke udara. Sama halnya dengan perasaan gadis muda itu yang juga sedang diuapkan agar nantinya dapat mengembun dan membasahi hati pemuda impiannya itu.

Semoga.