Apa Kamu Seorang Extroverted-Introvert?

Extroverted-introvert sering disalahpahami sebagai ekstrovert

Apa Kamu Seorang Extroverted-Introvert?
Photo by Pragyan Bezbaruah from Pexels

Dibanding ekstrovert, introvert memang sangat sering disalahpahami. Entah dikira sombong, asosial, pemalu, dan sebagainya. Padahal, sederet salah paham ini tidak bisa dikatakan 100% benar. Nah, ini baru introvert, belum kalau pemilik kepribadian yang spektrumnya tidak condong ke introvert maupun ekstrovert, alias ada di tengah-tengah keduanya.

Pemilik kepribadian ini biasa disebut extroverted-introvert. Namun, ada juga yang berpendapat bahwa kepribadian jenis ini sebenarnya masuk tipe kepribadian ketiga, yaitu ambivert.
Apapun itu, pemilik kepribadian extroverted-introvert ini memang sering disalahpahami, karena memang pemiliknya bisa tampak seperti keduanya.

Bahkan, bagi pemilik kepribadian ini sendiri, karakter mereka pun bikin bingung jika masih belum benar-benar memahami diri sendiri.

Memang, gunanya kita memahami tergolong kepribadian tipe yang mana adalah, untuk memudahkan kita dalam manajemen aktifitas dan re-charge energi sehari hari. 


Untuk pemilik kepibadian yang tidak benar-beanr condong ke dua kutub ekstrovert atau introvert, terkadang mereka juga dipanggil sebagai outgoing introvert atau social introvert. Jika kamu merasakan ciri di bawah ini mewakilimu, bisa jadi kamu adalah extroverted-introvert tersebut!

1. Kamu suka saat berkumpul bersama orang lain, tapi ada batas waktunya

Bagi para extroverted-introvert, salah satu penyebab mereka disalahpahami adalah karena sifat mereka yang suka bersosialisasi dan punya lively personality. Namun, kegemaran bersosialisasi ini sebenarnya tidak berarti seperti para ekstrovert tulen yang mendapatkan energi mereka dengan cara berkumpul dengan orang lain.

Saat-saat ketika para extroverted-introvert ini bersosialisasi sebenarnya bagaikan mode siang. Setelah beberapa lama mode siang, mereka akan memasuki mode malam di mana membutuhkan waktu sendirian untuk mengembalikan energi.

Jika ini tidak dilakukan, mereka akan mengalami introvert hangover. Seperti namanya sendiri, introvert hangover memiliki gejala fisik mirip orang mabuk. 

2. Suka berkenalan dengan teman baru tapi hanya dekat dengan orang tertentu

Karena sedikit berkecenderungan terhadap tipe kerpibadian ekstrovert, para extroverted-introvert juga menyukai menambah kenalan baru. Mereka lebih suka membangun koneksi dibandingkan introvert tulen.

Namun, meskipun kelihatannya suka membangun banyak pertemanan, tidak banyak orang yang akan dimasukkan para extroverted-introvert ini ke dalam lingkaran mereka. Tetap saja, di sini kecenderungan kepribadian introvert berperan dalam menyaring orang-orang terdekat. Artinya,  si extroverted-introvert lebih memilih quality over quantity. 

Kepribadian extroverted-introvert

3. Bisa datang ke pesta dan menikmati keramaian, tapi tetap dalam dunianya sendiri

Para pemilik kepribadian introvert yang lebih kental, cenderung lebih menyukai tempat yang tenang di mana tidak banyak orang dan tidak akan ada yang memperhatikan mereka.

Sebaliknya, si extroverted-introvert tidak masalah dengan datang ke pesta dan dikelilingi banyak orang. Namun, jangan dikira mereka akan suka jadi pusat perhatian. Dalam pesta tersebut, ia akan hidup di dunianya sendiri, alias memiliki kesibukan sendiri di kepalanya. 

4. Menyukai diskusi dan jadi pendengar yang sangat baik, tapi tetap ingin pendapatnya juga didengarkan

Dalam sebuah diskusi yang diikuti oleh beberapa orang, si extroverted-introvert akan benar-benar terlihat bahwa ia berdiri di kedua kutub. Seorang extroverted-introvert akan menjadi pendengar dan memperhatikan setiap orang yang ada dalam diskusi tersebut.

Bisa jadi selain mendengarkan, ia juga akan menganalisa tiap orang dan bagaimana jalannya situasi diskusi tersebut. Tapi, jangan kaget kalau tiba-tiba si pemilik kepribadian ini akan mengangkat tangannya dan berbicara. Bagaimanapun, kutub ekstrovertnya juga menghendaki ia untuk didengar orang lain. 

5. Ingin orang lain mengenali kemampuannya tapi tidak nyaman jika jadi pusat perhatian

Ambigu dan membingungkan memang, tapi begitulah adanya. Para extroverted-introvert menginginkan agar kemampuannya dikenal oleh orang lain, tapi mendapat perhatian atau mendapat pandangan semua mata selama beberapa waktu akan membuat mereka tidak nyaman.

Di sini memang terlihat sekali bahwa dua kutub ekstrovert dan introvert sama-sama punya kebutuhan sendiri. 

6.Suka didekat orang lain tapi membenci basa-basi

Semua orang juga paham betul kalau para introvert adalah orang-orang yang tidak suka basa-basi, walaupun mereka sebenarnya bisa melakukannya. Hal ini mungkin disebabkan karena energi untuk bersosialisasi yang lebih rendah dari para ekstrovert, sehingga mereka menyimpan energi untuk membiacarakan hal-hal yang memang menarik bagi mereka.

Nah, kalau para extroverted-introvert, benar kalau mereka memang tidak menyukai basa-basi atau small talk. Tapi, bukan berarti juga mereka tidak suka di dekat orang lain. Dengan membicarakan hal-hal yang lebih dalam, para extroverted-introvert ini akan menjadi pendengar sekaligus pembicara yang sangat baik. 

Kepribadian extroverted-introvert

7. Sebagian teman membuat bersemangat, sedangkan sebagian lagi tidak

Sebenarnya semua dari kita memang pasti lebih menyukai pertamanan satu dibanding yang lainnya. Tapi, khususnya bagi si extroverted-introvert, pertemanan yang membuat mereka bisa bersikap sangat rileks dan nyaman, akan menaikkan energi mereka. Sebaliknya, teman-teman yang kurang menyenangkan b hanya akan menguras energi mereka.

Ini mungkin ada juga kaitannya dengan topik pembicaraan yang dilakukan dalam lingkar pertemanan satu dan yang lain. Pertemanan yang membicarakan hal-hal mendalam dan tidak banyak basa-basi akan lebih menyenangkan bagi mereka daripada lingkar pertemanan yang superfisial dan penuh basa-basi. 

8. Meski tampak outgoing, sebenarnya kepalamu sedang dalam mode reflektif

Hidup di dua dunia berbeda adalah bagaimana para extroverted-introvert hidup. Di luar, nampaknya orang-orang ini adalah sosok yang sangat penuh karisma dan energi. Tapi, dalam kepala mereka, para extroverted-introvert juga melakukan pekerjaannya sendiri.

Selain fokus pada sosialisasi, mereka juga akan melakukan berbagai analisis dan penalaran dalam kepala mereka. Jadi, tidak ada yang benar-benar tahu bahwa yang para extroverted-introvert juga sedang berlari di kepala mereka ketika tampilan luarnya mereka menjadi semacam happy virus bagi orang lain. 


Pastinya, si extroverted-introvert ini akan sering disalahpahami. Gara-gara sifat sociable mereka, para extroverted-introvert akan dikira sebagai ekstrovert sepenuhnya. Namun, ketika mereka membutuhkan waktu untuk sendiri dan tidak ingin berbicara tentang apapun, mereka bisa dianggap tidak sopan atau moody

Maka dari itu, kita tidak bisa melihat kepribadian sebagai hitam putih. Alangkah lebih baik kalau melihatnya sebagai sebuah spektrum. Sehingga, ketika menemui orang-orang dengan kepribadian extroverted-introvert, kita bisa lebih berempati dan memahami kapan mereka butuh waktu untuk mengembalikan energi.