Bagaimana Mendapat Lebih Banyak dengan the Power of Doing Nothing

Di tengah materialisme, ketiadaan adalah modal paling berharga

Bagaimana Mendapat Lebih Banyak dengan the Power of Doing Nothing
Photo by Sage Friedman from Unsplash

You got so much to prove
Hopin they approve
The only thing that's true is all you ever do is do
You're movin shoe to shoe
But you're not goin
You stop growin
The moment that you stay at the top
The only way is to drop

Epik High, Over, 2010

Paragraf di atas adalah sebuah penggalan dari lagu Epik High yang berjudul Over. Lagu ini bisa dikatakan menceritakan tentang sikap kontemplatif terhadap pandangan masyarakat yang mengukur manusia dengan ukuran materialisme.

Pandangan masyarakat yang seperti ini mengantarkan kita untuk melihat 'worth' atau nilai seseorang berdasarkan apa yang ia punya. Baik itu titel, tempat bekerja, aset, latar belakang, atau apapun yang sifatnya bernilai materi.

Sikap pandang materialisme pada akhirnya akan mengantarkan banyak orang untuk mendefinisikan kesuksesan dan kegagalan berdasarkan jumlah materi yang telah didapatkan. 

Mark Manson dalam Seni Bersikap Bodo Amat, sedikit menyinggung tentang hal ini. Ia menegaskan bahwa menggunakan ukuran materi akan membuat seseorang amburadul dalam menentukan nilai-nilai kehidupan yang lainnya.

Benar juga, ide 'kolonial' yang masih lestari ini dulunya termanifestasi dalam anggapan bahwa banyak anak banyak rezeki, dan berubah dinamis negatif di masa sekarang. Kalau dulu rupa pandangan materialisme bisa dirupakan demikian, sekarang beda lagi. Dan kamu yang sudah berusia 20 atau 30 hingga 40an pasti sudah merasakannya.

Dibanding menanyakan kesehatanmu, orang lebih tertarik menanyakan jurusan, almamater, titel, tempat kerja, hingga kamu sudah punya apa. Kalau kamu sudah merasa bahwa pandangan ini bikin frustasi, artinya kamu juga tidak perlu mengikuti pandangan kolonial seperti ini lagi. Sungguh memalukan kalau visual dan gayamu milenial tapi mindset masih kolonial. 

Sejak waktu yang sangat lama, kultur kita memang masih dibesarkan dengan mindset untuk menjadi seorang overachiever, untuk menjadi sosok sempurna, dan untuk selalu sibuk. Padahal, tanpa goler-goleran di bawah pohon, Newton tidak akan menemukan teori gravitasi.

Karena terlalu lama dibesarkan dalam kultur yang harus sibuk, kita jadi lupa bahwa para pencetus teori atau penemu, dan seniman legendaris memuja aktifitas nggak ngapa-ngapain. Di masyarakat kekinian, bisa kamu temukan definisi nggak ngapa-ngapain di sosial media, yaitu dengan rebahan dan mondar-mandir di sosial media.

Tapi bukan itu yang dimaksud dengan power of doing nothing. Yang dimaksud doing nothing di sini adalah tidak menambah asupan otak melalui sumber eksternal. Artinya, kamu menjalani aktifitas nothingness, tidak melakukan apa-apa, untuk re-connect, menghubungkan ulang kamu dengan dirimu.

Dan beberapa poin ini harusnya bisa membuatmu bertekad untuk tidak ngapa-ngapain.

Doing nothing akan membuatmu lebih tidak terburu-buru

Meditasi dan tidak terburu-buru

Ketika terbiasa menjejali hari-harimu dengan jadwal yang hampir tidak ada jedanya, kamu akan mulai tidak terbiasa ketika tidak ada hal yang harus dilakukan. Jangan salah, ini bukan artinya kamu terbiasa untuk produktif. Produktif dan hanya sibuk adalah dua hal berbeda.

Ketika kamu tidak bisa menikmati waktu luang dan ketiadaan, artinya malah kamu yang tidak cukup nyaman dengan dirimu sendiri. Ketika kamu cukup nyaman dengan diri sendiri, kamu harusnya tidak perlu risau ketika tidak harus menyelesaikan apapun di hari tersebut.

Dan jika kamu nyaman dengan diri sendiri, harusnya kamu bisa menikmati keadaan apapun walau sedang sendirian dan tidak ada yang dikerjakan. 

Jika kamu merasa tidak nyaman dengan keadaan seperti ini, inilah saatnya untuk belajar seni doing nothing. Dan untuk memaksimalkan agar kamu terbiasa, kamu perlu menerapkan gaya hidup ini setiap hari.

Tenang, ada cara simpel melakukannya, yaitu dengan meditasi. Meditasi tidak bertujuan untuk menolak segala pikiran yang datang, tapi membiarkannya datang dan pergi dengan sendirinya. Seni memusatkan pikiran pada kegiatan dan momen yang ada ini membuatmu menjadi orang yang lebih tidak grusa-grusu, atau tidak terburu-buru. 

Efeknya bukan cuma pada ritmemu mengerjakan sesuatu, tapi juga bagaimana kamu bereaksi terhadap sesuatu dan mengambil keputusan. Melalui pengalaman pribadi saya, meditasi setiap hari tidak lebih dari 3-10 menit membuat kita tumbuh menjadi orang yang lebih kontemplatif. 

Untuk hubungan dengan sesama manusia, meditasi menjadikan kita tidak tergesa-gesa menaruh label atas sikap orang lain. Selain itu, ketika dihadapkan dengan situasi yang membuat cemas atau stres, meditasi melatih kita untuk tidak reaktif secara negatif. 

Namun, meditasi bukan cara satu-satunya, kamu juga bisa sesimpel berbaring atau duduk untuk merenung. Tapi tunggu dulu, perenungan ini tidak bertujuan untuk semakin memperparah rasa cemasmu. Perenungan ini tujuannya adalah untuk mengenali diri sendiri.

Kamu pasti sering mendengar cerita seseorang yang menghabiskan banyak waktunya untuk hidup terlampau intens, hingga intensitas tersebut mengambil hidup mereka sendiri. Bukan cuma kesehatan yang diambil, terlalu banyak memusatkan pikiran pada hal lain selain diri sendiri akan membuatmu kehilangan diri sendiri. Seperti lanjutan dari lagu di atas, 

You are an overachiever
Do what it takes till it takes everything you are
You are an overachiever
Do what it takes till it takes everything you are

Kegiatan kontemplatif  sangat bermanfaat untuk mengenali dirimu sendiri, dan akan berguna ketika kamu dihadapkan pada situasi untuk memutuskan sesuatu. Karena itulah jika kamu memiliki agenda-agenda besar dalam hidupmu seperti menikah, memiliki anak, pindah karir, doing nothing akan membantumu mengenali apa yang kamu butuhkan.

Kita bisa saja menduga rombongan orang-orang yang ngebet segera 'halal' dengan pasangannya ini tidak melewati agenda doing nothing dan sibuk mendengarkan narasi-narasi orang lain. Sebelum membuat langkah-langkah besar seperti itu, perenungan adalah sebuah urgensi, yang tidak lain juga untuk mengurangi resiko kekecewaan di kemudian hari.

Doing nothing adalah mind decluttering

Membuang pikiran negatif

Sebelum kamu memutuskan untuk tidak ngapa-ngapain, ingat lagi bahwa doing nothing ini tidak untuk menambah dilema dan keresahan, tapi justru untuk mind decluttering. Membuang sampah-sampah di pikiranmu.

Malah, dalam tujuan yang lebih radikal, doing nothing bertujuan untuk sama-sekali tidak memikirkan apapun. Tapi mungkin itu sangat sulit atau bahkan tidak mungkin, karena kita naturalnya akan memikirkan sesuatu walau lambat-lambat.

Namun, ada kabar baik bagi kamu yang merupakan buruh ide. Meski kesannya doing nothing ini membuang banyak isi pikiran, tapi justru karena itulah kamu akan banjir ide. Ketika banyak orang mengira bahwa untuk menumbuhkan inspirasi seseorang harus terus-terusan mencari sumber referensi, itu tidak sepenuhnya benar.

Kamu memamg perlu mengambil ilmu dari sejumlah referensi atau karya orang lain, tapi kamu juga tidak boleh melupakan waktu untuk melakukan kegiatan nothingness. Dengan begitu, ide-ide akan mengalir dengan sendirinya. Intinya, doing nothing adalah cara paling santai untuk membuat dirimu mengeluarkan ide. 


Kita yang sudah terbiasa sibuk pasti kesulitan melakukan hal ini, tapi ingat kembali bahwa kita juga butuh untuk tidak melakukan apapun. Doing nothing, perenungan, meditasi akan membawamu kembali menggali pada akar, terhubung dengan realitas, dan menghubungkan koneksi dengan dirimu yang sempat terputus.

Dan tidak hanya itu, doing nothing akan mengajarimu untuk bersikap stillness atau hadir dan belajar gaya hidup slow living. 

“Tension is who you think you should be. Relaxation is who you are.”

Chinese Proverb

Di kultur yang selalu menyuruh orang terburu-buru ini, bukankah lebih enak sembunyi sejenak dan berpikir apa gunanya terburu-buru?