Bagaimana Menjadi Berani untuk Tidak Disukai

We're the devils in some persons' story.

Bagaimana Menjadi Berani untuk Tidak Disukai
Photo by Daniel Reche from Pexels

Buku dari Ichiro Kishimi dan Fumitake Koga yang berjudul The Courage to be Disliked menginspirasi saya untuk membuat tulisan ini. Sebenarnya saya belum membaca buku itu, tapi judulnya memuat dorongan yang cukup besar untuk menulis.

Selain itu, ditambah beberapa pengalaman yang mungkin tidak hanya saya rasakan, tapi juga kamu semua, saya bermaksud menggambar benang merahnya untuk menawarkan beberapa solusi. 

Oke, jangankan berpenampilan berbeda, berpikir berbeda seringkali menimbulkan ketakutan pada diri kita sendiri, benar bukan? Bukan hanya takut jika pemikiran kita tidak diterima, tapi juga takut pada pemikiran itu sendiri, yang sebenarnya didorong oleh perasaan ragu.

Terlepas dari ancaman sosial seperti hinaan, risak di media sosial, atau bahkan ancaman terjerat undang-undang ITE dan sebagainya, kita sebenarnya juga merasa terancam dengan berbagai asumsi kita sendiri. Hal itu tidak bisa disalahkan dan bahkan wajar saja bukan?

Seberani-beraninya seseorang, pasti dia tetap memikirkan satu-dua kemungkinan buruk dari pendapat atau sikap berbeda yang diperlihatkannya. Mungkin salah satu hal yang membuat kita ragu untuk menjadi berbeda adalah, alam bawah sadar kita tahu bahwa self-esteem akan terancam jika kita terluka.

Intinya, kita takut bila mungkin terluka karena dilukai orang lain, dalam apapun bentuknya. Oleh karena itu, yang kita butuhkan di sini adalah keberanian, bukan keberanian untuk menjadi berbeda saja, tapi juga keberanian untuk tidak membiarkan self-esteem kita jatuh karena imbas yang diterima.

Tenang saja, ada beberapa trik agar kamu bisa survive menjadi prang yang berbeda, ini di antaranya.

1. Menempatkan individualitas dan kolektifitas di wadah yang benar

Individu dan komunitas

Kita semua tahu bahwa kita hidup di masyarakat yang super kolektif. Sayangnya, kita juga perlu mengakui bahwa tidak semua sikap kolektif masyarakat berada di wadah yang benar dan menghasilkan konstruk sosial yang selalu baik.

Kamu juga sebenarnya tidak perlu mengikuti pandangan kolektif yang tidak pas bagi hidupmu. Karena siapa yang diuntungkan dan dirugikan di sini? Tentu saja hanya kita sendiri yang menanggung.

Bukankah mengikuti sikap atau pandangan kolektif yang tidak pas bagi hidup kita justru membuat kerugian dobel? Kita mengkhianati diri sendiri serta harus menanggung akibatnya sendiri. Untuk menguatkan dirimu, kamu harus berlatih memiliki pemikiran yang mandiri, dengan apa?

Dengan membedakan mana hal yang harus disikapi berdasarkan prinsip individu dan mana yang harus disikapi berdasarkan prinsip kolektif. Membedakan dua hal tersebut sebenarnya cukup mudah. Kamu hanya perlu memisahkan mana yang menyangkut kepentingan individu dan mana yang menyangkut kepentingan komunitas. 

2. Siapkan argumen dengan dasar yang kuat

Dasar yang kuat dalam berargumen

Apa yang membuat orang lain kuat meskipun ia berdiri sendiri? Percaya diri tidak selalu datang bersamaan, bahkan tidak semua orang memiliki banyak porsi kepercayaan diri. Salah satu hal yang mensupport seseorang untuk mampu menjadi berbeda adalah pengetahuan. Pengetahuan apa yang benar-benar ia butuhkan, dan pengetahuan atau dasar dari pendapatnya.

Ketika kamu mengutarakan suatu pendapat, orang lain akan sulit menerima jika tidak ada dasar ilmiah atau fakta yang benar-benar mendukung. Bahkan dengan adanya kedua hal tersebut, orang tidak selalu mampu menerima. Tapi setidaknya, memiliki dasar ide atau teori yang kuat untuk tindakanmu akan membangun kepercayaan diri yang lebih baik. 

3. Ketika kamu tidak berpihak pada diri sendiri, tanyakan apa kamu tidak menyesalinya kemudian?

Menjadi diri sendiri

Mana yang lebih menghancurkan self esteem-mu, menjadi berbeda atau tidak mampu menjadi diri sendiri? Rasa bersalah tidak selalu terhadap orang lain, tapi juga terhadap diri sendiri. Ingatkan dirimu kembali bahwa berpihak pada diri sendiri adalah bagian dari mencintai diri sendiri.

Salah satu alasan kenapa kamu harus berpihak pada diri sendiri adalah, menghindari rasa penyesalan akibat kamu tidak mampu memahami diri sendiri. Ketidak-pahaman terhadap diri sendiri tidak dapat dipungkiri, bisa membuat frustasi. Oleh karena itu, jangan selalu menuruti apa yang distandarkan oleh sekitarmu atau masyarakat. 

4. Ingatlah bahwa kamu bukan kesalahan 

Menghargai diri sendiri

Ketika kamu memutuskan untuk menuruti pendapatmu yang berbeda dari orang lain, hal itu memang berkemungkinan menghadirkan berbagai kontra negatif. Patut kita akui pula bahwa hal tersebut cukup menyakitkan.

Namun, apapun komentar buruk orang lain, perlu lebih ditekankan lagi bahwa beragam komentar negatif tidak serta merta menyimpulkan bahwa kamu adalah sebuah kesalahan. Kamu juga harus memahami konsep self-efficacy, self-confidence, dan self-esteem. Komentar orang lain sama sekali tidak bisa mendeskripsikan kualitas diri kita.

Sesekali kita memang perlu mendengarkan komentar membangun, tapi untuk komentar yang sifatnya hanya memperburuk self-worth, kamu cukup katakan goodbye!

5. Kita tidak bisa mengharapkan semua orang menyukai kita

Disukai dan tidak disukai

Ada sebuah pepatah bahwa,

We're the devils in some persons' story

Kita adalah iblis di cerita beberapa orang. Tidak ada satu orang pun yang bisa mengharapkan untuk disukai semua orang, semua orang pun begitu. Seperti yang dikatakan oleh Mark Manson pada Seni untuk Bersikap Bodo Amat, orang yang selalu mengharapkan keharmonisan adalah orang yang egois.

Dalam beberapa relasi kita dengan orang lain di dunia ini, tidak mungkin semuanya berjalan manis. Karena selain faktanya hal tersebut tidak mungkin, dalam hidup kita memang membutuhkan pro-kontra agar tercipta lebih dari satu perspektif yang mampu menampung berbagai kebutuhan unik manusia.


Semua orang tidak akan pernah selalu bisa menyenangkan orang lain, dan jangan pernah mencoba demikian jika kamu tidak ingin kesehatan mentalmu terganggu. Ketika kamu menjadi seorang yes-man, kamu tidak akan punya waktu untuk memahami diri sendiri, dan tentunya itu menyulitkan kita yang hingga akhir hayat ini masih terus menerus mencari jati diri.

Satu hal lagi yang perlu kamu ingat mengapa menjadi berbeda itu tidak seburuk yang kamu kira. Kamu tidak perlu memenuhi segala ekspektasi orang lain, yang ketika misalnya kamu gagal memenuhinya, bisa jadi kamu akan kecewa pada diri sendiri dan merasa tidak berharga. Pada intinya, mengambil sikap untuk menjadi berbeda adalah bagian dari mencintai diri sendiri.