Begini Cara Sehat Bermedia Sosial

Scrolling beranda medsos sering bikin kamu baper? Yuk, selamatkan mental kamu.

Begini Cara Sehat Bermedia Sosial
Photo by NordWood Themes from Unsplash

Siapa sih yang gak punya media sosial?

Media sosial tentu sepopuler itu, baik di antara kawula muda hingga lanjut usia. Mulai dari Facebook, Instagram, Twitter, hingga Line. Jujur saja deh, kamu pasti pernah punya minimal satu di antaranya.

Media sosial saat ini sudah jadi kebutuhan. Ketika bangun tidur, kamu mungkin akan segera mengecek jejak notifikasi di layar ponsel. Sebelum tidur di malam hari pun sama. Kamu mungkin termasuk di antara yang rutin stalking Instagram gebetan demi untuk bisa tidur nyenyak dan mimpi indah.

Dikutip dari Databoks, pengguna media sosial di Indonesia mencapai 150 juta jiwa atau sebesar 56% dari total populasi. Jumlah ini akan terus mengalami peningkatan mengingat banyak manfaat positif yang bisa didapatkan para pengguna, seperti sosialisi dan bertukar informasi.

Namun tahukah kamu, di balik rentetan manfaat yang ditawarkan media sosial, serangkaian dampak psikologi pun turut mengintai. Sebuah tesis dari University of Central Florida memaparkan pengaruh media sosial terhadap depresi, narsisme, dan gangguan kecemasan.

Wah, kalau kata-kata; depresi, narsisme, atau gangguan kecemasan terdengar lebay buat kamu, mari menyederhanakan saja bahwa pada hakikatnya, media sosial juga besar pengaruhnya terhadap kesehatan mental.

Nah, loh.

Jangan tunggu hingga kesehatan mental kamu menurun secara drastis! Jika tanda-tanda berikut sudah mulai mengusik hari-hari kamu, tidak ada salahnya untuk kamu mulai lebih serius meregulasi penggunaan media sosial.

Yuk, cek tanda-tanda di bawah ini:

  • Tidak bisa membuat keputusan secara bebas,
  • Kebiasaan membanding-bandingkan,
  • Cemas dengan komentar maya,
  • Cemburu sosial, hingga
  • Kualitas mood sehari-hari yang dipengaruhi oleh jumlah like di media sosial yang bahkan kamu sesungguhnya tidak memiliki kuasa apapun atasnya.

Selamatkan mental kamu dari segala bentuk baper yang kadang merusuh tanpa diundang. Begini cara untuk tetap menjaga mental kamu agar tetap sehat selama bermedia sosial:

1. Batasi penggunaan media sosial

Coba tanyakan pada dirimu sendiri, dalam sehari, berapa lama waktu yang kamu habiskan untuk bermedia sosial? Jika kamu termasuk tipe pengguna full time, kamu mungkin tidak mengenal batas waktu berselancar sosial di dunia maya.

Mulai saat ini, belajarlah untuk membatasi akses terhadap media sosial kamu. Sebuah studi menunjukkan pembatasan waktu dalam penggunaan media sosial hingga 30 menit per hari dapat membantu untuk memperbaiki kesehatan mental yang memburuk akibat media sosial.

Batasi penggunaan media sosial kamu sedikit demi sedikit. Kamu bisa menyesuaikan lama penggunaannya dengan keperluan dan kebutuhan kamu pribadi.

Perbanyaklah melakukan aktivitas lain. Daripada rutin sekadar scrolling dan mengecek update terbaru dari si dia, jadilah lebih sibuk dengan aktivitas offline, misalnya dengan mengajak si dia nongkrong di taman kota.

Selain bisa membatasi penggunaan media sosial kamu, peluang untuk kamu dan si dia jadi lebih dari teman juga bisa melesat, loh.

2. Pilih teman atau siapa yang diikuti

Jika teman-teman maya kamu memegang andil cukup besar terhadap mood kamu di hari itu, jangan jadikan alasan "kenal di offline" atau "masih keluarga" sebagai kriteria mutlak bagi kamu dalam menjadikan akun lain sebagai teman di media sosial.

Pilihlah hanya berteman maya dengan orang-orang tertentu yang memiliki kesamaan interest dengan kamu. Atau pilihlah untuk tidak berteman maya dengan pihak-pihak yang kamu curigai akan membuat kamu baper di kemudian hari.

Misalnya dengan tidak menjadikan guru, dosen, atau bahkan atasan kantor, sebagai teman di media sosial kalau kamu merasa tidak akan dapat secara leluasa berekspresi melalui story atau status terbaru kamu nantinya.

Akun media sosial itu masih milik kamu, kan. Bertindaklah sebagai pemegang kuasa sungguhan atasnya.

3. Manfaatkan fitur mute, unfollow, delete, atau block

Jika kamu sudah terlanjur berteman atau mem-follow beberapa akun yang ternyata toxic, jangan segan untuk memanfaatkan fitur mute, unfollow, delete, atau bahkan fitur block. Pihak pengembang tentu menciptakan fitur-fitur tersebut agar dapat digunakan secara bijaksana.

Mungkin kamu kerap merasa risih atas status teman maya kamu yang kerap merujuk kepada hal-hal berbau hoax. Atau kamu mungkin tidak merasa nyaman dengan teman maya kamu yang hobi memamerkan prestasinya.

"Persoalan generasi media sosial adalah kesulitan menahan diri untuk tidak pamer atas semua hal yang dia dapatkan."

- Boy Candra

Risih dengan segala yang teman-teman maya kamu bagikan di media sosial, bukan berarti risih pada pribadi mereka secara offline, ya. Jika kamu bermaksud menghapus pertemanan di media sosial, itu semata karena kamu menyayangi mental kamu. Jadi pastikan juga kalau hubungan offline kalian tidak terpengaruh.

4. Pilih sumber informasi

Sesuaikan beranda media sosial kamu dengan hal-hal yang kamu punya ketertarikan padanya, khususnya pada akun-akun yang menyajikan informasi.

Khusus untuk akun official atau penyedia informasi, pilihlah yang benar-benar menarik minat kamu, misalnya seperti akun-akun tentang hobi atau apapun yang sedang kamu gemari.

Kalau berita tentang otomotif tidak menarik minat kamu, jangan ikuti akun otomotif. Kalau akun gosip sering membuat kamu gerah, jangan tekan tombol follow. Begitu juga kalau akun-akun politik kerap membuat kamu geregetan, hindari mengklik postingan apapun terkait itu.

Media sosial sekarang sudah cukup cerdas untuk kemudian menyarankan konten-konten yang memiliki keterkaitan dengan konten lain yang kamu pernah berinteraksi terhadapnya. Oleh karenanya, kamu harus selalu aware dengan yang kamu perbuat di media sosial atau internet, meski hanya satu kali klik.

5. Selalu ada opsi tutup akun

Jika kamu telah sampai pada fase dimana kamu mulai muak dengan segala bentuk postingan yang muncul di beranda media sosial kamu, saatnya mempertimbangkan untuk menutup akun.

Kalau kamu hanya hendak rihat sementara waktu, sekadar uninstall aplikasinya juga tak apa, kok. Atau kamu juga bisa memilih fitur tutup akun sementara waktu yang sudah tersedia di media sosial tertentu.

Kalau kamu tertarik untuk mulai membiasakan diri agar tak fanatik dengan media sosial, jadikan opsi tutup akun sementara waktu ini sebagai cara paksa yang melatih kamu untuk pelan-pelan menjauh dari segala bentuk candu yang mungkin kurang berfaedah seperti Fear of Missing Out (FOMO).


Akun media sosial itu adalah milik kamu. Kamu pastinya lebih tahu sejauh mana sih, isi di dalamnya mengusik ketenangan pribadi kamu. Akun itu adalah milik kamu, maka kamu memiliki hak penuh untuk mengelola lalu-lintas di dalamnya.

Selamatkan mental kamu. Yuk, cerdas bermedia sosial.