Benarkah dalam Beragama Kita Bisa Mencapai Final?

Ketika beragama semakin didefinisikan secara simbolis, mampukah kita menantang diri untuk menjadi lebih 'cair'?

Benarkah dalam Beragama Kita Bisa Mencapai Final?
Photo by Josh Boot from Unsplash


Salah satu hal yang mungkin selamanya tidak akan pernah benar-benar dimengerti manusia adalah agama. Bahkan menulis sebuah artikel yang membahas tentang agama pun sebenarnya cukup menantang.

Oleh karena itu, di sini tidak akan ada ayat, dalil, atau semacamnya karena saya pun bukan ahlinya. Lebih baik saya membahasnya dengan keresahan yang lebih faktual yang mudah ditemukan sehari-hari.

Salah satu keresahan yang paling mudah ditemukan adalah, rasa percaya diri yang amat tinggi pada diri seseorang ketika ia memaksakan pemahamannya pada orang lain. Jangankan perdebatan dengan sesama agama lain, yang masih seagama pun juga sangat sering berselisih paham, atau debat kusir soal mana yang paling benar.

Memang sih, manusia tidak dapat dilepaskan dari bias subjektif. Tapi, benarkah kita harus memaksakan suatu paham, ketika sementara bahasa Tuhan saja sangatlah tinggi dan sulit dimengerti?

Untuk mengkaji sebuah kitab, tidak hanya dibutuhkan seorang ahli agama saja. Melainkan juga ahli grammatikal, linguistik, sejarah, sosiologi-antropologi, dan mungkin juga yang lainnya. Sebenarnya agak meragukan ketika kita membaca sebuah tafsir kitab manapun tanpa benar-benar membaca kajian yang disupport oleh ilmu-ilmu tadi.

Apakah bisa kita mengatakan pendapat kita yang paling absolut dan final sementara satu sebab bisa memiliki banyak penafsiran?

Takutnya sih, kalau kita terlalu ngegas dan memaksakan orang lain menerima pendapat kita, kita jadi violating hak orang lain. Bukankah setiap manusia diciptakan unik, bukan hanya secara visual dan karakternya saja, tapi sekaligus situasional hidupnya?

Beragama dengan berdaulat

Pemahaman dalam beragama

Salah satu kasus nyata yang menjadi sumber inspirasi tulisan ini adalah, ada sebuah pengalaman di mana seorang sepupu dipaksa oleh ibunya untuk berkerudung.

Mari kita tidak memperdebatkan hukum berkerudung itu sendiri, karena faktanya para ulama juga memiliki pendapat yang berbeda seputar hal ini. 

Kembali ke kejadian tadi, beragama di Indonesia dalam mayoritas kasus memiliki arti bahwa kamu tidak bisa jauh-jauh dari tradisi beragama dalam keluarga. Meskipun sebetulnya, semua orang juga tahu kalau beragama dan menjalin hubungan dengan Tuhan adalah kedaulatan masing-masing.

Seringkali, dengan adanya pemaksaan pendapat atau bahkan pemaksaan melakukan sebuah ritual, romantisme hubungan kita dengan Tuhan jadi ternodai. 

Jika kita menjadi makhluk beragama yang terus dituntut oleh kultur kanan-kiri, mampukah kita keluar dari zona nyaman untuk melihat khazanah kebertuhanan yang lebih luas?

Analoginya begini, jika kamu dijodohkan sejak remaja dengan orang tertentu dan tidak boleh mengenal yang lain, tidakkah itu menutup kesempatanmu untuk mengenali apakah orang tersebut benar-benar yang terbaik bagi kita? 

Masalahnya, hidup ini serba tidak terduga. Mungkin saja orang tua mendidik kita untuk hidup beragama secara tradisi mereka dengan tujuan agar kita selalu dalam zona aman, dalam artian saleh, menurut yang mereka idealkan. Tapi, hidup ini terlalu sering menghadirkan situasi yang mengkonfrontasi apa yang kita percaya.

Membentuk kesalehan seseorang dengan beragama seperti ini sama halnya menjaga domba dalam pagar. Tapi, kita tidak menyiapkan jika barangkali ia tersesat dari rombongan saat digembalakan atau bahkan ada serigala yang menyelinap ke dalam peternakan. 

Jika kita masih meyakini bahwa ilmu memperkokoh seseorang, harusnya tidak ada orang yang takut ketika ada anggota keluarganya yang mengeksplorasi perspektif dalam beragama. Bukankah agama memang memperkokoh? Semakin banyak yang didapat harusnya makin kuat dong?

Apakah dengan melakukan ritual-ritual maka kita beragama secara utuh?

Hijrah dan tren dalam beragama

Membicarakan hal ini, kita tidak bisa melepaskan dari fenomena hijrah. Sah-sah saja sebetulnya ketika seseorang berpikir untuk meng-upgrade kualitas keagamaannya dengan mengikuti tren ini.

Hanya saja, terkesan dangkal dan instan ketika dimaknai bahwa dengan mengenakan atribut tertentu, maka seseorang sudah beragama secara 'utuh'. Karena proses dalam beragama dan mengenali Tuhan tidak akan berakhir hingga kita mati. 

Namun, kultur kita mungkin sulit atau bahkan tidak bisa merubah definisi-definisi beragama secara simbolis yang mengesankan bahwa seseorang akan final atau utuh menjadi umat tertentu jika telah melakukan suatu hukum yang mereka percayai. 

Bagaimana misalkan dengan orang-orang yang tidak mampu secara finansial untuk mengenakan atribut atau menjalani ritual tertentu? Terlepas dari adanya hukum keringanan, apakah itu berarti mereka tidak akan pernah beragama secara utuh atau malah tidak bisa meninggikan kualitas keagamaannya?

Mengukur kadar keimanan berdasarkan pelaksanaan ritual semata agaknya bukan hak kita, karena tak seorang pun mengetahui seberapa sering orang lain mengingat Tuhan dalam batinnya. Lagipula, manifestasi dalam beragama akan terlihat sangat ceroboh ketika segalanya hanya diukur secara ritual.

Tidakkah Tuhan mengajarkan banyak banyak sifat kebaikan dan bahkan mewariskannya dalam diri kita, agar kita juga menjadi makhluk yang bekemanusiaan dan bermanfaat bagi segala yang ada di bumi?

Beragama secara dinamis

Mengeksplorasi pengetahuan beragama

Terkadang ketika seseorang memiliki pendapat atau pendirian beragama yang berbeda dari sebelumnya, ia disalah-pahami sebagai plin-plan. Padahal, boleh jadi orang tersebut sudah menggali lebih dalam dan mencari berbagai sumber ilmu hingga akhirnya membentuk pemahamannya yang baru.

Bagi orang yang kurang bisa menerima perbedaan, hal ini bisa diangap sebagai menjauh dari Tuhan, padahal orang yang dianggap demikian justru telah dan sedang berusaha semakin dekat dengan Tuhan. 

Keberagamaan kita sepertinya memang tidak akan pernah sempurna. Dan mungkin itu yang memang Tuhan kehendaki. Dengan cara inilah kita semakin dekat dengannya tanpa menjauh dari bumi tempat kita berdiri.

Ketika kita melihat apapun yang kita percayai sekarang sebagai sebuah final, maka akan sulit untuk bisa haus ilmu baru dan justru menjadi stagnan. Rasa penasaran untuk memahami Yang Maha Kuasa tidak akan besar, jika seseorang merasa bahwa persoalan A memiliki jawaban A saja.

Jangan-jangan Tuhan juga memang sengaja menyuruh kita selalu mengeksplor berbagai opsi jawaban agar kita selalu mendekatinya, bukan cuma untuk menemukan apa yang ideal untuk kita.


Kalau status final atau utuh saja tidak akan pernah bisa tercapai, lalu beranikah kita menyebut diri kita beriman ketika masih banyak yang perlu dipahami? Seperti halnya seorang murid, ia hanya bisa dengan senang hati menerima pelajaran ketika bersikap rendah hati.

Tanpa kerendah-hatian, kita tidak akan mampu bersikap terbuka dan menantang diri untuk menyelami berbagai sisi-sisi keagamaan yang belum kita jamah. Dan Tuhan memang menyuruh kita selalu rendah hati, agar kita selalu mencari dan berusaha mendengar sesuatu yang belum kita ketahui sebelumnya.

Termasuk juga berendah hati menghadapi perspektif lain yang sangat bertolak belakang dari yang kita percayai.