Benarkah Persaingan Kita Tidak Lagi dengan Sesama Manusia?

Bisakah kita menemukan keseimbangan dengan AI?

Benarkah Persaingan Kita Tidak Lagi dengan Sesama Manusia?
Photo by LJ from Pexels

Pada era berburu dan mengumpulkan makanan, persaingan manusia adalah dengan iklim dan kondisi alam, yang pada akhirnya pasti membuat mereka kalah karena mau tidak mau harus beradaptasi, dengan cara menghafal karakter suatu tempat, tumbuhan, dan hewan-hewan yang biasanya mereka konsumsi.

Ketika memasuki era Revolusi Pertanian, beratnya persaingan menjadi meningkat drastis, karena manusia harus bersaing dengan sesamanya untuk memperebutkan lahan pertanian. Pada era-era dan revolusi yang berikutnya, apa atau siapa yang menjadi pesaing manusia juga semakin berubah. 

Dan yang sedang dirisaukan banyak orang saat ini, benarkah tidak lama lagi kesempatan kerja kita menjadi semakin berkurang akibat AI (Artificial Intelligence) semakin banyak digunakan dalam dunia industri dan perekonomian? Kalau iseng membayangkannya sih cukup ngeri ya.

Sekarang saja banyak yang mengeluhkan susahnya cari kerja. Kalau ditambah persaingan dengan teknologi semacam AI, tentu saja sebagian lapangan pekerjaan akan tergeser dari yang tadinya dijalankan manusia, jadi dijalankan oleh teknologi. 

Apakah manusia yang tergantung pada teknologi, atau teknologi bergantung pada manusia?

manusia bersaing dengan AI

Kalau melihat kecemasan orang-orang, sepertinya hal ini berangkat dari pengamatan mereka yang melihat bahwa pemilik modal mulai banyak yang menjadi tergantung pada teknologi. Tapi benarkah memang kita yang tergantung pada teknologi?

Bukankah manusia juga yang menciptakannya? Sulit bukan menjawab pertanyaan seperti ini? Mirip banget sama kalau kamu ditanya, "Duluan mana, ayam atau telur?". Pasalnya, sulitnya menjawab pertanyaan ini adalah karena manusia sudah sangat lama berkelindan satu sama lain dengan teknologi. Untuk menelusuri lewat kronologisnya pastilah sangat sulit.

Namun, meski nampaknya manusia sangat bergantung dengan teknologi, jangan lupa juga bahwa teknologi tetap menjadi objek yang dikenai pekerjaan sebelum ia dapat secara otomatis menjalani fungsinya.

Sebelum seseorang membuatnya berfungsi, ia hanyalah sebuah mesin yang diam. Tapi ini juga bukan berarti teknologi bergantung pada manusia untuk berfungsi, karena mereka pun tidak memiliki inisiatif natural untuk berfungsi.

Yang jelas, ketika teknologi sedikit demi sedikit membuat kita terpinggir dari sebagian peran kita, tidak lain ini adalah boomerang dari aksi manusia sendiri di masa lalu. 

Kenapa AI bisa jadi primadona kelas pekerja yang berikutnya?

 

manusia bersaing dengan AI

Pemilik modal manapun pastilah menginginkan efisiensi. Seorang Executive Vice President dari King’s College, Brian Brenberg pernah menjawab pertanyaan di atas.

AI adalah pekerja yang sangat diidamkan karena ia bisa bekerja lebih dari 8 jam sehari, tidak membutuhkan cuti, dan tidak akan meminta kompensasi pegawai. AI menjadi karyawan yang sempurna karena ia bisa memberikan apa yang para pengusaha inginkan, yaitu banyak hasil sedikit modal. 

Sebenarnya memang sudah cukup banyak ahli yang memprediksi akan adanya perubahan dan timbulnya masalah ketenagakerjaan.

Karena faktanya sudah ada beberapa kasus pengurangan tenaga kerja di beberapa kantor karena posisi tertentu ditempati oleh AI. Main PHK tentu bukan sesuatu yang terlihat bijak, dan sayangnya untuk mengatasi pergeseran semacam ini juga bukan hal yang mudah. 

Namun, tentunya ini bukan serta merta alasan sempurna untuk mempekerjakan AI sebanyak-banyaknya. Tetap saja ada area-area yang tidak akan pernah bisa disentuh dengan AI.

Masih menurut Brenberg, AI tidak akan pernah bisa menarik jiwa manusia lain.

Banyak sekali area di kehidupan kita yang membutuhkan sentuhan rasa atau jiwa manusia, misalnya hiburan dan karya seni. Produk-produk seni tidak dapat diciptakan dari fungsi AI, karena bagaimanapun karya seni membutuhkan sensitifitas dan rasa agar ia bisa terwujud sebagai sebuah karya seni.

Sebaliknya, AI dan teknologi membutuhkan algoritma, artinya mereka bersifat sangat diatur dan runut. Berbeda dengan produk hasil kepekaan manusia yang abstrak dan otentik. 

Bersaing dengan algoritma semakin membuat kita tidak berkuasa

manusia bersaing dengan AI

Baratunde Thurston, salah satu pendiri Cultivated Wit, mengatakan bahwa pada 2030, kehidupan kita tidak akan lebih baik dikarenakan AI. Kita tidak bisa lebih berdaulat. Kita tidak memilih sarapan kita, karena algoritma yang akan membuat pilihan untuk kita.

Pendapat Thurston tidak bisa serta merta kita anggap sebagai sebuah ancaman, tapi sangat patut dipertimbangkan sebagai sebuah estimasi.

Saat ini saja, algoritmalah yang mengarahkanmu membeli sesuatu, menginap di mana, dan dalam kasus parah, pemimpin mana yang kamu percayai (padahal tidak semua pemimpin yang menguasai algoritma adalah pemimpin yang negarawan).

Algoritma memang memudahkanmu, apalagi saat kamu perlu menemukan suatu tempat yang baru. Tapi, apa kamu pernah berpikir bahwa sebelum algoritma lebih berkuasa seperti ini, kita punya daulat lebih banyak untuk memilih karena kita sendiri yang melibatkan diri ke dalamnya secara langsung.

Dan apakah terbesit juga padamu kalau kita bisa semakin kehilangan insting akibat terlalu banyak hal yang tidak dengan susah payah kita merabanya, namun karena dipilihkan secara langsung dengan cuma-cuma? 

Salah satu novel Paulo Coelho yang berjudul Sang Alkemis memiliki sebuah penggalan kalimat yang mengatakan bahwa domba Santiago kehilangan instingnya untuk mencari makan sendiri karena mereka sudah terbiasa disiapkan dan diatur segala kebutuhannya oleh si pemilik.

Analogi dan pendapat dari Thurston ini sebaiknya kita jadikan pertimbangan betul dalam memanfaatkan teknologi, kalau kita masih mau hidup secara sadar dan berdaulat sebagai manusia. 


Teknologi memang sesuatu yang terasa manis. Tapi menyandarkan terlalu banyak hal padanya juga bukan sesuatu yang bagus. Kita perlu berhati-hati, karena teknologi memiliki bias. Ini bukan karena mereka sendiri yang menginginkannya, tapi karena ada pihak yang menginginkannya.

Bias ini memang tidak selalu berkonotasi dan berdampak buruk pada kita, tapi tetap berpotensi ancaman akan hal-hal yang buruk.

Bagaimana menurutmu? Apakah teknologi atau si AI ini sudah terasa nampak sebagai saingan kelas berat di depan mata?