Beneran Pengin Punya Anak? Memang Kalian Seberapa Siap?

Jangan baperan buat bilang 'Siap jadi orang tua anak-anakmu' dong!

Beneran Pengin Punya Anak? Memang Kalian Seberapa Siap?
Photo by Emma Bauso from Pexels

Teruntuk para boys and girls yang pengin nikah dan punya anak, tolong ya, mikirnya harus panjangan dikit. Karena, di negara kita, pernikahan dan punya anak lebih sering dianggap sepaket, padahal tidak.

Kalau kalian ingin menapaki fase baru dalam kehidupan, silahkan banget, tapi please pikirkan lagi tujuan kalian apa dan kesiapan kalian sudah seberapa besar. Terutama soal punya momongan. 

Beberapa hari lalu, adik saya cerita kalau ada temannya semasa SD yang baru 19 tahun bikin caption 'Aku siap jadi ibu untuk anak-anakmu', sambil memajang foto sama tunangannya. Begini ya, dalam situasi hangat-hangatnya awal pertunangan atau baru dilamar, seseorang bisa saja mengatakan siap untuk jadi ayah atau ibu.

Padahal, sebetulnya ia tidak pernah benar-benar bertanya pada diri sendiri, apakah sudah siap punya anak atau belum. Begitu kan, dimabuk cinta?

Sebelum mengalami mabuk cinta, lebih baik dari sekarang kalian atau siapapun bertanya dulu sama diri sendiri, 'apa tujuan saya punya anak?', 'mengapa saya ingin punya anak?', 'sudah siap atau belum saya punya anak?'.

Siap atau tidaknya kamu, sama sekali tidak bisa diukur dengan tekad doang. Tekad bisa luntur seiring waktu. Harus ada pondasi yang bisa memberimu rasa aman agar tekad terus berjalan. 

Pondasi macam apa? 

Privilege untuk punya anak

Privilese yang nantinya bisa kamu berikan pada anakmu

Kalau kamu mau anakmu nanti masa depannya cemerlang, privilese itu wajib! Kamu harus sadar kalau negara kita bukan negara sosialis, jadi akses tidak didapatkan secara merata. Untuk mendapat akses otomatis harus punya modal.

Memiliki anak bisa kamu analogikan seperti ketika dulu Britania sedang gencar membangun imperium. Mereka menginvestasikan modal pada para saintis.

Seperti diceritakan dalam buku Sapiens, pemerintah dan pengusaha memberikan modal pada para saintis untuk tidak hanya mengembangkan teknologi, tapi juga riset kebudayaan, mengeksplorasi wilayah, dan sebagainya.

Hasilnya sudah jadi sejarah, imperium Britania sempat menjadi penguasa hampir seluruh dunia, hingga bahasanya menjadi bahasa utama internasional.

Berapa modal yang bisa kamu berikan untuk anakmu, ya itu yang akan anakmu nikmati nanti. Terdengar agak kasar memang, tapi realita. 

Privilege untuk punya anak

Contohnya seperti ini, ada dua anak SMP, satu kelas, dan sama-sama pandai. Sebut saja mereka sebagai Putra dan Anastasia. Putra memiliki latar belakang keluarga di bawah privilese, keluarganya defisit. Sedangkan Anastasia, tergolong keluarga privilese atas. Di sekolah, yang mereka dapatkan memang sama, tapi bagaimanapun pondasi terkuat datang dari rumah.

Berhubung orang tua Anastasia kaya, fokus dalam hidupnya hanyalah sekolah. Uang saku tidak perlu khawatir, fasilitas belajar di rumah lebih maju; mulai dari laptop/komputer, internet, bimbel penunjang akademik dan non-akademik, nutrisi di rumah tercukupi, lingkungan bersih, dan akses mobilisasi mudah.

Bandingkan dengan posisi Putra. Di rumah ia tidak punya komputer atau laptop, uang saku dihemat untuk kebutuhannya yang lain, bimbel tidak ikut sama sekali, lingkungan jelas bukan privilese, mobilisasi juga terbatas. 

Dalam hidup Anastasia, ia tidak banyak menemui masalah. Sedangkan dalam kehidupan Putra, lemahnya finansial sangat berpengaruh, karena anak kecil sangat peka dan tanggap akan kesenjangan ekonomi .

Pikiran Putra terpecah menjadi beberapa bagian, mulai dari tantangan di sekolah, finansial di rumah, bahkan kelelahan fisik dan kurangnya nutrisi. Semua hal ini berpengaruh terhadap kondisi mentalnya.

Jika dibandingkan, jelas, yang performa psikologisnya lebih baik akan lebih unggul. 
Orang tua yang memberi anaknya segepok privilese, akan lebih memberikan rasa aman pada anaknya, yang otomatis akan mempengaruhi kondisi psikologis mereka sampai dewasa.

Ketika dewasa, bahkan anak tanpa privilese akan cenderung memilih profesi yang aman meski keuntungannya didapat dengan lambat, misalnya PNS. Ini karena mereka terbiasa tidak memiliki rasa aman.

Berbeda dengan anak privilese yang tumbuh dengan rasa aman dan orang tuanya siap menampung ketika gagal, ia punya kesempatan melihat peluang profesi yang cepat menguntungkan, contohnya bisnis. Gagal pun, ia tidak takut, karena keluarganya selalu bisa menopang kembali. 

Ini memang contoh general, ada kasus tertentu di mana seseorang bisa unggul dengan privilese lemah, tapi kecenderungannya sangat kecil.

Kasus yang tidak umum seperti itu peluangnya sangat rendah sehingga tidak bisa dijadikan pedoman, apalagi dalam situasi sekarang yang persaingan hidupnya lebih sulit. 

Privilege untuk punya anak

Jangan gagal paham, untuk bisa mendapat kesuksesan sama tinggi, bukan soal kerja kerasnya yang ditambah, tapi privilesenya harus disetarakan lebih dulu. Seperti misalnya ketika ada dua siswa yang akan mengikuti lomba.

Si A punya media dan pelatih untuk membiasakan diri sebelum lomba, sedangkan si B hanya memiliki media yang dipinjam dari orang lain dan ia berlatih sendiri, tentu kemungkinan menang akan lebih memihak si A. Adanya media membuat ia lebih punya banyak kesempatan untuk berlatih kapan saja. Dan adanya pelatih membantunya mengatur strategi, ia bisa belajar dari pengalaman kemenangan orang lain.

Kalau belum percaya, baca hasil penelitian SMERU Institute tentang bagaimana anak dari keluarga miskin cenderung tetap miskin dan tidak setara dengan teman kayanya, bahkan setelah puluhan tahun berselang. 

Selain itu, kamu mungkin tidak sadar kalau lingkungan yang kotor, terutama dengan kualitas udara yang buruk akan berpengaruh terhadap kesehatan mentalnya. Penelitian yang dilakukan oleh Naureen A. Ali dan Adeel Khoja membuktikannya.

Penelitian tersebut mengungkapkan bahwa pencemaran udara berdampak serius pada sistem neurokognitif, mulai secara perilaku hingga neurogeneratif, yang pastinya berefek serius pada kesehatan mental.

Jadi sudah bisa diduga kan, anak keluarga privilese yang lebih terlindung dari polusi akan punya kesehatan mental dan jasmani lebih sehat--serta mampu hidup secara lebih maksimal tentunya.

Yang lebih miris lagi dari semua ini, orang tua privilese memiliki lingkaran yang lebih maju dan memungkinkan mereka untuk memprediksi lebih dulu apa yang akan dibutuhkan oleh anak, dan berinisiatif menyediakannya demi menunjang hidup anaknya.

Orang tua tanpa privilese tidak memiliki lingkaran progresif seperti itu. Jangankan ada inisiatif, mereka mungkin bahkan tidak pernah bisa memprediksi kemungkinan-kemungkinan penunjang. 

Privilege untuk punya anak

Kalau mau punya anak, kamu juga harus mau mempelajari soal psikologi

Jangan bilang kalau uang bukanlah apa-apa. Nyatanya, kalau terhimpit situasi finansial, siapapun bisa mudah stres. Orang tua dengan keterbatasan tidak sempat memikirkan hal lain seperti belajar soal parenting, psikologi anak-anak dan keluarga, atau psikologi manusia pada umumnya. 

Sebetulnya malah, belajar soal parenting dan psikologi ini seharusnya dimulai sejak kalian berniat untuk menikah atau punya momongan. Mindset yang akan kamu tanamkan pada anakmu berasal dari situasi dan pandangan psikologismu juga. Kalau kamu hanya mempelajari sedikit tentang hal ini, kamu mungkin hanya akan melukai anakmu seiring dengan membesarkannya.

Dan nantinya, mindset dan kondisi psikologis yang tertanam pada anakmu juga sama parahnya--atau bahkan lebih parah darimu. Lagi-lagi itu akan berpengaruh pada performa kualitas hidupnya.

Lingkaran setan bukan?

Karena itulah, sebetulnya kamu harus melihat pada dirimu sendiri dulu sebelum menikah dan punya anak. Apakah ada sesuatu dalam dirimu yang terlebih dulu harus disembuhkan? Dan tidak lupa juga kamu harus mempelajari soal psikologi, karena kehidupan kita juga bergantung pada hal tersebut. 



Mungkin ada orang yang akan berargumen, 'kalau seperti ini ya tidak akan bisa menikah, padahal kan hasrat sulit dibendung!'.

Manusia kan punya kontrol diri, jangan senaif itu dalam mengambil keputusan besar. Membesarkan anak sama halnya dengan membangun peradaban baru. Tanpa adanya pematangan hanyalah sikap ceroboh dan meletakkan hidup orang lain pada resiko yang sangat tampak.

Sebelum punya anak, kamu harus tahu apa yang akan kamu hadapi. Terkesan ribet, memang. Tapi itulah satu-satunya cara yang bertanggung-jawab. Jangan sampai di masa tuamu nanti anakmu memprotes balik atas sikapmu yang gegabah dan kondisi yang tidak kokoh dalam membesarkan mereka.