Berdamai dengan Writer’s Block

Sudah mepet deadline, tapi tulisan belum ada yang rampung? Yuk, berdamai dengan writer's block.

Berdamai dengan Writer’s Block
Photo by Steve Johnson from Unsplash

Writer’s block kalau katanya Wikipedia adalah sebuah kondisi dimana seorang penulis berprogres dengan sangat lambat atau bahkan kehilangan kemampuan menulisnya.

Ini dapat terjadi pada hampir semua penulis, loh.

Sebagaimana namanya, writer’s block atau blok menulis ini menjadi momok bagi para penulis—terutama mereka yang bekerja di bidang tulis-menulis itu sendiri.

Bagaimana tidak? Wong, sudah mendapat kewajiban menulis ini dan itu, eh malah kesulitan menuangkannya dalam bentuk tulisan. Sudah pasti sangat mengganggu, kan?

Kondisi writer's block ini beragam gejalanya. Mulai dari; tidak ada ide sama sekali, khawatir berlebihan dengan komentar orang lain terhadap tulisan yang nanti dibuat, hingga tidak kunjung mulai menulis karena ingin agar ide yang akan dituliskan tersebut sempurna dulu bentuknya di dalam kepala.

Susan Reynolds, seorang penulis dari sebuah buku berjudul Fire Up Your Writing Brain: How to Use Proven Neuroscience to Become a More Creative, Productive, and Successful Writer, bahkan pernah mengemukakan lima alasan kenapa seseorang dapat dilanda gangguan menulis bernama writer’s block, di antaranya:

  • Kehilangan arah,
  • Kehilangan minat,
  • Berekspektasi terlalu tinggi,
  • Kelelahan, atau
  • Terlalu banyak distraksi.

Sebelum mengarah kepada kiat-kiat untuk dapat berdamai dengan writer’s block, tentunya lebih dulu memahami sebab dan alasannya adalah mutlak. Identifikasi sumber masalah ini penting, agar para penulis dapat lebih mudah menemukan penawarnya.

Kalau lagi terjebak dalam sama si writer's block nih, saya sendiri biasanya tidak menggunakan satu patokan solusi untuk bisa kembali produktif. Saya justru punya beberapa cara yang akan saya terapkan tergantung penyebab dari blok menulis itu sendiri.

Yang pasti bukan dengan melawan. Berdamai dengan writer's block menjadi pilihan saya, karena saya percaya bahwa selalu ada saatnya dimana menyisihkan sejenak kegiatan menulis itu juga diperlukan oleh mental.

1. Istirahat

Istirahat untuk mengembalikan daya pikir

Ketika menyadari bahwa blok menulis itu datang karena fisik dan mental yang sudah cukup lelah, tidak ada cara yang lebih baik untuk menanganinya dibandingkan istirahat yang cukup.

Apalagi jika menulis hanya sebatas keperluan sampingan. Setelah berlelah-lelah dengan pekerjaan utama, jangankan mau segera menggarap tulisan, pikiran tentu akan dipenuhi oleh hasrat untuk beristirahat.

Karena menulis sendiri adalah pekerjaan yang melibatkan pikiran, maka memaksakan pikiran yang lelah untuk tetap bekerja adalah cukup berat. Bukannya bisa menelurkan karya yang baik, malah akan menjadikannya tidak keruan.

Istirahat yang patut dicoba salah satunya adalah tidur. Sebagaimana katanya Dalai Lama,

“Tidur adalah meditasi yang terbaik.”

2. Having fun

Salah satu cara untuk bersenang-senang

Cara yang kedua ini selalu berhasil untuk saya.

Tidak peduli bagaimanapun menyenangkannya seni berkomunikasi melalui tulisan, ada kalanya hobi menulis juga membuat bosan.

Di saat-saat seperti ini—ketika ingatan untuk menulis saja sudah memunculkan keogahan yang luar biasa, saya akan memutuskan untuk menjauh sejenak.

Bersenang-senang akan menjadi pelarian yang tidak pernah buruk. Entah nonton film, main gim, jalan-jalan, atau sekadar berkumpul dan bercanda dengan anak-anak di kompleks.

Nikmati saja hidup ini.

Tidak mau dong, urusan tulis-menulis menjadi sebuah paksaan hanya karena mengenyampingkan kesenangan pribadi demi selesainya sebuah tulisan. Ini bisa berefek jangka panjang dan justru menjadikan seseorang hilang minat terhadap tulis-menulis.

Makanya, andai nanti rasa bosan itu datang, bersenang-senanglah sewajarnya. Selain mendapatkan keceriaan, tidak menutup kemungkinan kalau akan ada perspektif baru yang bisa memberikan ide tambahan untuk tulisan yang sedang dikerjakan.

Sewajarnya saja, ya. Akan gawat kalau poin kedua ini justru memunculkan distraksi yang bisa memperparah writer’s block.

3. Membuat draf

Draf akan membantu mengarahkan jalan menuju akhir tulisan

Draf atau konsep. Sebagaimana namanya, ini hanya sebuah rancangan kasar.

Meskipun begitu, sebuah draf akan sangat membantu dalam tulis-menulis. Draf ibaratnya adalah penuntun yang menjadikan sebuah ide tidak akan melebar kemana-mana ketika dijabarkan dalam bentuk tulisan.

Sebuah draf tidak harus sempurna. Tuliskan saja inti-inti atau pokok bahasan yang ingin dibahas di dalam tulisan. Meskipun terlihat remeh, namun memiliki sebuah draf akan menyingkirkan salah satu penyebab writer’s block, yakni kehilangan arah.

Tidak perlu takut tentang seberapa sederhananya sebuah draf. Tidak perlu pula memaksakan ekspektasi yang terlalu tinggi terhadap sebuah draf. Karena bagaimanapun bentuknya, dari sana lah tulisan-tulisan besar itu bermula.

“Percayalah bahwa tulisan yang baik bukanlah tulisan yang hanya dikerjakan sekali jalan, melainkan adalah tulisan yang membutuhkan revisi, revisi, dan revisi.”

Pokoknya, mulai saja dulu.

4. Menemukan posisi menulis ternyaman

Salah satu posisi nyaman saat menulis

Merasa nyaman saat menulis adalah sebuah kebutuhan.

Menulis lah di situasi dan kondisi yang paling nyaman. Entah lewat duduk, berbaring, di situasi tenang, atau bahkan sambil mendengarkan alunan musik tertentu. Temukan posisi ternyaman yang menjadikan kegiatan menulis ini tidak membebani.

Kalau menulis lewat laptop membuat penat, jangan ragu untuk menggunakan ponsel. Saya sendiri biasa menulis dan menyimpannya di media penyimpanan awan atau cloud storage. Ini demi memudahkan kalau ingin bergantian menulis lewat laptop dan ponsel.

Bagaimana, ya?

Habisnya, ada posisi-posisi nyaman tertentu yang tidak memungkinkan menulis menggunakan perangkat elektronik sebesar laptop. Jadilah ponsel pintar atau smartphone tak kalah sering saya gunakan sebagai alternatif untuk mendapatkan kenyamanan menulis.

Apapun posisi nyaman itu, jangan lupas untuk tetap mempertimbangkan faktor ergonomi, ya.

5. Mengeliminasi distraksi

Gim dapat menjadi salah satu sumber distraksi

Kalau cara di poin kedua justru memunculkan distraksi yang semakin memperparah writer’s block, jangan ragu untuk menghentikan segala kegiatan yang sekiranya menjadikan keinginan untuk menulis terkalahkan olehnya.

Bagaimanapun, bersenang-senang juga tidak boleh sampai mengabaikan kewajiban, kan? Ada batas-batas yang tentunya perlu diperhatikan.

Meskipun mengeliminasi distraksi juga perlu, namun membedakan antara kapan sesuatu itu hanyalah sebuah distraksi dan kapan ia bernilai kebutuhan adalah wajib.

Bersenang-senang sewajarnya pada poin kedua adalah contoh kebutuhan yang muncul untuk mengurangi rasa bosan dari menulis. Jika kebutuhan akan segera hilang jika ia lekas dipenuhi, maka distraksi akan tetap berada di sana sampai batas waktu yang tidak dapat ditentukan.


Setiap penulis mungkin membutuhkan cara yang berbeda-beda dalam menangani writer's block mereka. Cobalah berbagai macam cara, lalu temukan yang paling efektif di antaranya. Solusi dari pihak lain bukan sebuah penawar mutlak, melainkan hanya sebagai bahan pertimbangan.

Writer’s block adalah kondisi yang datang silih berganti. Cukup sulit untuk menyingkirkan penghalang yang satu ini, karena di waktu yang akan datang, writer's block akan muncul kembali tanpa diundang.

Saya pribadi memilih untuk berdamai dengan writer's block dan menjadikan mood untuk tidak menulis ini sebagai salah satu alarm bahwa ada kebutuhan lain yang sedang diidamkan oleh alam bawah sadar saya.

Karena tetap sehat secara mental adalah perlu, maka tidak ada salahnya berdamai dengan writer's block.