6 Alasan Mengapa Kamu Harus Berhenti Bersikap Toxic Positivity

Alih-alih membuat orang lain merasa lebih baik, toxic positivity justru bisa membuat orang lain menghindarimu!

6 Alasan Mengapa Kamu Harus Berhenti Bersikap Toxic Positivity
Photo by Adrian Swancar from Unsplash

Setiap orang pasti pernah dicurhati oleh seseorang. Mungkin hampir semua dari kita memiliki respon serupa seperti "sabar ya", "coba mikir positif aja", "ada orang yang nasibnya lebih buruk daripada kamu", dan sebagainya.

Tetapi, tidak semua orang bisa menerima hal ini di saat mereka merasa terpuruk. Malahan, kamu bisa menjadi orang yang sedang bersikap toxic positivity. Apa itu toxic positivity?

Toxic positivity adalah berbagai dorongan untuk bersikap positif tanpa terlebih dulu memvalidasi perasaan buruk yang dirasakan orang lain.

Terkadang kita memang niatnya tulus mau memotivasi tapi jatuhnya malah toxic, ironi banget ya? Karena itu, berhentilah bersikap toxic positivity karena ini dia alasannya.

1. Langsung Memberikan Nasihat Justru Memberikan Kesan Mengesampingkan Perasaan Yang Orang Lain Rasakan

Toxic Positivy

Daripada terburu-buru memberikan motivasi atau kata-kata positif, akan lebih baik jika kamu mendengarkan lebih dulu semua keluh kesahnya. Atau bisa juga justru menggali kenapa ia merasa demikian, dan mengajaknya menceritakan semua yang ia rasakan.

Selain itu, kamu bisa mengucapkan ekspresi seperti, "pasti yang kamu rasakan saat ini sungguh berat, aku mencoba memahaminya", "nggak apa-apa ceritakan semua uneg-unegmu", dan sebagainya. 

2. Kita Tidak Harus Bersikap Positif Setiap Waktu

Bersikap positif setiap waktu

Sayangnya, budaya kita masih mengiyakan bahwa pikiran dan perasaan positif adalah yang paling baik.

Padahal, baik itu perasaan positif atau negatif sama-sama valid dan berguna untuk pengembangan diri kita.

Ketika seseorang sedang merasa buruk, harusnya kita malah membiarkan dia mengeluarkan keluh-kesahnya. Asalkan ia meluapkan perasaan buruk dengan tetap terkontrol, sebenarnya ini semua tidak apa-apa.

3. Tidak Semua Orang Membutuhkan Nasihat Saat Curhat, Terkadang Mereka Hanya Butuh Pendengar

Tidak semua orang butuh curhat

Inilah yang dimaksud memvalidasi perasaan seseorang. Ketika seseorang sedang curhat, maka peran kita adalah sebagai pendengar. Maka, lakukan peran ini dengan baik.

Keberadaan pendengar dan ketulusan orang lain untuk memahami sebenarnya lebih dibutuhkan daripada sekedar mengatakan "sabar ya". Karena ketika seseorang merasa sedih, kata-kata tersebut terdengar tidak memiliki makna yang dalam.

4. Toxic Positivity Justru Bisa Membuat Orang Yang Sedang Bermasalah Menjadi Semakin Rendah Diri dan Merasa Bersalah

Membuat orang menjadi rendah diri

Nah, apalagi jika kamu bilangnya, "mungkin kamu perlu lebih rajin ibadah", "atau "harusnya kamu bersyukur masih diberikan cobaan seperti ini", atau juga "bersyukur aja nasibmu nggak sampai kayak si A". Wah, ini toxic banget!

Ini karena kesannya kamu menyalahkan si orang yang sedang tertimpa masalah karena nggak rajin ibadah, kurang bersyukur, dan sebagainya. Dalam kasus yang lebih rumit seperti depresi atau pengidap masalah kejiwaan, nasihat seperti ini bagaikan menyuruh orang yang sedang mengantuk untuk makan.

Karena masalah kejiwaan menyangkut dengan ketidakseimbangan senyawa dalam otak yang pastinya tidak bisa diselesaikan hanya dengan bantuan ibadah atau bersyukur. Masalah seperti ini melibatkan solusi yang lebih variatif termasuk support medis. 

5. Buru-Buru Memberikan Nasihat Toxic Positivity Akan Memberikan Kesan Tidak Tulus Mendengarkan

Kesan tidak tulus mendengarkan

Saat seseorang sedang curhat, yang harusnya kita lakukan adalah mengusahakan untuk berempati. Kemudian, kita juga harus menggunakan kepekaan saat menanggapi atau bertanya.

Sehingga, seseorang akan merasa bahwa kita benar-benar mendengarkan. Karena apa, alih-alih membuat orang lain merasa lebih baik, toxic positivity justru bisa membuat orang lain menghindarimu!


Intinya, toxic positivity memiliki dampak buruk karena hal tersebut memeberi kesan bahwa kita tidak benar-benar menganggap bahwa perasaan buruk yang dirasakan orang lain adalah valid. Mengesampingkan perasaan negatif dengan cara buru-buru mendorong untuk bersikap positif justru membuat berbagai perasaan buruk terakumulasi. 

Akumulasi perasaan negatif akan mencapai titik ledak pada masanya. Hal itu malah akan berdampak lebih buruk seperti penyakit psikosomatik atau malah berujung depresi. Hal ini karena perasaan negatif juga butuh saluran untuk dikeluarkan. Bagaimanapun perasan negatif tetap harus diakui dan diterima. 

Berhenti memberikan dorongan toxic positivity akan mencegah korban menyalahkan diri sendiri. Ini karena mereka tidak akan merasa gagal ketika tidak berhasil memakasakan diri untuk bersesuaian dengan imej positif yang diakui masyarakat, seperti selalu bersyukur, selalu positif, dan sebagainya.

Kita semua perlu mengakui bahwa menghilangkan perasaan negatif itu tidak mudah. Tapi mencoba menutupi atau malah menegasinya justru berimbas lebih buruk. Akui saja perasaan itu sambil menggalinya. Bagaimanapun sikap jujur terhadap perasaan memang lebih baik.