BTS yang Mendunia Adalah Bukti Bahwa Rasisme Itu Sia-sia

Dulu memang banyak yang memandang pop Korea masih kalah dengan pop barat. Tetapi sekarang, siapa yang tak mengetahui BTS, si raja baru musik dunia?

BTS yang Mendunia Adalah Bukti Bahwa Rasisme Itu Sia-sia
Photo by Hanny Naibaho from Unsplash

Batu bisa berlubang setalah lama tertetes air, kira-kira begitulah istilah tepat untuk gerilya Hallyu Wave atau gelombang Korea.

Bisa jadi seseorang awalnya memandang remeh musik asal Korea, hanya karena menganggap boyband kurang maskulin dan dibawakan pria-pria berwajah imut atau cenderung cantik. Apalagi, orang telah lama didominasi segala sesuatu yang berasal dari barat.

Tapi itu dulu...

Pemikiran maskulinitas rapuh dan mengunggulkan salah satu ras tidak bisa berlaku lagi untuk saat ini.

Buktinya? Apa masih ada orang disekitarmu yang tidak pernah dengar tentang BTS? Bahkan emak-bapak kamu juga pasti pernah dengar sekali dua kali.

Pada akhirnya, batu tadi akan berlubang, seperti itulah sekarang yang terjadi. Mungkin ada diantara kamu masih menganggap remeh musikalitas penyanyi Korea, tetapi apa kamu tahu, bahwa BTS bahkan sudah merebut hati khalayak Eropa yang tidak hanya perempuan, bahkan juga laki-laki?

Bulan lalu, BTS baru saja menggelar konser di Paris, London, Los Angeles, dan Chicago, bahkan Oktober mendatang mereka akan menggelar konser dengan 70.000 kursi di Saudi Arabia.

Lalu kenapa?

Ada sesuatu yang perlu kita sadari di sini, bahwa sesuatu yang berkaitan dengan rasa maupun perasaan bisa menembus setiap sekat. Seseorang bisa saja menganggap suatu ras lebih buruk dari yang lain, tetapi ketika ada sesuatu yang membuatnya sangat tertarik pada ras tersebut, jatuh cinta hanya soal waktu.

Fenomena BTS menjadi raksasa musik dunia bisa kita jadikan pelajaran untuk membuka mata dan membuang segala justifikasi sebelum kamu mengetahui suatu hal.

Pepatah “dengarlah musiknya, bukan orang yang menyanyikannya” memang nyata adanya. Beneran deh, apa kamu masih menemui orang yang suka menghina musikalitas musisi tertentu hanya karena asal usulnya?

Yuk, balik lagi ke BTS.

Bukti lain bahwa rasisme sudah tidak berlaku lagi menyangkut hal apapun, bisa kamu saksikan lewat video reaksi untuk menganggapi video klip girlband dan boyband Korea, khususnya BTS. Akun-akun yang membuat video reaksi tersebut tidak hanya berasal dari kawasan Asia, bahkan banyak Youtuber pria dari negara barat. Itu sudah cukup menjadi bukti ketertarikan mereka, bukan?

Beberapa waktu lalu, BTS juga merilis beberapa lagu dengan musisi dunia, misalnya Steve Aoki, Halsey, dan Zara Larsson.

Ini seharusnya mampu menjadi bukti bahwa musisi berkualitas dari negara manapun bisa disejajarkan.

Kita sudah tidak waktunya lagi melabeli musik yang datangnya dari tempat tertentu dengan sentimen yang kita miliki, bahkan untuk sekedar menganggap dangdut atau koplo sebagai musik kampungan dibanding pop Indonesia.

Akan konyol sekali jika ada yang bertanya “Apa yang harus kita pandang dari seorang musisi?”.

Karena tentu jawabannya sudah pasti usahanya, dan yang penting, isi dari musik-musiknya. Misalkan, lagu-lagu BTS memiliki banyak lirik yang bersifat membangun atau memotivasi anak muda. Pada akhirnya, kerja keras mereka terjawab, BTS diundang berpidato dalam salah satu acara PBB di New York.

Mari kita lihat salah satu lirik lagu BTS berjudul N.O yang memiliki lirik penuh pemaknaan.

Adults tell me that hardships are only momentary
To endure a little more, to do it later
Everybody say NO!
It can’t be any later
Don’t be trapped in someone else’s dream

Kira-kira dalam Bahasa Indonesia artinya begini.

Orang dewasa berkata bahwa kesulitan hanya sementara
Tahanlah sedikit lagi, lakukan nanti
Semuanya katakan TIDAK!
Tidak bisa nanti
Jangan terperangkap dalam cita-cita orang lain

Bukankah semua orang membutuhkan lagu yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memiliki korelasi dengan perasaan dan yang terpenting, membangun? Banyak sekali musisi-musisi Korea lainnya selain BTS yang memiliki lagu dengan citra memotivasi.

Kita tidak boleh munafik, walaupun lagu barat memang terlihat lebih bergengsi dan diterima seluruh dunia secara luas, banyak liriknya yang tidak memiliki makna mendalam dan seringkali mengobjektifikasi perempuan.

Lalu, bukankah seharusnya kita semua, siapapun, waktunya ganti mindset? Yaitu mindset untuk melakukan keterbukaan dalam hal apapun termasuk menerima musik.

Kamu boleh tidak menyukai beberapa musisi dan lebih menyukai musisi lainnya, tetapi alasan ras adalah argumen paling dangkal bagi penduduk zaman digital.

Ini semua soal selera, kamu boleh tidak menyukai seorang musisi atau sebuah genre karena tidak pas di telingamu, namun jangan sampai kamu meremehkannya hanya karena asal mereka.

Ini adalah salah satu langkah dalam bertoleransi, maka jadilah pribadi yang berperadaban tinggi, kawan!