Bukan Cuma Cinta, Sekian Warisan Habibie Ini Juga untuk Kita

Danke, Pak Habibie!

Bukan Cuma Cinta, Sekian Warisan Habibie Ini Juga untuk Kita
Photo by Fiqhi Rizky from Wikimedia Commons

Setiap rezim pasti selalu meninggalkan cela dan puja-puji. Di suatu titik, jauh setelah seorang pemimpin negara lengser, pasti hadir ungkapan "lebih enak zamannya pak/bu...". Jadi, meme "piye, penak jamanku to?" yang ditujukan untuk era Soeharto sebenarnya bisa ditujukan untuk kepala negara manapun, ya kan?

Bagi sebagian kalangan, kebijakan Habibie yang dulunya dihujat, adalah berkah yang bisa dirasakan sampai saat ini, terutama dalam sektor ekonomi, politik, dan hak asasi manusia. Tapi, bagi sebagian millenial dan seluruh generasi di bawahnya, kalian mungkin lebih kenal dengan sisi romantisnya bukan?

Sekuel film Habibi-Ainun dan quote serta puisi romantis Pak Habibie untuk Bu Ainun yang tersebar di internet mampu menggambarkan Pak Habibie sebagai sosok pria yang faktanya memang luar biasa idaman. Persis seperti oppa-oppa di Kdrama, bedanya ini nyata. 

Kali ini kita akan membahas deretan warisan Pak Habibie untuk kita. Tenang, saya tidak akan membahas terlalu politis, agar lebih mudah diterima siapa saja. Dan, agar sebagian dari kalian tidak hanya dibutakan oleh cinta dari Pak Habibie. Eh bukan, maksudnya agar kita tidak buta dari banyak hal lain juga, yang Pak Habibie wariskan untuk kita. 

Kesetiaan tidak datang dari ruang hampa

Habibie dan Ainun

Foto Habibie dan Aiunun - Wikimedia Commons

Seharian kemarin, begitu banyak akun di Instagram yang memposting puisi Pak Habibie untuk Bu Ainun. Selain kesetiaan itu sendiri, satu hal lagi yang perlu kita sadari dari cinta mereka, yaitu rasa cinta tidak mensyaratkan kehadiran fisik. Kesetiaan

Pak Habibie pada Bu Ainun mungkin dapat menjadi sebuah pelajaran, bagi mereka yang menganggap dirinya bisa adil seperti sosok Nabi hingga rela mempoligami.

Sebentar dulu, perlu digaris-bawahi, pelajaran kesetiaan Pak Habibie-Bu Ainun ini hanya untuk yang mau belajar, rendah hati pada perspektif, dan memiliki empati pada pasangan. Sudah ada yang tersindir belum?

Seperti kata Quraish Shihab, cinta itu dipupuk. Dan sepertinya Pak Habibie juga menyetujui hal tersebut, terlepas mereka pernah saling melakukan konsensus akan hal ini atau tidak. Meski Pak Habibie dan Bu Ainun pernah mengalami kehidupan di dimensi yang berbeda, saya kira perasaan mereka tetap terpaut.

Pak Habibie memupuk terus perasaannya dengan cara selalu mengingat, dan menghargai segala yang pernah dilakukan Bu Ainun pada beliau.

Keterbukaan dan sikap demokratis sejak dalam pikiran

BJ Habibie di masa kepemimpinannya

Photo by Novia Chayadi from Flickr

Bagi para penggiat pers dan hak asasi manusia, era Habibie adalah sebuah udara segar yang akhirnya bisa dihirup. Mungkin sebagian dari kamu yang masih terlalu muda atau bahkan belum lahir saat itu, tidak mengetahui dukungan Pak Habibie tehadap UU Pers.

Kita tidak akan membahas imbas kebijakan politik ini, tapi yang perlu kita sadari adalah, beliau mengajarkan kepekaan terhadap segala pandangan. Saya yakin, beliau 100% sadar bahwa dengan dibukanya keran-keran yang memudahkan pers, juga akan membuat masyarakat semakin mudah menyatakan pendapat kontra terhadap beliau.

Tapi, beliau pula mengajarkan bahwa, sebagai makhluk intelektual, bersikap terbuka pada segala pikiran dan kemungkinan adalah etika yang tertinggi.

Warisan ini sebenarnya menyadarkan kita, bahwa beragam pikiran dan pro-kontra adalah sesuatu yang sehat yang bisa mendorong perkembangan lebih baik. Dan meski pada eranya Pak Habibie sungguh sering mendapat demo, beliau benar-benar tidak gentar. Beliau mendengar pendapat yang lain, tapi juga bersikap agree to disagree terhadap ide-ide tertentu.

Itulah yang perlu kita semua hayati, karena tanpa sadar kita mungkin sering bersikap fasis. Kita perlu lebih realistis bahwa tidak semua buah pikiran mencapai kata sepakat, dan setuju untuk tidak setuju adalah sikap menghargai buah intelektualitas orang lain tanpa harus memaksakan diri kita mengikuti pendapat tersebut. 

Expect the impact, not the income

Bermanfaat bagi orang lain

Masa jabatan Pak Habibie bisa disimpulkan menjadi singkat-padat-jelas. Meski rezimnya sangat kilat, namun rezimnya adalah contoh kerja cerdas. Pasca lengsernya Soeharto, beliau dibebani berbagai problem yang membuatnya sulit merasakan euforia ketika baru dilantik jadi presiden.

Beliau langsung melakukan berbagai perombakan dan kebijakan baru yang dilakukan bukan atas dasar tergesa-gesa, namun karena beliau memang harus menyegerakan amanah. Meski memerintah hanya dalam 18 bulan, beliau mampu menurunkan nilai tukar Rupiah terhadap dolar hingga di bawah Rp10.000,00 dan menetapkan beberapa UU.

Contohnya adalah UU tentang parpol  yang memungkinkan lebih banyak partai baru. Dan hal ini menandakan iklim demokratis saat itu berkembang ke arah positif. 

Sikap negarawan expect the impact, not the income sebenarnya sudah ia tunjukkan berkali-kali. Meski sejatinya bisa memangku tampuk kepresidenan hingga akhir periode Soeharto di 2003, beliau tidak bersedia meneruskan kekuasaan.

Dan bahkan jika kita menengok masa Pak Habibie saat masih di Jerman, beliau rela menanggalkan hidup nyaman di negara tersebut untuk memberi kebajikan lewat hal-hal yang beliau mampu.

Dari sedikit cuplikan ini saja kita tahu, beliau menghayati pendidikan dan intelektualitas juga sebagai sesuatu untuk dibagi, bukan sesuatu yang dapat digunakan untuk mengharapkan keuntungan pribadi semata. 

Kemanusiaan adalah hal yang utama

Kemanusiaan, toleransi, dan saling menghargai

Menurut sebagian kalangan, langkah Pak Habibie membebaskan Timor Leste adalah sebuah dosa bagi negara.

Tapi, bagi yang benar-benar menyadari, langkah ini adalah membebaskan Indonesia dari beban sejarah sekaligus langkah beliau terhadap penghormatan tertinggi bagi kemanusiaan.

Dalam referendum Timor Leste, Pak Habibie menunjukkan sikap demokratis sekaligus berusaha menanggalkan kesan dari dunia bahwa Indonesia menjajah Timor Leste. Di sini ia menunjukkan bahwa manifestasi kemanusiaan tidak memiliki prasyarat. Selain itu, bisa dibilang bahwa selain Gus Dur, Pak Habibie adalah kepala negara di Indonesia yang paling populis.

Dalam masa jabatannya, Pak Habibie mengakui adanya kekerasan pada perempuan Tionghoa di kerusuhan Mei 1998. Tidak hanya itu, beliau juga mendirikan Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) menanggapi hal tersebut.

Dari sejarah ini, kita sekali lagi belajar bahwa kemanusiaan berada di atas ikatan etnis ataupun agama. Ini juga merupakan salah satu bentuk sikap kesetaraan beliau, yang bentuknya dengan cara berempati dan menempatkan diri di perspektif orang lain.


Nah kan, selain tentang cinta, tingginya kepribadian Pak Habibie meninggalkan bekas yang bisa dirasakan secara teknis ataupun dilihat secara tersirat. Tanpa penghargaan tinggi beliau terhadap intelektualitas manusia, hak pribadi, toleransi, dan rasa kemanusiaan, tidak mungkin ada gebrakan-gebrakan yang saat itu beliau anggap harus disegerakan.

Lagipula berbagai kebijakan beliau bukan sikap yang terburu-buru. Bukankah berbuat kebajikan memang harus digas?