Cara Meningkatkan Kualitas Diri Kapanpun dan Dimanapun

Tidak ada batas usia untuk upgrade diri sendiri!

Cara Meningkatkan Kualitas Diri Kapanpun dan Dimanapun
Photo by Giulia Bertelli from Unsplash

Pernahkah kamu bertanya-tanya, mengapa di negara maju seperti Singapura, Skandinavia, dan beberapa bagian negara Eropa, di sana cukup minim konflik antar golongan?

Tidak cuma itu, kesadaran dan kepekaan lingkungan di sana sangat tinggi, rasa toleransi, sungkan, dan budaya empati sungguh tinggi, walaupun banyak negara maju yang disebut kaum konservatif sebagai 'kafir'. 

Kalau di Indonesia, orang sangat mudah untuk viral karena melakukan hal-hal bodoh atau tidak masuk akal, entah tujuannya agar viral atau menghibur orang lain, atau bahkan untuk tujuan lain. Mungkin ada yang berpikir bahwa orang-orang di negara maju terlalu serius, hmm mungkin tidak juga.

Karena ada juga kasus viral di mana seorang remaja yang dijuluki 'Egg Boy' melempar telur ke seorang pejabat rasis di Australia. Remaja ini punya tujuan serius memperingatkan pejabat tersebut, tapi caranya sengaja nyeleneh. 

Salah satu hal yang membuat kenapa di Indonesia lebih terlihat carut marut adalah, kualitas individu masyarakatnya sendiri, yaitu kita, yang memang masih tertinggal dalam aspek pola pikir. Mudah saja lah kalau harus ambil contoh. Misalnya, kamu masih sering kan, melihat orang menyerobot antrean? 

Maka dari itulah artikel ini mencoba menawarkan solusi buat kamu, untuk memulai 'hijrah' menuju kualitas diri yang lebih baik. Tujuannya? Untuk membuat skala perbaikan yang lebih masif, yaitu mempengaruhi upgrade pola pikir komunitas.

1. Membaca dari sumber yang komprehensif

Manfaat membaca buku
Memang sih, millenial dan gen z zaman sekarang banyak yang memiliki pola pikir lebih progresif. Tapi sayangnya tidak semua orang sudah mampu berpikir demikian. Tidak semua orang juga lebih berani untuk speak up tentang keadilan dan kebenaran karena takut dihujat netizen yang masih banyak berpola pikir sedikit lebih primitif.

Jadinya, jangan-jangan kita sendiri yang malah menghalangi orang lain untuk memberikan imbas-imbas positif. Kita sendiri yang menakut-nakuti mereka padahal idealisme kita belum tentu benar. 

Apa sebabnya kita bisa sampai kepedean menganggap pengetahuan kita lebih baik dengan orang lain? Salah satunya adalah kita merasa sudah cukup aktif melihat update isu kekinian di Twitter atau Instagram, padahal, dengan frame yang hanya sekecil itu, Twitter dan Instagram tidak selalu bisa memberikan pandangan komprehensif tentang suatu hal.

Apalagi kalau sekedar percaya pada infografik atau kata influencer!

Bagaimanapun, kita harus mencari sumber yang lebih komprehensif sebelum mempercayai sesuatu, atau nge-twit dan it does its magic. Jangan sampai apa yang kita bicarakan di sosial media benar-benar viral, eh padahal pandangan kita ternyata cuma di permukaan.

Kalau kamu belum percaya bahwa negara maju punya penduduk yang tingkat literasinya tinggi, coba baca buku Masyarakat Tanpa Tuhan.

2. Tidak terburu-buru mengomentari sesuatu

Memberikan komentar di media sosial
Siapa bilang kualitas dirimu hanya kamu yang mengukur? Tidak, orang di dekatmu juga punya ukuran sendiri terhadap kamu. Masalahnya adalah, hal yang kita ucapkan turut mempengaruhi kualitas diri kita di mata orang lain.

Maksudnya bukan berarti kita harus selalu resah dengan pendapat orang lain tentang diri kita, tapi kualitas diri kita di mata orang lain juga mempengaruhi bagaimana mereka memperlakukan kita. Benar tidak?

Misalkan saja, ketika kamu berkumpul bareng kerabat di sebuah acara, dan mereka bertanya tentang hal-hal privat yang tidak semestinya. Tentu saja kamu berpikir orang tersebut lancang dan sebagainya kan? Seperti itulah ibaratnya ketika kita terburu-buru komentar atau bertanya tanpa pertimbangan dan dasar yang jelas.

Orang lain tidak hanya punya impresi yang buruk pada kita, tapi bisa jadi cenderung menghindari kita. Di kasus terburuk, misalnya tentang komentar jahat di Instagram, sikap tidak hati-hati dalam berkomentar akan memancing kebencian dan jarang menghasilkan diskusi sehat.

3. Lebih sadar dengan kondisi lingkungan

Menghadapi perubahan iklim
Yang masih amat sangat mengherankan adalah, masyarakat kita masih sangat tidak sadar dengan ancaman bencana lingkungan disebabkan oleh perubahan iklim. Tidak bisa dipungkiri bahwa budaya literasi yang rendah turut membuat kita tidak banyak tahu tentang kondisi iklim saat ini. Padahal, kita bisa bersikap lebih tidak egois dengan alam.

Sifat manusia sebagai makhluk paling sempurna di dunia seringkali membuat kita merasa paling superior dan tidak mau berempati terhadap alam. Padahal, jika kita mau lebih peka dan berempati, ada beberapa cara mudah dalam memperbaiki lingkungan, misalnya:

  • Memperbanyak tanaman untuk menyejukkan rumah, alih-alih menggunakan AC atau kipas angin
  • Membawa kantong belanja kemanapun
  • Membeli makanan dengan tempat yang dibawa sendiri dari rumah
  • Mematikan listrik saat tidak diperlukan
  • Membuat lubang biopori di halaman rumah
  • Tidak menggunakan kendaraan bermotor jika berjalan cukup dekat
  • Beralih ke transportasi umum
  • Menggunakan sabun atau detergen berbahan alami
  • Menggunakan sedotan stainless milik pribadi saat makan di luar
  • Mengurangi asupan daging mamalia
  • dsb.

4. Investasikan waktu untuk mengembangkan diri

Meningkatkan kemampuan diri sendiri
Salah satu cara meningkatkan rasa percaya terhadap diri sendiri adalah, dengan memiliki banyak pengetahuan atau skill. Selain banyak membaca sumber komprehensif, cara lainnya bisa kamu dapatkan dengan menginvestasikan waktu untuk pengembangan diri.

Sebenarnya hal ini cukup simpel karena bisa kamu lakukan di waktu luang atau kamu gabungkan sekalian sebagai hobi, misalnya:

  • Mengikuti les yang bisa menambah skill
  • Mengikuti komunitas di daerah tempat tinggalmu
  • Mengikuti workshop-workshop atau seminar dan diskusi
  • Belajar secara otodidak hal-hal yang membuatmu tertarik
  • Berolahraga secara mandiri atau ikut kursus bela diri dan semacamnya
  • Mendalami hobi

Daripada waktu luangmu berjam-jam selalu kamu habiskan untuk scroll media sosial dan binge watching, lebih baik kamu sisihkan sebagian waktu untuk mengembangkan diri.

Hal ini juga sangat bagus untuk memperbaiki mood dan mengurangi tingkat stresmu, karena rutinitas yang sama selama weekday bisa jadi membuatmu bosan, dan hal-hal seperti di atas sangat bisa membuat improvisasi ritme jadwal.


Dari keempat poin di atas, ada benang merah di antara mereka. Semua hal di atas adalah kegiatan penerimaan, dan memahami. Semua hal di atas lebih bersifat menampung, menerima, atau berempati terhadap sesuatu sehingga kita mendapat perspektif yang baru.

Sehingga, berbagai keterbukaan dan kepekaan terhadap hal baru tersebut akan membuat kita memiliki lebih banyak modal untuk menjalani kehidupan dengan lebih bijaksana. 

Kualitas masyarakat yang baik dapat dimulai dari individu-individu yang berkualitas. Jadi, sudah siapkah kamu memperbaiki diri dan memberi pengaruh yang lebih baik?