Dengan Gaya Ringan, Buku Ini Cocok untuk Di Perjalanan

Murakami memahami cara menikmati liburan dengan cara yang paling biasa

Dengan Gaya Ringan, Buku Ini Cocok untuk Di Perjalanan
Photo by Min An from Pexels

Bagi pecinta buku, terkadang membawa buku yang berat saat perjalanan cukup bikin malas kan? Maklum, tidak selalu alat transportasi yang kita naiki cukup nyaman untuk baca buku. Tapi, sebenarnya kamu bisa kok membawa buku yang tidak terlalu tebal atau isinya tidak terlalu berat untuk perjalanan yang cukup melelahkan.

Salah satunya novel pendek berjudul 'Dengarlah Nyanyian Angin' karya penulis terkenal asal Jepang, Haruki Murakami. Mungkin para pecinta buku sudah sangat familiar dengan penulis ini, tapi pasti tidak semua dari kalian sudah pernah membaca karyanya yang satu ini bukan?

Cerita menarik tidak selalu berasal dari pemeran heroik

haruki Murakami Dengarlah Nyanyian Angin

Dengarlah Nyanyian Angin adalah novel pertama yang ditulis oleh Murakami dan terbit tahun 1979. Judul bahasa Jepang dari novel ini adalah Kaze No Uta O Kike, sedangkan judul versi bahasa Inggris buku ini adalah Hear the Wind Sing.

Dengarlah Nyanyian Angin berhasil membawanya memenangkan Gunzo Literary Award tahun 1979 meskipun ini adalah debut pertamanya.

Novel ini bercerita tentang 18 hari musim panas 'Aku' yang terhitung sejak 8 Agustus hingga 26 Agustus 1970. Jika dilihat secara keseluruhan, cerita dalam novel ini memiliki genre slice of life.

Namun, meski terkesan seperti kisah yang realistis, kamu akan banyak bertanya-tanya pada diri sendiri, "Apa ini mungkin?". Karena bisa dibilang, dalam novel ini kamu tidak bisa berekspektasi dengan norma yang kamu pegang.

Selain itu, banyak kejadian dalam novel tersebut juga membuatmu mempertanyakan, "Apakah ini memang biasa terjadi?".Tapi begitulah ciri khas Murakami.

Sejak debutnya ini pun kamu akan diberikan detil-detil menarik tentang kisah anak muda yang bisa dibilang masih dalam tahap transisi kedewasaan atau coming of age. Si 'Aku' yang masih tergolong dewasa awal adalah pengagum seorang penulis bernama Derek Heartfield.

Penceritaan bahwa 'Aku' mengagumi Derek Heartfield adalah awal yang menunjukkan keahlian Murakami untuk membuat hal-hal biasa dan penuh cacat menjadi istimewa. 
Dalam novel ini, Derek Heartfield diceritakan sebagai pengarang yang gagal, dan kualitas tulisannya cukup buruk.

Namun, 'Aku' tetap mengaguminya bahkan menganggapnya pantas bersaing dengan Hemingway dan Fitzgerald dikarenakan kemampuannya menjalin kalimat sebagai sebuah senjata. 

Keistimewaan Murakami mengagumi sesuatu yang tidak sempurna juga tersermin dari bagaimana Murakami menceritakan 'bad sex' si 'Aku' dengan para teman wanitanya.  Ini juga merupakan salah satu simbol bahwa Murakami mampu menjadikan sesuatu yang tampak cacat bisa memiliki pengagumnya sendiri.

Salah satu perempuan yang pernah tidur dengan 'Aku' bahkan adalah seorang homeless dan perpisahan mereka setelah tinggal bersama selama seminggu terjadi tanpa basa-basi. Namun meski begitu, Murakami menjadikan sisi tanpa basa-basi tersebut dengan mudah berlalu tanpa juga pernah dilupakan oleh si 'Aku'. 

Ini menunjukkan bahwa bagaimanapun hidup tidak selalu terjadi dengan 'semarak' dan penuh kesan kegemilangan. Karena begitulah hidup, terkadang sesuatu berjalan begitu saja tanpa ia tampak spesial. 

Detil-detil aspek coming of age lainnya adalah, tentang bagaimana 'Aku' mengingat tentang sebuah fase pendek di masa kecilnya yang tidak biasa. Si 'Aku' yang dalam Dengarlah Nyanyian Angin selalu bersama bukunya, adalah tipe orang yang tergolong pendiam sejak masih kecil. Namun, ada saat ketika berumur 14 tahun ia mengalami momen banyak bicara secara tiba-tiba.

Dan momen cerewet ini tidak berlangsung lama karena 'Aku' kembali menjadi orang yang pendiam. Ya, seperti itulah gaya khas Murakami, ia selalu berusaha menyampaikan bahwa masa kecil menyisakan sesuatu hingga kita menua.

Seperti bisa dibilang di atas, cerita menarik tidak selalu berasal dari pemeran heroik. Ini dikarenakan semua orang memiliki kesannya sendiri-sendiri perihal kehidupan. Dalam novel ini pun kesan-kesan menarik didapatkan dari bagaimana para tokoh memandang kehidupan dan apa-apa yang ada di sekitarnya, tanpa menjadi terlalu ideologis.

Selain bagaimana si 'Aku' yang mampu mengenang kecacatan dengan caranya, teman 'Aku', Nezumi pun juga memiliki kesannya sendiri terhadap kehidupan. Nezumi yang sebenarnya orang kaya justru tidak menyukai orang kaya.

Dan inilah yang menunjukkan bahwa 'Aku' dan Nezumi adalah sama-sama anak muda di masa peralihan tradisional-modern Jepang, yang tidak memusingkan soal kemapanan. 

Nuansa tidak hanya berasal dari kegiatan yang menyelimuti para tokoh

haruki Murakami Dengarlah Nyanyian Angin

Dalam kehidupan 'Aku' dan Nezumi, ada tiga hal yang tidak bisa dilepaskan dari mereka, yaitu Jay's Bar, seks, dan musik. Jay's Bar bisa dikatakan sebagai tempat sentral dalam novel ini.

Di sanalah bagaimana 'Aku' dan Nezumi bukan hanya bersenang-senang hanya dari minum bir, tapi juga mengurai pikiran masing-masing dan satu sama lain. Bisa dibilang, Jay's Bar adalah tempat di mana 'Aku', Nezumi, dan pemilik bar tersebut, Jay, saling bertukar budaya pribadi dalam wadah kaum muda.

Selain tempat tersebut, si 'Aku' dan Nezumi yang bertempat tinggal di wilayah dekat dengan laut tidak akan membiarkanmu bosan hanya dengan penggambaran suasana dalam ruang seperti Jay's Bar tadi. Banyak segmen-segmen di mana Murakami membawa pembaca membayangkan sendiri suasana musim panas di area dekat laut di Jepang.

Murakami juga detil dan estetik dalam mengkisahkannya. Contohnya dengan bagaimana segmen ketika 'Aku' yang tidur tiba-tiba terbangun karena telepon berdering.

Namun, estetika suasana tidak berhenti di situ. Kesegaran suasana muncul ketika Murakami menceritakan keadaan di sekitar 'Aku' yang daun-daun di halamannya basah karena hujan di sore hari. Penggambaran suasana yang meneduhkan ini juga ditambah dengan pencitraan aroma laut yang dipadu dengan tirai yang bergoyang karena angin. 


Buku setebal 119 halaman ini sama sekali tidak berat ubtuk dibawa dan dibaca sewaktu kalian lagi naik kereta, subway, angkot, atau bahkan naik ojek online sekalipun. Selain cocok sebagai bacaan ringan di perjalanan, Dengarlah Nyanyian Angin juga cocok banget jadi teman santai waktu berjemur di bawah matahari pagi, bahkan juga bisa jadi teman goleran di kala hujan.

Yang pasti, buku ini akan membuatmu tergiur membaca karya-karya Murakami yang lainnya!