Di 74 Tahun Kemerdekaan, Kemerdekaan Beragama Tetap Gagal Dipahami

Dua orang yang sama-sama pindah agama bisa mendapat perlakuan yang berbeda.

Di 74 Tahun Kemerdekaan,  Kemerdekaan Beragama Tetap Gagal Dipahami
Photo by Nick Agus Arya from Unsplash

Sama seperti hari ulang tahun, atau hari raya keagamaan, hari besar negara kita juga patut diisi dengan sikap reflektif. Salah satunya, adalah merefleksikan apakah seluruh masyarakat kita benar-benar merdeka dalam beragama? Karena sepertinya, masyarakat kita belum benar-benar paham dengan yang dimaksud dari kemerdekaan atau kebebasan dalam beragama. 

Selama ini, publik masih memahami kemerdekaan beragama hanya sebatas pada boleh melaksanakan kegiatan peribadatan, bahkan pemahaman ini pun belum merata. Sedangkan soal memilih kepercayaan, mayoritas masih teguh meyakini bahwa agama adalah warisan orang tua dan berlaku selamanya.

Selain itu, publik juga masih berpikir bahwa kepercayaan yang dianut oleh seseorang juga merupakan urusan sesama, walaupun dengan jelas undang-undang memberi jaminan kebebasan beragama menurut kepercayaan masing-masing.

Belum lama ini lini masa kita diramaikan dengan berita tentang pindah agama dua selebritas yaitu Deddy Corbuzier dan Salmafina Sunan. Dari pemberitaan mereka, kita bisa dengan jelas melihat bahwa dua orang yang sama-sama pindah agama bisa mendapat perlakuan yang berbeda.

Perlakuan yang berbeda tidak hanya didapatkan dari komentar netizen. Sentimen masyarakat juga diwakili oleh berita-berita mengandung tendensi. Misalnya saja ketika Deddy dikabarkan masuk Islam, muncul berita dengan judul yang jenisnya seperti ini: "Ungkap Alasan Masuk Islam, Deddy Corbuzier: Saya Pindah Karena Hidayah".

Lalu bandingkan dengan ketika Salmafina dikabarkan memeluk Kristen, muncul berita dengan jenis judul seperti ini: "Terbongkar Sudah Salmafina, Ini Video Pengakuannya". Berita-berita seperti ini tergolong jenis clickbait yang dimaksudkan mengundang trafik melalui sensasi.

Dirangkum dalam Tirto.id, sebuah akun bernama @_jadigini dan seorang peneliti media bernama Wisnu Prasetya meneliti fenomena ini. Mereka meneliti 10-15 sampel berita dalam sepekan, dan hasilnya, ada perbedaan tone dalam pemakaian keywords.

Berita tentang Deddy Corbuzier ditulis dengan keywords "orang baik", hidayah", dan "kaum marjinal". Di samping itu, pemberitaan Salmafina menggunakan keywords "kontroversi", "terbongkar", dan "pengakuan". Tentu dari deretan keywords ini harusnya bisa dengan mudah dibedakan mana yang memiliki nuansa melambungkan dan mana yang memiliki nuansa memojokkan.

Perlu diingat juga bahwa contoh berita seperti demikian bukan muncul dari ruang hampa, melainkan beberapa tahun terakhir kita sudah menghadapi kronologinya. Sehingga, berita dengan sentimen bertolak-belakang seperti di atas hanyalah bagian dari kronologi.

Momentum kronologi yang paling mencolok adalah sejak pertarungan politik di posisi gubernur DKI Jakarta yang mempertaruhkan isu agama.

Sejak saat itu, berbagai isu agama terus direproduksi melalui berbagai kasus hingga menghasilkan kesan yang semakin tajam bahwa persoalan agama adalah persoalan publik alih-alih privat. Ini tidak hanya membuat masyarakat makin gagal paham terhadap hak beragama yang sebenarnya bersifat individual, tetapi juga menghasilkan dilema masyarakat untuk membedakan mana urusan publik dan mana urusan privat.

Dan salah satu faktor mengapa terjadi logika rancu seperti ini tetap terjadi adalah, sifat kolektif dari masyarakat. Sifat kolektif seperti ini tidak hanya membuat masyarakat merasa boleh ikut campur dengan urusan orang lain, namun juga mempertahankan keseragaman.

Salah satu kasus penyeragaman ini terjadi beberapa waktu lalu pada seorang seniman bernama Slamet beserta keluarganya. Ia ditolak bermukim di salah satu area di Yogyakarta karena beragama katolik. Kasus ini bukan satu-satunya, masih ada kasus pemotongan salib di salah satu kuburan, serta berbagai kasus lain yang terjadi tidak hanya di Yogyakarta.

Setara Insititute memaparkan, sepanjang tahun 2018 ada 202 pelanggaran kebebeasan beragama/berkeyakinan (KBB) yang tercatat. Ini masih belum terhitung untuk kasus di sepanjang 2019 ini. 

Berdasarkan definisi dari Britannica, kolektifisme adalah segala bentuk pengorganisasian dimana individu dianggap sebagai subordinat dari kolektivitas sosial seperti bangsa, pemerintahan, ras, atau kelas sosial.

Di Indonesia, bentuk kolektifitas beragama paling menonjol, ditunjukkan dari sikap pemeluk agama mayoritas terhadap pemeluk agama minoritas. Padahal, dalam setiap ceruk kehidupan, sifat kolektif tidak selalu bermakna positif dan sebagaimana juga sifat individualis tidak selalu bermakna negatif, tergantung situasinya.

Sebagai tanding dari kolektifisme, dalam beragama justru lebih pas menggunakan pandangan individualis untuk memperlakukan orang beragama. Masih dari laman yang sama, pengertian individualisme adalah ketika hak dan ketertarikan individu ditekankan. 


Namun, menggeser pandangan kolektif menjadi individualis dalam wadah agama bukanlah perkara yang mudah. Selama reproduksi isu agama seperti contoh-contoh si atas masih ada di bawah kuasa media serta tokoh-tokoh besar penghasil narasi yang dinikmati publik, "bagimu agamamu dan bagiku agamaku" masih akan jadi harapan sebagian orang yang sadar.