Di Indonesia, Rajin Belajar Nggak Cukup Bikin 'Sukses dan Kaya'!

Terlahir dari keluarga privilege emang nggak salah, tapi kesadaran kelasnya yang penting!

Di Indonesia, Rajin Belajar Nggak Cukup Bikin 'Sukses dan Kaya'!
Photo by Matthew T. Rader from Pexels

Ngomongin soal sukses, sebenarnya memang semua orang punya definisi sendiri-sendiri. Tapi, ada satu definisi yang disepakati masyarakat, yaitu tajir dan punya pekerjaan yang bisa dibanggakan. Jadinya, ketika membicarakan seseorang yang punya kriteria seperti tadi, pasti kesimpulannya adalah 'Si A yang sukses sebagai...'.

Pembicaraan soal sukses dan kaya ini juga tidak melulu memotivasi dan menyenangkan. Baru-baru ini pembahasan soal menjadi anak keluarga sukses dan kaya, justru terasa sedikit memunculkan demotivasi. Pasalnya apa, lahir di keluarga sukses dan kaya, dengan kata lain punya privilege, bisa dibilang cukup menjamin seumur hidup seseorang di negara ini. 

Pembahasan tentang privilege ini mulai ramai ketika nama Risa Santoso sebagai rektor termuda di Indonesia mendadak viral. Bukan cuma itu, akhir-akhir ini deretan staf khusus Presiden yang isinya millenial juga tidak luput dianalisa netizen di sosial media, terutama karena ada Putri Tanjung yang kamu tahu lah anaknya siapa.

Kalau kata Eka Kurniawan, privilege ini seperti lingkaran super setan. Bukan tanpa alasan kuat beliau menyimpulkan seperti itu.

Dalam status sosial medianya, beliau berkata soal staf khusus Presiden, "Kamu orang kaya--bicara tiap hari ke Presiden dengan bias kelasmu--menjadi kebijakan yang akhirnya menguntungkan kelasmu lagi--nanti anak-cucumu kembali menikmati lingkaran super setan ini,". 

Bias kelas nyatanya pasti akan mempengaruhi siapapun memang, bagaimana tidak, kita dibesarkan sampai dewasa oleh kelas tertentu, pastilah eksposurnya berdasar kelas tersebut.

Dan yang perlu kamu tahu, ada penelitian kuat yang mendukung perkataan Eka Kurniawan tadi, judulnya Effect of Growing Up Poor on Labor Market Outcomes: Evidence from Indonesia. Dan penelitian ini dipublikasi oleh Asian Development Bank Institue.

Kalau dari penelitian ini, rajin belajar dan kerja keras emang tidak menjamin nasibmu sebaik anak-anak privilege, karena beberapa alasan yang dijabarkan dari latar belakang dan hasil penelitian tersebut.

Dan yang perlu diingat, penelitian ini adalah membandingkan ketimpangan pendapatan orang-orang yang tumbuh di keluarga privilege dan tidak. Selain itu, perlu diingat bahwa time line penelitian ini bertolak dari kriris moneter 1997-1998.

Meski begitu, merujuk ke penelitian tersebut, ada beberapa opini yang bisa diungkapkan.

Kalau pengin anakmu sukses (punya gaji yang lebih tinggi), kamu juga perlu memberi privilege padanya

Privilege di Indonesia

Pada jurnal tersebut, disebutkan bahwa latar belakang orang tua sangat berperan besar. Bisa kamu nalar sendiri kan, kenapa bisa seperti ini. Alurnya kira-kira begini, orang tua yang cukup uang bisa menginvestasikan lebih banyak untuk pendidikan anaknya, nggak cuma sekolah yang berkualitas, tapi juga termasuk les-les tambahan dan mensupport hobi yang menambah skill.

Kemudian, orang tua yang cukup duit juga akan menghadirkan lingkungan yang sangat kondusif untuk anaknya, terutama lingkungan rumah yang bersih dan sehat, serta lingkup sosial yang baik. Ketiga, orang tua yang punya privilege tidak bikin anaknya ikut mikir soal keuangan, sehingga anaknya cukup fokus mengembangkan diri.

Tidak usah ditampik, urusan keuangan rumah tangga juga faktanya bisa membuat anak-anak dan remaja ikutan puyeng. Kamu sendiri sering melihat berbagai kanal donasi yang berusaha membantu anak-anak pekerja bukan? 

Ketika seseorang lahir dari keluarga privilege, dengan memanfaatkan privilege yang diberikan orang tuanya, ia bisa dengan mudah memilih sekolah-sekolah top tanpa takut biaya. Dan pada akhirnya, sekolah mereka ini nantinya ikut menyumbang di CV yang akan mempengaruhi posisi apa yang bisa ditempatinya waktu melamar pekerjaan.

Memang sih, ada berbagai bantuan beasiswa dari pemerintah, tapi itu tidak benar-benar bisa menjamin, kawan. Dalam hidup kamu nggak cuma butuh sekolah, tapi juga makan, rasa aman, dan sebagainya. Menjadi anak dari keluarga yang kurang beruntung membuat seseorang mikirnya dobel-dobel dan kerja kerasnya dobel-dobel.

Untuk sekolah misalnya, sudah dijamin pemerintah, tapi untuk makan, transportasi, dan hal-hal penting lainnya, tentu tenaga harus dibagi untuk memenuhi deretan kebutuhan ini bukan?

Bukan cuma itu, stresnya orang tua yang kurang mampu juga bisa mempengaruhi parenting-nya kepada anak. Ya bagaimana mungkin pikiran yang kacau balau tidak mempengaruhi emosi seseorang pada anaknya?

Selain itu, jangan kira lingkungan yang higienis dan sehat serta kondusif tidak menjamin. Kalian sudah tahu, kalau kualitas udara yang buruk bisa menyumbang faktor depresi? Jadi tidak cuma soal makanan dan lingkungan bersih saja yang membuat seseorang tumbuh dengan sehat jasmani rohani, kualitas udara juga tidak ketinggalan!

Kalau sudah seperti ini, masih berani bilang kalau nikah jangan mikirin biaya?

Perjuangan kelas tidak berhenti sampai lulus kuliah doang, ada lanjutannya

Privilege di Indonesia

Semua orang yang sudah masuk dunia kerja juga tau betapa pentinya koneksi dan 'orang dalam'. Bisa kamu bayangkan kan, di lingkaran lingkungan privilege isinya orang-orang seperti apa.

Akses terhadap kesempatan kerja antara pemuda dengan privilege dan tidak memang beda. Iya sih, sekarang semua orang bisa sama-sama mengakses kesempatan kerja lewat digital, tapi tidak semua orang juga bisa menjangkaunya. Dan apa kamu yakin, lowongan kerja yang dilihat masyarakat menengah akan sama dengan kelas privilege?

Lagipula, hal ini tidak berlaku untuk akses job yang menggunakan koneksi. Tidak perlu kaget kalau misalnya seorang bapak yang punya jabatan tinggi di kantor pemerintah atau perusahaan juga punya anak yang jabatannya tinggi meskipun di tempat lain. Ya, itu soal akses yang lebih mudah, meskipun resume mereka juga membantu dikarenakan pendidikan yang prestise.

Kita memang tidak bisa memilih mau dilahirkan di keluarga seperti apa sih, dan tidak ada yang salah juga dengan anak-anak dari keluarga privilege. Hanya saja, yang perlu disadari adalah kesadaran kelas dan kepekaan terhadap orang lain.

Sebagai pemuda privilege, seseorang bisa lebih mudah memilih terjun di dunia yang mereka minati dan tidak terlalu takut gagal lalu jatuh miskin, karena orang tua siap menopang. Beda halnya dengan yang tumbuh dari keluarga tanpa privilege.

Tidak jarang orang harus berdamai dengan realita dan menjadikan passion sebagai cita-cita seumur hidup tanpa bisa mewujudkannya. Ketakutan atas 'tidak ada support' atau 'tidak ada yang menopang saat saya jatuh' membuat seseorang dari non-privilege terpaksa harus berdamai demi cuan.

Dan tidak selesai di sini, sebagai generasi sandwich ternyata membuat beban tidak serta merta berkurang setelah mendapat pekerjaan dan punya gaji bulanan. Untuk seseorang dari keluarga privilege ini mungkin tidak ada artinya, karena orang tua mereka toh lebih kaya. 

Ya bukan salah para netizen juga sih kalau berkomentar dengan vibe yang pesimistis soal kehidupan. Toh faktanya perjuangan kelas tidak terlihat suram.


'Be whatever you want to be' sepertinya akan selalu lebih cocok untuk pemuda pemudi yang punya banyak privilege atau hidup di negara yang lebih sosialis. Ya bagaimana tidak, dibesarkan di keluarga yang tidak punya privilege lebih memang sering membuat sesorang sulit bermimpi.

Terdengar depresif memang, tapi ini realita. Tapi juga bukan alasan bahwa kita tidak perlu kerja keras karena tidak mungkin sekaya atau sesukses si anak privilege. Karena, setidaknya meskipun privilege-mu tidak sebanyak mereka, kamu punya privilege dalam bentuk yang lain bukan? Privilege untuk jauh dari sorotan netizen mungkin?