Dunia Terbalik, Sekarang Justru Kita yang Takut Ortu Salah Gaul

Sebagai imigran digital, orang tua kita rawan termakan hoaks

Dunia Terbalik, Sekarang Justru Kita yang Takut Ortu Salah Gaul
Photo by Matthias Zomer from Pexels

Pada beberapa bulan yang lalu, kota saya mendapat giliran event literasi keliling, Patjar Merah. Salah satu pemateri dalam acara tersebut adalah seorang aktivis feminisme yang sedang hits, Kalis Mardiasih.

Di sana, sosok yang familiar disapa Mbak Kalis ini bercerita bahwa saat ini, mengawasi kebiasaan berselancar internet orang tua kita adalah sebuah jihad. Ini berangkat dari pengalaman beliau yang bapaknya pernah ditendang dari sebuah obrolan grup karena membagikan sebuah postingan yang ternyata isinya kurang pantas.

Pasti pengalaman Mbak Kalis yang bapaknya mudah termakan hoaks ini juga kamu alami kan? 
Memang, kebiasaan ortu kita main Whatsapp dan klik share suka bikin eneg juga.

Apalagi kalau sukanya nge-share hal-hal ajaib alias tidak masuk akal seperti teori konspirasi yang dihubungkan dengan Upin-Ipin, atau potongan-potongan ayat unknown yang mengandung ancaman azab, dan sebagainya.

Maka dari itu, artikel ini saya juduli 'dunia terbalik'. Karena, sewaktu kita masih abege, ortu yang sukanya was-was dan wanti-wanti agar kita nggak bergaul yang aneh-aneh. Eh, sekarang justru kita yang takut merekanya salah gaul di sosmed.

Yang lebih bikin pusing lagi adalah, menjelaskan pada para sesepuh tentang hoaks bukanlah perkara yang mudah, saya pun sudah berkali-kali mencobanya. Memang ada sebabnya sih para ortu ini gampang tersesat di dunia maya. Mungkin dua alasan ini bisa menjelaskan.

Para orang tua kita adalah imigran digital

digital natives digital immigrants

Penghuni dunia digital dibentuk oleh dua tipe penduduk, yaitu digital natives dan digital immigrants. Kedua istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Mark Prensky pada 2001. Menurut Prensky, digital natives atau penduduk asli dunia digital adalah 'native speaker' yang memahami bahasa digital komputer, internet, dan game.

Sebaliknya, sebagai imigran digital, tentu saja para orang tua kita harus beradaptasi dengan dunia digital. Kedua tipe penduduk digital ini, bagi Prensky memiliki karakternya sendiri-sendiri.

Dan lebih dari itu, sebagai penduduk yang beradaptasi, imigran digital memiliki yang ia sebut dengan 'aksen'. Aksen di sini bisa diterjemahkan sebagai perilaku yang membuat imigran digital menjadi khas dari digital natives. 

Ada beberapa ciri khas yang disorot Prensky. Salah satunya adalah, para orang tua mencari informasi di  internet sebagai sumber kedua, bukan pertama. Tentunya ini beda sekali dengan kita yang memang digital natives, kan?

Ketika kita ingin mengetahui sesuatu, kita justru lebih terbiasa mencari segalanya di internet. Meski kita juga tidak jarang bertanya pada orang lain, tapi mencari jawaban di internet membuat kita merasa lebih percaya dengan validitas informasi yang ingin kita cari. 

Kalau dipikir-pikir lagi, ini cukup paradoks, bahwa para orang tua mencari second opinion di internet, tapi juga sering mendapat sesat opini di dalamnya.

Sedangkan kita yang lebih percaya internet sebagai sumber utama, justru lebih mudah membedakan mana informasi yang dirasa memang kompeten dan tidak. 

Ini artinya, para imigran digital masih dalam proses belajar cara kerja dunia digital, dan kegagapan seperti ini wajar terjadi. Dan sayangnya, kegagapan tersebut rupanya bukan hanya terjadi dalam proses memilah informasi, namun juga saat menerimanya.

Prensky mengatakan bahwa digital natives terbiasa dibanjiri informasi dengan begitu cepat. Sudah pasti ini keuntungan tersendiri karena kita secara otomatis lebih mudah menerima dan memproses informasi yang datang dibanding imigran digital.

Jadi, sudah jelas kan, kenapa orang tua kita sering banget kecantol hoaks dan percaya mentah-mentah? Karena sistem adaptasi mereka memang masih berjalan dan pastinya ini makan waktu lama. Wajar saja jika mereka tidak tangkas menangkis dan menerima umpan informasi dibanding kita.

Namun, mudahnya terpancing hoaks ini juga tidak serta merta karena lamanya adaptasi itu sendiri lho. Jangan lupa seiring menuanya seseorang, sistem kognitif juga ikut melambat. Bayangkan saja di era bah informasi seperti ini para orang tua justru kognitifnya jadi selow. Jadinya, hingga waktu yang tidak bisa ditentukan, kitanya yang kudu sabar membimbing mereka.

Literasi yang mereka kenal berbeda dengan gaya literasi yang kita kenal

digital natives digital immigrants

Sebenarnya faktor ini masih ada hubungannya dengan kegagapan tadi. Bisa jadi, berhubung jaman dulu adanya koran dan buku, saat itu orang tidak punya banyak pilihan selain mempercayai apa yang terekspos di depan mereka. Intinya, mereka juga tidak perlu sering-sering memfilter informasi.

Akibatnya, para orang tua jadi tidak fleksibel dalam mencerna informasi di zaman sekarang yang datang berjubel tiap detiknya. Dan dapat dibilang, akibat sangat lama terpapar informasi dari sumber terbatas serta tidak perlu repot-repot capek memfilter, kebiasaan tersebut terbawa hingga saat ini.

Apa-apa asalkan dalam bentuk tulisan, orang tua mudah percaya. Sedangkan ketika berada  di gaya literasi era digital, para orang tua tidak menyadari bahwa mereka memasuki dunia di mana kita sendiri yang memilih apa yang kita percayai di antara terlalu banyaknya pilihan.

Bisa terpikir dong, bagaimana generasi yang banyak manut dengan sumber literasi terbatas di eranya, lalu diberikan banyak pilihan yang bahkan bagi mereka sendiri tampak asing.

Akibat kepatuhan pada 'bacaan', tidak jarang kita dapat forward message di grup keluarga yang misalnya 'Hati-hati, kartun Spongebob sebenarnya menyebarkan Illuminati' atau 'Vaksin telah dicampur darah monyet, kemarin anak saya langsung lemas'. Hmmmm runyam sudah kalau forward message semacam ini di-forward ribuan emak-emak dan bapak-bapak.


Seperti itulah kira-kira beberapa penyebab kenapa imigran digital yang tidak lain orang tua kita sering banget halu dengan japri hoaks. Bisa jadi alasan di atas bukan satu-satunya dan kamu bisa menemukan orang lain yang memberikan alasan berbeda.

Yang jelas, seperti kata Mbak Kalis tadi, jihad kita saat ini adalah membimbing orang tua agar tidak termakan hoaks. Karena masalahnya, perundangan yang berkaitan dengan teknologi, terutama UU ITE ini suka main one fits all. Nggak cute banget kan kalo ada berita semacam 'Bapak-bapak Terancam Bui karena Menyebar Rumor Kiamat Lewat Whatsapp'?