Fenomena Remaja Alay di Media Sosial

Daripada bikin video prank pocong, mengocok minuman di supermarket, kenapa nggak sekalian memviralkan diri yang berfaedah ala Eggboy?

Fenomena Remaja Alay di Media Sosial
Photo by Pixabay from Pexels

Namanya remaja pasti suka mencari sesuatu yang bisa menyerap perhatian dan diakui, sehingga mereka tidak segan untuk tampil beda.

Itu memang sudah naluriahnya para remaja, kita pun pernah melewatinya dalam skala tertentu. Tetapi, belakangan ini kasus seperti meremas mie di swalayan atau selfie bareng kecoak, menurut kalian keterlaluan nggak, sih?

Video alay dan bodoh di Indonesia memang gampang banget viral.

Masyarakat di tempat kita terbukti suka mengisi waktu luang dengan scrolling postingan yang nggak penting dan bisa dibilang mubazir buat akal sehat. Kita memang belum terbiasa mengisi waktu luang dengan kegiatan kaya gizi seperti baca buku atau keliling kompleks pakai sepeda atau juga bikin prakarya.

Hobi scrolling dan like postingan nirfaedah ini mampu menyumbang pundi-pundi likes pada si pembuat unggahan.

Dan ternyata, remaja kita cepat juga menangkap peluang seperti ini. Sayangnya hal ini tidak selalu diterjemahkan dengan baik oleh para remaja. Sebagian justru muncul video-video yang merugikan orang lain dan mengundang hujatan netizen.

Salah satunya adalah beberapa mahasiswi Universitas Muhammad Makasar yang kapan hari meremas mie instan di supermarket.

Walaupun mereka terbilang bukan remaja lagi, tetapi toh ternyata impian menjadi viral mampu membutakan akal sehat.

Dan ujung-ujungnya sebenarnya sudah bisa kita tebak, mereka mengunggah video klarifikasi permintaan maaf di media sosial.

Bukankah ini siklus yang bikin gedeg, tapi juga toh tetap dilakukan beberapa orang?

Fenomena remaja yang bikin video alay ini tidak hanya ditemukan di Indonesia, kok. Dua tahun lalu ada seorang Youtuber remaja asal Spanyol memberikan oreo yang isinya diganti pasta gigi pada seorang tunawisma. Tentu saja hal ini memancing hujatan dari para netizen.

Alay, Narsis, Ingin Tampil Hebat, memang sudah merupakan hal alami yang akan dialami setiap remaja.

Namun, ini justru merupakan lampu peringatan agar orang di sekitarnya mampu menjadi pengingat bagi mereka. Apalagi, pada usia seperti ini, mereka masih meraba-raba segala hal dikarenakan rasionalitasnya belum sebaik dan sestabil orang dewasa.

Selain eksposur, kita memang kurang dididik untuk menjadi pribadi yang produktif dalam artian penuh karya.

Kamu juga sadar kan, dari dulu kita cuma disuruh belajar mengejar nilai. Kalau libur? Sebelum ada media sosial, sih masih bisa main sama anak tetangga. Atau pilihan tidak produktifnya ya nonton televisi.

Kalau sekarang, otomatis pilihan nonton tv dan main sama anak tetangga digantikan sama main android. Kumpul sama anak tetangga pun, adik-adik kita unjungnya pegang android masing-masing.

Pikiran yang tidak terlatih menghasilkan karya ini sayangnya juga diperburuk dengan minimnya wadah bagi para remaja.

Tidak semua kawasan perkampungan punya fasilitas seperti lapangan atau perpustakaan bersama, dan sebagainya. Apalagi, untuk mengikuti kegiatan yang menunjukkan potensi mereka juga terkadang terkendala biaya. Mau ikut les ini itu atau kelas-kelas kegiatan, tentu harus mengeluarkan biaya, kan?

Maka dari itu, tentu saja media sosial adalah sarana yang mudah, cepat, dan terjangkau bagi adik-adik kita untuk menunjukkan kehebatan.

Sebenarnya bisa saja video alay ini diminimalisir dengan pemikiran yang kritis. Masalahnya lagi, di Indonesia kita tidak dibiasakan demikian.

Turun-temurun kita dicekoki pemikiran rajin belajar agar dapat nilai bagus, titik. Jadi, mereka sulit melihat manfaat lain dari belajar dan membaca, selain agar dapat nilai bagus.

Jika budaya kita lebih menanamkan bagaimana berpikir secara komprehensif dan kreatif, mungkin yang ada justru video sejenis Eggboy, yang melemparkan telur ke senator rasis Australia. Si Eggboy ini bukan malah memancing hujatan netizen lokal, justru pujian dan dukungan dari seluruh dunia.

Tapi memang kita tidak bisa menyalahkan sepenuhnya para remaja alay Indonesia ini.

Toh, sebagian orang dewasa di antara kita memang memberi contoh demikian. Kita sebagai orang dewasa kurang serentak memberi panutan bagaimana agar lebih sensitif terhadap isu-isu sosial di sekitar kita.

Kita juga masih banyak yang belum memberikan sumbangsih nyata terhadap fenomena perubahan iklim, ketidakadilan gender, diskriminasi kaum marjinal, dan sebagainya.

Apalagi, kanal Youtuber Indonesia yang populer di kalangan remaja dan anak-anak, beberapa justru tidak memberikan manfaat terhadap pola pikir.

Ya, mau bagaimana lagi, ini juga PR panjang buat kita bersama.