Fireworks

Hanya sedikit tentang kembang api di malam itu.

Fireworks
Photo by Matt Popovich from Unsplash

"Yo, kamu mau enggak..."

Deg.

"Kamu mau enggak..."

Deg, deg.

"... mau enggak temani aku ke pesta tahun baru besok?"

Aryo Dinata, remaja SMA otaku itu hampir saja membeku di tempat. Ini pertama kalinya—untuk pertama kalinya—ada seorang gadis, ya, seorang manusia normal di luar komunitasnya mengajaknya keluar. Bukan untuk menyaksikan festival anime musiman yang biasa ia nikmati bersama komunitasnya, melainkan untuk menghadiri kegiatan remaja normal yang biasa dilakukan teman-teman seusianya.

Kencan. Kata yang sama terus menggema di kepala Aryo. Dia tidak mungkin lupa bagaimana Delia memintanya dengan wajah memerah. Tidak semerah wajah Aryo ketika sedang memikirkan hal-hal mesum dengan koleksi dua dimensinya. Setidaknya, sedikit semburat merah di pipi Delia waktu itu cukup untuk menunjukkan kalau dia sedang berusaha keras melontarkan ajakan itu.

Berpikir akan melihat kembang api bersama seorang gadis di malam tahun baru nanti membuat Aryo senang bukan main. Baju apa yang harus dipakainya, gaya karakter di anime mana yang harus ditirunya, atau bagaimana caranya agar selama festival nanti Delia tidak bosan bersamanya terus berputar dalam otak Aryo.

Ah, membayangkan gadis yang sudah diincarnya sejak tahun pertama kuliah itu akan mengenakan dress saja sudah membuat wajahnya memerah. Maklum, di pesta tahun baru kali ini, Delia menjadi salah satu pengisi acara sebagai perwakilan untuk tim paduan suara dari kampus mereka. Ini bisa jadi momen yang tepat untuk mendapatkan Delia. Setidaknya begitu yang dipikirkan Aryo.

"Umm... jadi, Ran, menurut kamu apa yang paling disukai cewek di acara tahun baru?"

"Wah, Yo, kamu mau tahun baruan sama siapa?"

Sepasang mata milik gadis berponi itu memicing. Tentu saja itu membuat Aryo waspada. Tidak seharusnya dia menanyakan itu kepada Rana. Namun sebagai satu dari sedikit perempuan di komunitas otaku yang diikuti Aryo, dia tidak punya banyak pilihan. Paling tidak, gadis menyebalkan itu tidak boleh tahu kalau dia akan ke pesta tahun baru bersama Delia, gadis incarannya. Aryo bisa jadi bahan perundungan di satu komunitas.

"Haah, sayang sekali. Padahal aku baru saja mau ngajak kamu ke sana." Rana mendesis, pelan sekali. 

Semenjak masuk komunitas itu, Aryo adalah teman lelaki pertama Rana di sana. Menurutnya, member lelaki lainnya cukup agresif pada member wanita, sehingga Rana tidak terlalu merasa nyaman bergaul dengan yang mereka. Namun ia merasa Aryo berbeda. Pemuda yang cukup pemalu itu membuatnya dapat bersikap bebas di sekelilingnya.

"Eh? Tadi ngomong apa?"

"Hah? Ah, anu... Pokoknya, jangan sampai mood-nya rusak! Kalau cewek sudah dibuat kecewa satu kali, semuanya pasti berantakan. Ya gitu, deh. Ahahaa."

Tawa itu…

Mencurigakan.

Jauh sebelum ini, Aryo Dinata tidak pernah melibatkan diri dalam kegiatan remaja normal seusianya. Sejak kecil, dia sudah memiliki kegemaran sendiri pada Negeri Sakura, bahkan sempat menjadikannya obsesi. Teman-teman sekelasnya pun sering mengatainya aneh, oleh karena itu Aryo sempat membuat batasan tersendiri bagi orang-orang yang memiliki kegemaran sama sepertinya dengan kelompok orang normal lainnya.

Delia pun salah satunya—manis, asyik, dan populer, adalah kasta tertinggi yang dimiliki oleh kelompok orang-orang normal. Setidaknya begitu yang dipikirkan Aryo, sampai suatu ketika Delia menghampirinya di kampus dan mengajaknya berdiskusi tentang salah satu serial anime yang sedang diikutinya. 

Meski ketika itu, Aryo sadar betul Delia sepenuhnya mengendalikan topik pembicaraan mereka. Aryo yang cukup gugup untuk mengobrol dengan gadis normal tidak bisa berbuat banyak selain menjawab sekenanya pertanyaan Delia dan menikmati tawa renyah gadis manis itu. Ah, andai ia dapat menghentikan waktu seketika itu juga.

"Ah, Delia!" seru pemuda yang sering mengaku sebagai otaku itu ketika melihat seorang gadis yang tampak sedang tersesat di kejauhan. Maklum saja, mereka datang secara tidak bersamaan, karena Delia perlu mengurus beberapa hal sebelum menemui Aryo di lokasi pesta tahun baru.

Malam tahun baru yang dinanti itu tiba juga. Aryo dengan gaya kasualnya melangkah dengan penuh percaya diri. Dalam bayangan Aryo, Delia yang biasanya tampil tomboy pasti terlihat sangat cantik dengan balutan dress. Ia bahkan sudah tidak sabar ketika menerobos kerumunan pengunjung untuk meraih tangan Delia dan menggandengnya menyusuri lokasi acara.

Sungguh khayalan yang romantis.

"Laaahh? Del, kamu ga salah kostum? Katanya nanti perform."

Seketika itu pula angan-angan Aryo meruntuh. Dia baru berjarak empat meter dari Delia, namun sudah nyaris mengurungkan niat berkencannya.

Delia Chandrawati, gadis yang sedang dipujanya itu menghancurkan khayalan indahnya dengan mengenakan selembar kaus dan celana jin panjang—tidak jauh berbeda dari gaya berpakaian Aryo malam itu. Demi Tuhan, untuk kali ini saja, tidak bisakah Delia memenuhi hasrat pemuda yang terlambat pubertas itu?

"Eh? Aku belum cerita, ya? Tim Paduan Suara dari kampus kita enggak jadi tampil di sini. Aku juga kurang tahu detailnya, kayaknya soal deal harga gitu."

Aryo tidak bisa menutupi rasa kecewanya. Penampilan Delia saat ini tidak ubahnya dengan Delia yang ia temui sehari-hari di kampus. Padahal, ia sudah sangat berharap dapat melihat sisi lain Delia malam ini. Itu satu poin minus yang dirasakan Aryo.

Namun lihat sisi positifnya. Seorang gadis yang disukainya setahun lebih memilih untuk menghabiskan malam tahun barunya dengan seorang yang—tidak biasa—seperti Aryo. Mereka memang cukup dekat sejak sering berdiskusi tentang beberapa serial anime. Tapi Aryo masih tidak percaya kalau Delia memilih pergi bersamanya. Seorang yang ceria dan menyenangkan seperti Delia pasti punya banyak teman yang bisa diajak tahun baruan bersama. 99 poin untuk kekhilafan Delia yang akan menghabiskan sisa-sisa malam di tahun ini bersama Aryo.

"Kamu suka es krim?" Aryo berusaha memegang kendali alam sadarnya. "Di sebelah sana ada yang jual es krim mochi. Kayaknya enak. Mau coba?"

Tidak butuh waktu lama untuk Delia menganggukkan kepala dan membiarkan Aryo menarik lengannya dengan lembut. Bak sedang menyentuh sebuah porselen antik, Aryo hanya menggenggam pergelangan tangan Delia dengan penuh kehati-hatian. Andai saja Delia tahu detakan kuat yang sedang bergemuruh di dalam dada lelaki itu. Dan andai saja Aryo dapat melihat senyuman tipis yang sedang diukir Delia yang mengikutinya dari belakang. 

Ah, anak muda.

Dari pijakan mereka sekarang, langit tidak tampak begitu gelap. Warna-warni cahaya lampu di sekitar menjadikan hitamnya malam tak dapat merajai waktu terbaiknya. Permata-permata kecil di hamparan langit pun nyaris tak menampakkan sinarnya—kalah dengan gemerlap lampu-lampu di keramaian.

Aryo dan Delia sudah bersama es krim pilihan mereka, terduduk di tepi balkon yang mengelilingi taman lokasi pesta berlangsung. Malam sudah semakin larut, meski belum selarut itu untuk memulai pesta kembang api.

"Ini bukan jamnya makan karbo, loh. Kalau aku jadi gendut, yang salah kamu, Yo." Sambil berkata demikian, suapan demi suapan es krim mantap menjadi santapan Delia. Ekspresi sebal yang sengaja dibuatnya justru tampak lucu bagi Aryo.

"Ciyeee, Yoyo jadi ke sini sama Delia ternyata."

Suara sumbang itu, Aryo hafal betul dengan panggilan sok akrab yang baru saja mengalun ke arahnya. Arman, yang di belakangnya diikuti oleh Wayan. Mereka adalah salah dua teman dari kalangan normal yang dimiliki Aryo.

Arman, seorang lelaki jangkung dengan tubuh atletis yang gemar menghabiskan akhir pekannya berkutat dengan tumpukan bola besi. Lalu Wayan, sosok berkacamata yang menjadi idola junior-junior di kampus. Aryo tidak tahu dan tidak mau tahu bagaimana keduanya bisa menjadi teman akrab seperti sekarang. Yang Aryo tahu, mereka adalah dua orang selain dirinya yang sering menjadi sumber informasi Delia tentang serial dua dimensi favoritnya. 

Dengan kata lain, pesaing.

"Perasaan aku enggak ada ngajak kalian, deh," sahut Aryo datar, yang segera disambar dengan cibiran teman-temannya. Meski tak menampakkan ekspresi apapun, keduanya tahu betul kalau Aryo merasa terganggu dengan kehadiran mereka.

"Duh, Aryo. Gini, ya, kita ajarin. Kalau ada laki-laki dan perempuan sedang berduaan, maka yang ketiganya adalah setan." Arman melirik pada Wayan yang mulai menampakkan ketidaktertarikan dengan memainkan ponselnya. "Berhubung sekarang kita berempat, setannya enggak ikutan, deh. Iya kan, Del?" Arman mulai melingkarkan lengannya pada pundak Delia, ia tahu betul cara ampuh untuk membuat Aryo geram.

Sementara gadis ceriwis itu hanya terkekeh geli dengan candaan Arman, Wayan mulai menarik-tarik sahabatnya sembari menyela, "Ayo, Man. Band-nya tampil sebentar lagi."

Pria berkacamata itu berdecak pelan melihat Arman tak berkutik barang sejengkal. Padahal Arman adalah yang memiliki ide dan memaksa Wayan untuk menemaninya menonton band di pesta malam itu. Mengutip kalimat Arman di sore tadi, "Aku enggak mau kelihatan jomblo sendirian." Namun kini, Arman justru menelan kalimatnya sendiri dan sibuk menggoda sejoli muda di sana.

Wayan kembali menarik napas pelan sebelum berucap, "Jadi nonton enggak, nih? Kalau enggak, aku pulang, ya."

Wayan ngambek. Ini bukan sesuatu yang bagus untuk Arman yang tugas-tugas kuliahnya selalu bergantung pada Wayan. Sontak saja Arman bergeser dan mengambil posisi aman.

Good job, Wayan. 

Aryo tak perlu membuang-buang tenaga untuk menyingkirkan seorang temannya yang cukup menyebalkan itu. Mereka memang cukup nyambung di beberapa topik anime atau game, namun di luar itu, eksistensinya saja sudah membuat Aryo geleng kepala.

Mari kembali ke kenyataan. Di sisi Aryo masih ada Delia. Itu saja seharusnya sudah cukup.

"Maaf ya, mereka memang suka resek." Gadis berambut pendek itu mulai menyandarkan kedua lengannya di atas balkon, memastikan kalau mood pemuda di sampingnya tidak berubah karena kejadian barusan. 

Di kelas, Aryo memang tidak banyak berinteraksi. Delia sudah memerhatikan itu sejak semester pertama mereka. Teman-teman di kampus banyak yang menganggap Aryo aneh karena tertarik secara berlebihan pada karakter imajinasi seperti pada film-film kartun. Ini cukup mengusik Delia yang sebenarnya juga punya ketertarikan yang sama. Oleh karena itu, ia mengambil inisiatif duluan untuk berkomunikasi dengan Aryo, termasuk mengenalkannya pada beberapa teman yang lain.

"Kamu enggak marah kan, Yo?"

Sekali lagi Aryo terbangun dari lamunan singkatnya. Es krim di tangannya mulai tampak mencair. "E- eh, kenapa Del?"

Dia memang tidak memerhatikan sejak tadi.

Delia membuang napas dengan agak keras, sengaja mengisyaratkan kalau suasana di sana mulai tidak asyik. "Mau pulang? Aku udah cukup senang, kok." Delia melirik Aryo yang sekarang mulai kebingungan.

Pulang? Ini malam sekaligus event yang paling dinanti Aryo dalam satu tahun penantian cinta diam-diamnya, tetapi Delia malah mengajaknya pulang dengan ekspresi seolah tidak mengerti apapun.

"Delia!" serunya. Dadanya yang terbungkus kaus biru tua itu tampak bergerak tidak teratur. Aryo kini memberanikan diri untuk merengkuh kedua bahu mungil Delia "Sebentar lagi aja, ya. Please."

Aryo menunduk, dia benar-benar sedang memohon sekarang. Benar. Otaku yang tidak mengerti apapun tentang wanita itu sedang memohon sekarang. Meski tidak dapat melihat Delia dengan dress-nya, meski terus diinterupsi oleh Arman dan Wayan, setidaknya sebentar saja, Aryo ingin menikmati kebersamaan mereka. Sebagai remaja normal tentunya, untuk sesebentar itu saja Aryo ingin berada di sana dan menikmati penghabisan malam akhir tahun itu bersama Delia.

Delia menoleh padanya, bingung. Namun sesaat kemudian, "Baiklah." Singkat. Khas gadis polos itu.

Sekarang suasana benar-benar membeku. Aryo dan Delia kembali bersandar di tepi balkon yang sama, memandang langit dan menunggu saat bunga-bunga api malam itu meledak di atas mereka. Dari kejauhan, riuh terdengar suara orang-orang meneriakkan hitungan mundur pertanda pergantian tahun akan segera tiba. Ah, sepuluh detik itu benar-benar terasa lama sekarang.

Kalau seperti ini, agaknya mereka terlihat seperti sepasang kekasih sungguhan.

Semoga.

"Delia... Sebenarnya aku..."

Dhuar

Kembang api pertama meledak di langit. Tahun yang baru telah tiba. Aryo menengadah, meresapi warna-warni yang begitu cantik di atas sana. Entah kenapa, rasanya tidak ada yang perlu ia lanjutkan. Padahal sesaat tadi hati pemuda itu masih menggebu-gebu. Mungkin kembang api malam ini sudah sedikit menghangatkan.

Dhuar.

Itu suara ledakan berikutnya. Motif bunga daisy sekarang tergambar di langit. Aryo maupun Delia tidak sedikit pun melepaskan pandangan mereka dari langit. Senyuman lebar kini merekah di wajah keduanya. Takjub dengan kerlap-kerlip bunga-bunga api di hamparan langit hitam.

Dhuar.

Ledakan ketiga. Warna merah dan jingga berpendar di langit malam. Cantik sekali. Kembang api dan juga Delia. Setidaknya kalimat itu yang melintasi benak Aryo ketika memandangi gadisnya yang tak henti mengagumi keindahan di atas sana.

“Del, apa pesta kembang api selalu seindah ini?"

Pemilik nama itu hanya mengangguk, tanpa sedikit pun menoleh pada Aryo yang sedang mengagumi gadisnya. Mata hitam kecokelatan milik gadis itu berbinar, ada pantulan kembang api di sana.

Andai saat ini Aryo dapat meraih jemari kecil itu untuk memenuhi jemarinya, atau sekadar menggenggamnya dengan lembut. Tidak perlu dress atau apapun itu. Cukup menyaksikan kembang api berdua dengan Delia saja sudah sangat menyenangkan. Sedikit saja. Sedikit lebih lama lagi.

"Del, bikin janji, yuk!" Aryo mengubah posisi hadapnya dan menyodorkan kelingkingnya pada Delia. Delia pun kini sudah melepaskan pandangannya dari ledakan-ledakan cantik di atas langit. "Tahun depan dan tahun-tahun berikutnya, ayo kita lihat kembang api bersama-sama lagi," ujar Aryo yang kemudian disambut anggukan penuh antusias dari Delia.

Kali itu ada senyuman yang sama. Di tepi balkon yang sama. Dipayungi kembang api yang sama. Aryo dan Delia saling menautkan kelingking, mengucap janji yang sama. Tidak ada kata cinta, lamaran, apalagi sebuah ciuman. Ini hanyalah permulaan dari sebuah kisah cinta yang sederhana.