Gangguan Bipolar Bukan Kepribadian Ganda

Lemahnya pemahaman kesehatan mental sering membuat masyarakat menyimpulkan yang tidak-tidak.

Gangguan Bipolar Bukan Kepribadian Ganda
Photo by Christian Newman from Unsplash

Narasi seputar kesehatan mental memang mulai diangkat baru-baru ini. Tetapi tentu saja isu ini baru menyentuh kalangan muda, terutama millenial dan generasi Z. Bagi para senior kita, mereka belum tersentuh, atau mungkin juga belum ada ketertarikan menyentuh pembahasan seputar isu tersebut.

Padahal, narasi yang telah terkonstruk perihal kesehatan mental selama ini dibangun berdasarkan pemahaman mereka. Sayangnya, pemahaman yang mereka punya dan dapatkan juga bukan sebuah dasar pemikiran yang utuh.

Buktinya, menghadapi ODMK (Orang Dengan Masalah Kejiwaan) dan ODGJ (ORang Dengan Gangguan Jiwa) mereka masih gagap dan diselimuti stigma-stigma yang keliru. Salah satunya dengan menganggap penderita gangguan bipolar sebagai pengidap kepribadian ganda.

Hal-hal seperti ini tentunya akhirnya dibebankan pada generasi selanjutnya, yaitu kita, untuk meluruskan.

Lebih tepat jika dikatakan bahwa gangguan bipolar adalah gangguan mood yang parah. Atau bahasa bekennya severe mood swing. Kenapa dikatakan bipolar adalah karena ada dua kutub mood ekstrem yang datang bergantian, yaitu manik dan depresi.

Menurut NIMH (National Institute of Mental Health), bipolar juga diketahui sebagai penyakit manik-depresif, adalah sebuah gangguan pada otak yang menyebabkan pergantian mood serta tingkat energi dan aktifitas yang tidak biasa, juga dalam kemampuan melakukan aktifitas sehari-hari. 

Dalam gangguan bipolar, ada juga yang disebut sebagai hipomanik, yang tingkatnya sedikit di bawah manik. Anggapan orang yang keliru terhadap pengidap gangguan bipolar ini adalah karena di saat fase manik/hipomanik, penderitnya bisa bersikap sangat berbeda dibanding saat depresi. Namun, mereka tetap mengenali diri mereka sebagai orang dengan identitas tunggal. 

Perbedaan mencolok manik/hipomanik dan depresi dapat ditunjukkan dengan kondisi fisik dan psikis. Setiap sumber yang kamu temukan akan mengatakan sifat general yang sama pada kondisi manik/hipomanik.

Jika kita merujuk pada salah satunya, yaitu Mayoclinic, di sana disebutkan bahwa ketika pengidap gangguan bipolar mengalami hipomanik/manik, ia akan merasakan pengingkatan energi yang luar biasa, sangat percaya diri, seperti tidak butuh tidur, dan pikiran yang terus menerus berpacu.

Di saat fase manik, orang di dekat penderita akan merasa bahwa kawannya tidak biasanya lebih banyak bicara, walaupun penderitanya juga akan merasakan hal seperti ini. Yang kedua, ketika dalam fase depresi, penderita akan mengalami dan merasakan hal yang benar-benar berkebalikan dari fase manik/hipomanik.

Mungkin sebagian dari kita sudah tahu beberapa ciri khas keadaan depresi. Masih merujuk pada Mayoclinic, ketika mengalami fase depresi, penderita akan merasakan tingkat energi dan mood yang ekstrem rendah.

Di samping itu, beberapa gejala lainnya adalah kehilangan minat sama sekali untuk beraktifitas, insomnia atau hipersomnia, merasa tidak berharga atau mengalami rasa bersalah yang berlebihan, kesulitan konsentrasi atau sulit membuat keputusan, kehilangan selera makan atau memiliki selera makan berlebihan, dan berhasrat bunuh diri atau menghilang.

Dikarenakan ada beberapa gejala dari bipolar yang mirip dengan masalah kejiwaan lainnya, maka untuk mendiagnosa gangguan bipolar membutuhkan waktu yang tidak boleh terburu-buru.

Selain dikarenakan gejala yang overlap, seorang pengidap juga bisa mengalami penyakit lain selain gangguan bipolar, seperti OCD (Obsessive Compulsive Disorder) atau gangguan kecemasan dan lainnya. Menurut Medical News Today, dokter juga bisa melakukan pemeriksaan fisik menggunakan urin atau darah.

Yang jelas, berbagai sumber sepakat bahwa penyebab dari gangguan bipolar adalah genetik, biologis (struktur otak), dan lingkungan yang tidak mendukung. Dari sini, kita tahu bahwa sama sekali tidak tepat untuk mengatakan bahwa pengidap bipolar adalah orang dengan kepirbadian ganda.


Lemahnya pemahaman kesehatan mental sering membuat masyarakat menyimpulkan yang tidak-tidak. Tapi, kita tidak perlu ikut-ikut menegaskan stigma atau ide yang salah tanpa mengetahui seluk beluk yang pasti. Perjalanan untuk meningkatkan kesadaran kesehatan mental di Indonesia sepertinya akan menemui waktu yang lama.

Agar tidak membuat kesadaran dan proses pemahaman menjadi lebih lama, ada baiknya kita untuk tidak menyebarkan pendapat-pendapat tanpa dasar. Dan satu hal lagi, kesehatan mental bukan hal yang tidak penting.

Sama dengan kesehatan fisik, kesehatan mental juga sesuatu yang darurat untuk diperhatikan. Sebagaimana vitalitas kesehatan mental mempengaruhi berbagai aktifitas keseharian dan utamanya dalam berelasi antar manusia.