Gen Patriarkis Cuma Bikin Rugi, Bahkan untuk Sesama Perempuan!

Gen patriarkis sama sekali nggak seksi!

Gen Patriarkis Cuma Bikin Rugi, Bahkan untuk Sesama Perempuan!
Photo by Radomir Jordanovic from Pexels

Judul di atas terinspirasi dari salah satu sub bab dalam buku Sapiens karangan Yuval Noah Harari. Dalam buku tersebut memang diceritakan bahwa sifat patriarkis manusia tidak cuma telah bertahan ratusan tahun, bahkan sudah berabad abad jauh sebelum ini.

Sampai saat ini, sifat patriarkis memang masih bisa mendominasi sangat banyak negara di seluruh dunia. Dan ini terjadi walaupun setelah berabad-abad lamanya ada banyak bukti, bahwa karakter biologis hampir sama sekali tidak membatasi perempuan melakukan aktifitas manapun. Termasuk yang diidentikkan dengan laki-laki, dan begitu juga sebaliknya.

Contohnya, di Jepang ada alat transportasi tradisional serupa becak yang ditarik manusia. Penarik becak tersebut pun juga banyak yang berasal dari kaum perempuan meskipun terpusat pada pengerahan fisik. 

Sayangnya, gen patriarkis tidak cuma diperkuat dengan alasan karakter biologis saja. Nyatanya, berbagai kepentingan, terutama yang politis ikut membuat patriarki tidak goyah meskipun dunia mengalami berbagai macam revolusi. 

Pandangan patriarkis memberikan keuntungan pada satu pihak saja, bahkan dalam cara yang sifatnya legal. Cara yang legal tersebut keluar dalam bentuk regulasi regional atau kebijakan publik. Jadi, pandangan ini bisa sangat menguntungkan satu pihak dan merugikan yang lainnya bukan secara kostruk sosial tidak tertulis saja.

Dan berbagai ketimpangan keuntungan baik yang didapatkan dari konstruk legal maupun tidak, telah berlangsung ratusan tahun di berbagai belahan dunia yang pemerintahannya masih sangat patriarkis. 

Ketika keadaan semacam ini sudah lama bertahan, orang-orang, terutama laki-laki patriarkis menjadi sangat nyaman karena diuntungkan atas pandangan patriarki. Tidak heran, ketika para aktivis mengusik zona nyaman mereka, para pemegang pandangan patriarkis tidak terima dan berusaha mempertahankan pandangan ini sekuat mungkin. 

Gen patriarkis memang tidak cuma merugikan dan merusak citra perempuan dalam masyarakat saja. Aspek fisik, ekonomi, politik, dan mental juga turut serta terkena dampak buruk atasnya. Lebih lagi, di diri masing-masing dan di kalangan antar subjek perempuan itu sendiri, gen patriarkis tidak kalah mengikis dari dalam.

Gen patriarkis membuat perempuan sering merasa bersalah tanpa melakukan kesalahan

Gen patriarkis dalam masyarakat

Gen patriarkis membuat perempuan banyak disalahkan dan dibebani tanggung jawab moral oleh masyarakat. Contohnya, apa yang dipakai oleh perempuan diatur-atur baik oleh regulasi tertulis maupun tidak. Hal ini dilakukan dengan alasan untuk menghindari kejadian yang tidak diingingkan seperti pelecehan seksual.

Namun, tidak ada yang mengatur bagaimana cara laki-laki berpakaian dan masyarakat justru terkesan memaklumi objektifikasi dan pelecehan terhadap perempuan dikarenakan ada 'pemahaman' bahwa laki-laki memiliki nafsu yang lebih besar. Ini tidak cuma berujung pada pemakluman, namun juga membuat semua perempuan mengalah pada kondisi laki-laki.

Padahal, pelecehan seksual diakibatkan pelaku yang memiliki naluri kuasa-superior (boleh melakukan apapun atas subjek lain), anehnya justru korban yang diminta mengalah. 

Namun ada juga pendapat lain yang mengatakan bahwa sebenarnya nafsu perempuan lebih besar, yang mana cukup ironi juga karena faktanya lebih banyak kasus pelecehan dilakukan oleh laki-laki daripada perempuan. 

Paradoks atas pengaturan pakaian perempuan terlihat sangat mencolok pada fenomena mob rape/gang rape yang banyak terjadi di Timur Tengah.

Jangankan memakai rok pendek, banyak korban yang bahkan memakai cadar, tetapi sekumpulan laki-laki tetap tidak bisa menahan dirinya untuk mengerumuni perempuan dan melakukan berbagai pelecehan seperti meraba, memeluk, dan sebagainya. 

Bias kontradiktif perlakuan masyarakat yang patriarkis terhadap perempuan dan laki-laki, membuat banyak perempuan merasa bersalah karena tidak menuruti konstruk yang diinginkan masyarakat terhadap perempuan.

Hal ini dikarenakan iklim yang patriarkis sudah terlalu lama dan diamini banyak pihak. Sehingga, bersikap berbeda dapat membuat seorang perempuan merasa bersalah seakan tidak taat aturan.

Dampak gen patriarkis antar subjek perempuan itu sendiri

Gen patriarkis dalam masyarakat

Gara-gara ada gen patriarkis semacam ini, kaum perempuan sendiri banyak yang tidak menyadari telah menumbuhkan internal misogini (internalized mysogyny) dalam diri mereka. Internal misogini bisa diartikan sebagai sikap menjauhkan diri dari perempuan, justru karena merasa inferior terhadap gendernya sendiri.

Yang paling sering bisa ditemukan di kasus ini adalah saat seorang peremouan berkata, "Aku lebih suka temenan sama laki-laki karena perempuan banyak drama,". Rasa minder terhadap gender sendiri ini adalah pengaruh masyarakat yang terlalu mengunggulkan gender laki-laki.

Salah satu contoh inferiority complex yang cukup menyedihkan pernah saya temui saat ada seseorang berkata bahwa perempuan numpang hidup di dunia laki-laki. Sementara memegang ide seperti ini, orang tersebut juga mempercayai bahwa Tuhan Maha Adil.

Lhah, kalau ia sungguh percaya Tuhan Maha Adil, harusnya juga percaya bahwa semesta ini diciptakan bagi gender manapun bukan?

Gen patriarkis dalam diri perempuan juga tidak jarang menghendaki sesamanya untuk saling mengalahkan-menyalahkan-mengintimidasi alih-alih saling mendukung. Misalnya, stigma negatif terhadap janda, atau identifikasi yang salah bahwa perempuan selain dirinya berdandan demi menyenangkan laki-laki.

Padahal, stigma dan sikap saling menyalahkan antar perempuan sudah pasti akhirnya akan merugikan diri mereka sendiri. Stigma-stigma negatif yang ditujukan dari perempuan ke perempuan lain juga sangat sering hanya berdasarkan ide yang baseless atau tidak berdasar, lagi-lagi akibat gen patriarkis itu sendiri. 

Sungguh aneh ketika sikap saling mendukung tidak lebih dipilih, meskipun sudah nampak jauh lebih menguntungkan demi para perempuan sendiri. Terlebih lagi, toh dukung-mendukung ini tidak dimanfaatkan untuk mengalahkan laki-laki, tapi untuk membuat kaum perempuan lebih kuat dari pengaruh patriarkis. 


Karena sifat patriarkis sudah sangat lama berkelindan dengan masyarakat dunia, tentu sangat sulit untuk manusia sepenuhnya meninggalkan pandangan ini. Apalagi sudah terbukti sejak berabad-abad lalu bahwa pandangan ini tidak goyah di tengah peradaban yang telah mengalami berbagai bentuk dinamika.

Namun, semakin berapi-apinya kaum feminis selama beberapa tahun terakhir merupakan angin segar yang sangat ditunggu-tunggu. Sesungguhnya tidak bisa lagi orang mengatai para SJW ini sebagai angry women. Tanpa mereka, kualitas hidup kaum perempuan dan berbagai golongan masyarakat yang dinomor-sekiankan tidak akan beranjak dari era Siti Nurbaya.