Generasi Z Membangkitkan Kejayaan Manga di Indonesia

Kamu ingat tidak, berapa jumlah tempat persewaan komik di dekat rumahmu pada awal tahun 2000-an?

Generasi Z Membangkitkan Kejayaan Manga di Indonesia
Photo by Miika Laaksonen from Unsplash

Beberapa tahun terakhir, ketika kita sudah menjadikan dunia maya sebagai rumah kedua, beberapa hal dunia nyata akhirnya menjadi opsi kedua atau kesekian.

Dulu, saat anak SD atau SMP, anak SMA, dan termasuk kita, baru selesai ujian semester, apa kamu ingat apa yang kita lakukan?

Mentang-mentang ujian selesai, kita bawa komik kemana-mana, khususnya manga.

Kalau kamu ingat, manga lucu seperti Miiko, Crayon Shinchan, Doraemon, dan juga manga yang lebih cowok seperti Dragon Ball adalah barang yang lekat di tangan saat kita sudah tidak ada pelajaran.

Secara perlahan, tren ini berubah ketika Android menjelma kantong Doraemon bagi setiap orang.

Apa yang dipegang anak-anak dan remaja tadi pun berubah. Kamu ingat tidak, berapa jumlah tempat persewaan komik di dekat rumahmu pada awal tahun 2000-an?

Di dekat rumah saya, ada 3 buah persewaan komik yang semuanya terbilang lengkap, dan kira-kira saat mendekati tahun 2010, mereka semua lenyap.

Sebagai gantinya, saat ini penikmat setia manga dan anime lebih memilih membaca via online. Itu pun kita tidak tahu atau masih kabur, ada berapa persen pembaca setia manga online di Indonesia.

Sebaliknya, hal yang lebih terlihat adalah tren yang sekarang bergeser. Mungkin sebagian dari kita generasi milenial masih sempat menikmati manga atau komik dari negara lain versi cetak ya. Tetapi, itu akan cukup berbeda dengan generasi Z, dimana mereka tinggal di dunia maya yang telah ter-upgrade.

Produsen pasar komik atau manga yang membaca pergeseran gaya hidup manusia otomatis mengikuti arus selera.

Sesuatu yang simpel, bisa diakses kapan saja, tidak mahal, dan mudah dibawa adalah yang dicari pecinta komik. Maka, terbitlah versi online manga, baik yang bajakan atau tidak.

Selain itu, ternyata banyak hal berpengaruh terhadap jumlah penikmat manga.

Salah satunya Hallyu Wave atau gelombang Korea.

Mereka menghadirkan alternatif komik berupa webtoon yang bisa dinikmati tidak hanya oleh anak-anak, bahkan hingga dewasa dengan selera yang lebih realistis. Otomatis, karena lebih luasnya kalangan yang dijangkau, ada kemungkinan penikmat webtoon saat ini, khususnya di Indonesia, lebih banyak dari penikmat manga.

Dan webtoon pun tidak hanya dihadirkan oleh penulis Korea saja, bahkan penulis Indonesia akhirnya juga ikut berkecimpung.

Sampai titik ini, apakah kamu sudah merasakan adanya gegar zaman?

Di samping webtoon, ada kemunculan Instagram yang tidak kalah praktis. Karena ia memang media berbasis gambar, maka jadilah ladang basah selanjutnya bagi kreator komik.

Namun, berbeda dengan webtoon yang sejatinya masih bersifat serial, kreator komik di Instagram menghadirkan opsi bagi kita-kita yang terbiasa dengan arus informasi yang cepat berganti dan mudah bosan.

Kemudian, banyak manusia kreatif yang mulai memunculkan komik strip di Instagram.

Para pencipta komik strip di Instagram ini juga bisa dibilang jenius, lho.

Ya bagaimana tidak, kalau manga atau webtoon, setiap penulis bisa mentarget audien yang lebih spesifik tanpa terlalu cemas dengan jumlah bab atau halaman. Misalkan, untuk genre serius seperti detektif, otomatis jumlah halamannya ratusan, dong.

Nah, kalau komik strip, untuk tema serius, ya apa bisa dibuat berhalaman-halaman? Bagi kreator komik strip, ide atau pemikiran yang bejibun harus bisa diringkas dalam 4 kotak di satu halaman, dan menarik untuk dibaca.

Untuk tema yang serius, mereka harus mencari cara agar pembaca tertarik, misalkan menyajikan dalam nuansa satir. Itu semua agar pembaca mau membaca karya-karyanya yang selanjutnya dan tidak kapok di karya yang itu saja.

Selain itu, dulu generasi milenial pecinta komik banyak yang sangat menyukai tema-tema imajinatif dan surealis. Untuk saat ini, tema-tema yang berisi humor kekinian atau isu kekinian dan sifatnya menyindir sangat digemari followers akun-akun komik strip dan pengguna Instagram pada umumnya.

Komik strip yang isinya mewakili pemikiran banyak orang, memang sangat digandrungi generasi Z dan bahkan milenial.

Contohnya yang bertema mantan-mantan, galau-galau, atau bahkan isu sosial yang terjadi di negara kita. Itu tidak lain karena ada perasaan relate atau terhubung. Jadi, otomatis pembaca merasa terawakili atau bahkan merasa punya tameng saat ingin mengungkapkan perasaannya, walau hanya sekedar dalam bentuk like.

Hingga titik ini, kita masih melihat webtoon dan komik strip merajai.

Tetapi entahlah, mungkin saja 5 atau 7 tahun mendatang semuanya juga berubah. Dengan berubahnya iklim digital setiap hari, sulit dibayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.

Generasi Z telah membangkitkan kejayaan manga di Indonesia. Bisa jadi popularitas manga di Indonesia yang nampaknya akan tutup usia bisa kembali berjaya di masa mendatang, siapa tahu?