Gerakan Feminisme di Indonesia Sudah Ada Lebih dari Seabad Lalu

Gerakan feminisme disebut sejumlah masyarakat sebagai gerakan yang diimpor dari barat, padahal gerakan ini sudah diinisasi di Indonesia sejak puluhan tahun lalu.

Gerakan Feminisme di Indonesia Sudah Ada Lebih dari Seabad Lalu
Photo by Tyler Morgan from Unsplash

Iya dan tidak terhadap feminisme di Indonesia adalah perdebatan yang selalu mengalami transformasi, klimaks, dan antiklimaks. Salah satu klimaks dari transformasi perdebatan ini terjadi beberapa bulan yang lalu.

Memang akhir-akhir ini gerakan feminisme semakin panas seiring dengan tuntutan dari masyarakat agar pemerintah mengesahkan RUU PKS (Penghapusan Kekerasan Seksual). Namun, setiap ide pasti mendapat beberapa pertentangan juga.

Kontra yang ditunjukkan tentu saja salah satunya datang dari masyarakat fundamentalis agama. Berkaitan dengan gencarnya gerakan feminisme baru-baru ini, muncul sebuah akun Instagram bernama @indonesiatanpafeminis.

Dan selain argumen yang keluar dari mereka, para pihak kontra juga menyebutkan bahwa feminisme bukan budaya Indonesia dan datangnya dari barat. Padahal, jika kita lebih membuka cakrawala sejarah dan mencerna secara komprehensif, gerakan feminisme bahkan sudah dimulai lebih dari satu abad yang lalu.

Yang banyak gagal dipahami adalah, feminisme hadir di Indonesia jauh sebelum istilah feminisme itu sendiri datang kemari. Jadi, gerakan feminisme hadir sejak lebih dari seabad lalu dalam bentuk semangat yang mewujud dalam gerakan perempuan.

Sebelum kita menyentuh soal Kartini, beberapa tahun sebelumnya di 1904 sudah ada Sekolah Istri yang dipionir oleh Dewi Sartika.

Gerakan perempuan ini kemudian terus direproduksi dengan berbagai bentuk, contohnya Sekolah Kerajinan Amai Setia di Kotagadang, Sekolah PIKAT, Sekolah Kartini, dan sebagainya.
Gerakan untuk memperkuat kaum perempuan tidak hanya berhenti dengan program pendidikan.

Pada 1909, Tirto Adhi Soerjo yang juga memiliki kesadaraan akan kesetaraan akhirnya mendirikan surat kabar Poetri Hindia. Tentu saja sebagai wujud women empowerment, ia bekerjasama dengan salah satu penulis perempuan yang kondang saat itu, bernama Siti Soendari.

Lalu tiga tahun kemudian, Roehana Koeddoes yang sebelumnya mendirikan Sekolah Kerajinan Amai Setia akhirnya mendirikan surat kabar Seonting Melajoe.

Berbagai aktifitas untuk mewujudkan kemajuan dan kesetaraan ini terus muncul hingga pada 1928 Kongres Perempuan I diadakan di Jakarta.

Kongres ini memiliki pembahasan beragam mulai dari rumah tangga, pergundikan, kawin paksa, dan sebagainya. Perlu diketahui juga bahwa sejak 1927 sudah ada organisasi bernama Isteri Sedar yang kemudian baru diresmikan pada tahun 1930.

Meskipun misi utama Isteri Sedar berkaitan dengan kemerdekaan Indonesia, tetapi mereka memiliki pemikiran yang progresif melampaui zaman. Gerakan perempuan organisasi ini dimotori oleh perempuan-perempuan yang sudah mendapat tambahan pemahaman feminisme barat.

Kongres Perempuan II kemudian diadakan di Yogyakarta pada tahun 1935. Di sinilah terjadi sebuah konfrontasi hebat antara ketua Isteri Sedar, Suwarni Pringgodigdo, dan Ratna Sari.

Isteri Sedar yang memang merupakan organisasi bersifat sekuler sama sekali tidak kompromistis terhadap segala bentuk alasan poligami, yang pada waktu itu dikemukakan Ratna Sari yang berhaluan Islam.

Jika ada yang mengatakan bahwa perempuan saat ini terpengaruh ide feminisme yang datang dari barat, itu tidak sepenuhnya benar. Karena sejak zaman Isteri Sedar, Suwarni sudah banyak membaca ide-ide feminisme yang lebih progresif dari penulis Amerika dan ia mempersoalkan isu perempuan yang lebih luas tidak hanya tentang poligami.

Suara lantang yang populer juga datang dari individu, salah satunya Siti Soendari. Perempuan yang juga seorang penulis ini menentang keras permaduan, bahkan ia meninggalkan suaminya yang berselingkuh dengan seoarng perempuan Belanda.

Selain juga menentang permaduan, Siti Soendari memiliki aspirasi bahwa hendaknya laki-laki dan perempuan, utamanya dalam rumah tangga harus setara beriringan.

Sebenarnya, suara Siti Soendari tidak hanya dilewatkan pada Kongres Perempuan dan Poetri Hindia, ia juga mendirikan surat kabarnya sendiri bersama salah satu tokoh perempuan lainnya bernama Maria Ulfah. Selepas lulus dari Leiden, keduanya menerbitkan Wanito Sworo yang berbahasa Jawa.


Rangkaian panjang peristiwa sejarah gerakan perempuan ini tentunya hanya sebagian kecil, karena faktanya gerakan perempuan dilakukan merata di Indonesia. Perlu diingatkan kembali bahwa gerakan memajukan kaum perempuan dan usaha penyetaraan laki-laki dan perempuan seperti dilakukan para tokoh sejarah ini pada dasarnya adalah gerakan feminisme.

Hal ini karena segala bentuk usaha mereka dilandasi perjuangan penyetaraan hak setiap gender. Perlu ditekankan pula bahwa feminisme bukan hanya untuk perempuan, tetapi untuk setiap orang. Maka intinya, bagi setiap yang berpendapat bahwa feminisme diimpor dari barat, hendaknya menyimak lagi rentetan kronologi sejarah yang tentunya sahih ini.