Hidup di Mars? Mungkin Gak Sih?

Seberapa mungkin bagi manusia untuk tinggal di Planet Mars?

Hidup di Mars? Mungkin Gak Sih?
Photo by Luca Rüegg from Unsplash

Menurut Worldometers, jumlah penduduk bumi di tahun 2023 mendatang diperkirakan akan mencapai 8 miliar jiwa. Jumlah ini akan terus meningkat jika merujuk lagi pada sumber yang sama, dimana pada tahun 2050-an pun, diestimasi bahwa bumi akan dihuni hingga 10 miliar manusia.

Angka yang fantastis tentu saja.

Kalau mengingat jumlah penduduk bumi sekarang yang berjumlah 7 miliar lebih, doakan saja semoga penambahan 3 miliar populasi manusia untuk beberapa dekade mendatang adalah berangkat dari jenis-jenis unggul.

Meningkatnya tingkat kepadatan manusia di bumi tidak menjadi sebuah berita baik. Center for Biological Diversity saja menyebutkan bahwa peningkatan jumlah kelahiran manusia berbanding lurus dengan peningkatan pemanasan global.

Kebayang dong, bagaimana sesaknya warga bumi akan berimbas pada suhu udara yang semakin tak karuan tingginya. Belum lagi masalah-masalah kemanusiaan lain yang pasti akan turut menyertai. Sepertinya, tetap tinggal di bumi bisa cukup berisiko di beberapa dekade mendatang.

Tapi tenang.

Kalau kamu mulai berpikir untuk migrasi dari bumi, kamu tidak sendirian. Para expert pun sedang meneliti lokasi-lokasi lain di luar bumi untuk dapat ditempati oleh manusia di masa mendatang, salah satunya adalah Planet Mars.

Penelitian tentang kelayakan Planet Merah ini untuk dihuni oleh manusia sudah menjadi perhatian para ahli bahkan sejak abad ke-19, loh.

See? Setidaknya kamu tahu, kalau bukan hanya dirimu seorang yang ingin minggat dari bumi. Ups.

Mars untuk Manusia

Ilustrasi seorang manusia berada di Mars

Kenapa harus Mars?

Dikutip dari Mars One, ada beberapa poin penting yang menjadikan para peneliti memusatkan perhatian mereka kepada Mars sebagai hunian alternatif manusia di masa mendatang, di antaranya karena memiliki kemiripan dengan suasana bumi dalam beberapa hal sebagai berikut:

  • Tanahnya mengandung air, yang mana merupakan sumber daya alam yang mutlak dibutuhkan oleh makhluk hidup,
  • Suhu udaranya yang tidak dingin juga tidak panas di waktu-waktu tertentu,
  • Mendapat paparan sinar matahari yang cukup,
  • Memiliki gravitasi,
  • Memiliki atmosfer untuk melindungi dari ancaman radiasi kosmik dan matahari, serta
  • Ritme waktu siang dan malam yang menyerupai bumi, kurang lebih 24 jam, 39 menit, dan 35 detik dalam sehari.

Poin-poin di atas rasanya mulai memberikan harapan bahwa planet yang berjarak rata-rata 225 juta km dari bumi ini juga memiliki kelayakan untuk dihuni oleh makhluk hidup tak terkecuali manusia.

Meski masih membutuhkan penelitian lebih lanjut, namun aroma-aroma menjanjikan dari menghuni Planet Mars telah memberikan harapan bagi banyak individu, terutama para saintis.

Mars sebagai Lahan Bisnis

Pesawat ruang angkasa

Tidak hanya menarik minat kaum cendekiawan, kalangan pebisnis rupanya juga melihat peluang menghuni Planet Mars ini sebagai kesempatan untuk memanen keuntungan.

Sebagaimana yang dicita-citakan oleh Elon Musk—seorang pengusaha yang banyak berkecimpung di bidang teknologi—Musk dengan serius sedang merencanakan perjalanan satu koloni manusia menuju Mars.

"Karena bumi punya risiko untuk punah."

Elon Musk, 2017

Rencana pria dengan tiga kewarganegaraan ini tidak main-main rupanya.

Melalui salah satu bisnisnya, SpaceX yang telah ber-partner dengan NASA, Elon Musk dan tim bertujuan untuk mengembangkan sebuah moda transportasi berbiaya rendah yang memungkinkan perjalanan sekelompok manusia menuju Mars.

Namun bisnis, tetaplah bisnis. Perjalanan ke Mars yang direncanakan Elon Musk bukanlah tanpa biaya. Meskipun bersikeras untuk memampatkan ongkos perjalanan seminimal mungkin, diperkirakan untuk dapat melakukan perjalanan ini, seseorang harus rela membayar hingga 200 ribu dolar.

Angka ini memang jauh lebih murah dari estimasi biaya sebelumnya yang diperkirakan mencapai dua hingga sepuluh juta dolar.

Masih terdengar wow? Begitulah. Proyek migrasi ke Mars ini sepertinya memang belum ditujukan untuk rakyat luas.

Kapan?

Ilustrasi waktu keberangkatan

Meski terdengar menjanjikan, nyatanya, hidup di Mars masih menjadi tantangan bagi manusia—terlepas dari masalah biaya tentunya.

Pascal Lee, seorang saintis planet, memaparkan dengan lugas beberapa pokok ancaman yang menghantui manusia jikalau memaksa untuk tetap tinggal di Mars.

Berikut tantangan-tantangan yang disebutkan oleh Pascal Lee dalam sebuah wawancara Human to Mars Summit 2017 yang diselenggarakan di Washington D.C.:

1. Atmosfer Mars didominasi oleh gas karbondioksida. Sedihnya, kadar oksigen di Mars hanya sekitar 21% dari kadar gas total yang beredar di sana. Mengingat manusia mutlak membutuhkan oksigen untuk bernapas, agaknya ini menjadi masalah yang cukup berat.

2. Perubahan suhu yang ekstrim di waktu-waktu tertentu. Lee menyebutkan bahwa di musim panas, suhu di Mars memang cukup nyaman karena bisa mencapai 21 derajat Celcius. Meski begitu, di malam hari, temperatur udara di Mars justru sangat mematikan hingga berada di bawah nol derajat Celcius.

3. Debu yang beracun. Baik debu yang kasar hingga yang halus sekalipun, dinilai cukup beracun oleh Pascal Lee. Terpapar oleh debu tersebut akan berisiko buruk bagi paru-paru manusia, bahkan dapat menyebabkan kematian hanya dalam hitungan minggu.

4. Paparan radiasi. Meskipun dilaporkan memiliki atmosfer, namun ketebalan atmosfer di Planet Mars lebih tipis dari yang ada di bumi. Oleh karenanya, Planet Mars belum dapat secara maksimal melindungi makhluk hidup dari radiasi kosmik dan juga matahari.

NASA, SpaceX, dan berbagai pusat penelitian antariksa lainnya yang sedang memfokuskan diri terhadap migrasi manusia ke Mars tentunya juga memandang keempat poin di atas dengan serius.

Dengan memerhatikan beragam risiko, para peneliti tentu sedang mengembangkan puluhan teknologi untuk dapat memastikan keamanan dan kesehatan manusia selama berada di Mars.

Karena sepertinya akan mengandalkan banyak teknologi canggih untuk men-support hidup seorang manusia di Mars, agaknya besaran biaya yang tadinya dicanangkan mulai terdengar masuk akal, kan.

Lalu, kapan?

Sayangnya, bahkan para ahli belum dapat memberikan angka yang pasti.

Selain memikirkan tentang pengembangan berbagai perangkat untuk dapat men-support kehidupan manusia di Mars, moda transportasi untuk menempuh perjalanan panjang ke Mars juga masih membutuhkan berbagai penyempurnaan.

Mulai dari pertimbangan tentang perjalanan yang memakan waktu berbulan-bulan, hingga teknologi hibernasi yang akan digunakan kepada para penumpang untuk menghemat ruang di pesawat maupun sumber daya.

Meski sudah menemukan banyak titik terang, PR untuk para cendekia ruang angkasa juga tak kalah banyak sebelum benar-benar berhasil membentuk koloni manusia di Planet Merah itu.

Bukan tidak mungkin. Setidaknya kerja keras dan sedikit demi sedikit penemuan dari para ahli telah memberikan titik terang bahwa hidup di Mars juga memungkinkan untuk manusia. Kamu sungguhan punya harapan loh, untuk minggat dari bumi.

Bagaimana? Tertarik untuk main ke Mars?

Nabung dari sekarang, yuk.