Ijazah, Riwayatmu Kini

Yang mana riwayat ijazahmu?

Ijazah, Riwayatmu Kini
Photo by Cole Keister from Unsplash

Ketika merapikan tumpukan berkas di lemari, sudut jarimu menyentuh lembaran kertas tebal dengan gambar dirimu di salah satu sudutnya. Raut wajahmu di sana tampak tegang, tidak seluwes gambar-gambar lain yang biasa kau bagikan di Instagram.

Ijazah.

Kau mengambil salah satu lembarannya. Angka-angka yang tercetak di atas sana, dulu pernah mati-matian kau dapatkan.

Sudut bibirmu pun tertarik, mengiringi deretan ingatan yang muncul bergantian di kepalamu. Kau pernah menghabiskan masa-masa itu dengan perjuangan. Perjuangan yang tentu tidak mudah demi mendapatkan selembar kertas sakti itu.

Ada cerita di setiap lembaran ijazah yang pernah kau dapatkan. Ada kisah di balik setiap angka yang berderet rapi di atasnya.

Ijazah pernah menjadi tujuan yang begitu tinggi buatmu. Namun kini, hanya riwayatnya yang masih setia kau kenang.

Kalau Kau Seorang Pegawai Korporasi

Menjadi pegawai korporasi tidak lepas dari peran ijazah

Kamu mungkin masih ingat bagaimana selembar kertas sakti itu pada mulanya membuka jalanmu berjodoh dengan tempatmu sekarang bekerja.

Ketika awal mendaftar pekerjaan, ijazah adalah syarat mutlak yang diminta perusahaan. Semacam access card kalau meminjam istilah Barat.

Ijazah memang tak selalu menjadi jaminan diterima. Ibaratnya kunci gerbang, ijazah hanya mengantarmu ke halaman, belum tentu menjadikanmu bagian dari sebuah rumah.

Apapun yang menjadi kisahmu ketika itu, di sinilah dirimu sekarang. Duduk manis dan memangku dagu di sudut ruangan sembari menikmati istirahat siangmu dengan ingatan lama tentang ijazah.

Ijazah yang mungkin kini hanya menjadi sekadar cerita. Cerita indah yang akhirnya mengantarmu mengecap asam garam dunia korporasi.

Bak seorang ibu yang di hari pertama mengantar anaknya ke sekolah. Kini kertas sakti itu telah menyelesaikan tugasnya, dan melanjutkan istirahat tenangnya di almari.

Kalau Kau Seorang Usahawan

Menjadi usahawan terkadang tidak memerlukan ijazah, namun keterampilan itu juga didapat dari sekolah

Ijazah mungkin hanya selembar kertas. Selembar kertas yang pernah kamu upayakan demi memenuhi kewajiban belajar bocah seusiamu dulu.

Saat ini, ijazah bagimu mungkin hanya sekadar punya. Karena di pemberhentian selanjutnya, kamu sudah memutuskan bahwa dirimu hanya perlu berproses dengan akal, lalu berupaya dengan kedua tangan dan kaki demi menyambung hidup.

Bagimu, ijazah bisa kamu pakai untuk mengibas peluh di tubuhmu ketika cukup lelah mengupayakan. Atau kalau ingin berhenti, ijazah masih ada di sisimu untuk membuka kesempatan yang baru.

Sesekali mungkin kamu akan tergoda untuk berhenti berlari, lalu mengekor korporasi seperti kawanmu yang lain. Rasiomu pun tak jarang tergelitik ketika melihat yang lain hanya berjalan santai, namun tetap dapat makan tiga kali sehari.

Tidak hanya sekali dua kali kamu merasa ragu. Bukan tidak pernah keinginan untuk berhenti berlari di jalur usaha menjamahi alam sadarmu.

Karena sesungguhnya, tak jarang ketika hujan datang, kamu harus berhenti sejenak dan membiarkan banyak kesempatan terlewat begitu saja.

Atau ketika mentari di musim kemarau terlalu terik, kamu hanya bisa terpaku menatap bekal airmu yang tak mencukupi untuk melanjutkan perjuanganmu di hari itu.

Berjuang di jalan yang ini memang tidak selalu menyenangkan. Tidak semudah bagaimana orang-orang sukses membagikan ceritanya di acara motivasi.

Namun pada akhirnya, dirimu tetap saja berlari. Kamu masih ingin berjuang di jalur yang dicahayai secercah passion atau jalur yang sekadar dibalut oleh kehangatan bakti terhadap profesi yang diwariskan padamu.

Biarlah ijazahmu kembali bertengger manis di bawah lipatan pakaian di lemari. Dirimu sudah memutuskan untuk berlari dan merengkuh dunia dengan caramu sendiri.

Kalau Kau Seorang Ibu Rumah Tangga

Ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya

Kamu mungkin sering mendengar cuitan tetangga soal, "Untuk apa sekolah tinggi kalau hanya jadi ibu rumah tangga?"

Juga sindiran semacam, "Sayang kan, ijazahnya."

Terdengar kecut, sih. Tak jarang membuat keningmu mengernyit, lalu lidahmu mendecak sebal. Dunia seolah sedang menghakimi pilihanmu untuk sepenuhnya mengabdi pada keluarga. Mereka jadi geretan sendiri dengan ijazah dan prestasimu yang hanya tersimpan di lemari.

"Hidup ini memang begitu. Tuhan yang mengatur, kita yang menjalankan, orang lain yang mengomentari."

Anggaplah para tetangga itu hanya sedang menjalankan perannya sebagai orang lain.

Menjadi ibu rumah tangga bukan berarti tidak boleh berpendidikan tinggi. Ada keuangan yang harus diatur. Juga ada anak-anak yang perlu pendampingan dalam belajar.

Untuk melakukan itu, ijazahmu mungkin tidak akan dipertanyakan. Tapi kamu tentu harus punya kecerdasan yang mumpuni untuk sukses membina sebuah keluarga.

Bahkan Jika Kau Seorang Pencari Kerja yang Tak Kunjung Tersambut

Jadikan penolakan kemarin sebagai energi untuk kembali mencoba di hari ini

Salinan ijazahmu baru saja terkirim bersama lamaranmu yang ke sekian. Dengan iringan doa, berharap lembaran-lembaran itu akan mengetuk ketertarikan si pembaca.

Doa kali ini tak lebih panjang dari doa-doa sebelumnya. Isinya pun masih sama, besar harapanmu untuk dapat terpanggil.

Tak jarang kiriman suratmu tak mendapat balasan. Atau ketika terpanggil pun, bukan satu dua kali juga dirimu harus menerima sakitnya penolakan.

Di setiap penolakan, pandanganmu terjatuh pada lembaran ijazahmu. Kertasnya masih cukup kaku, menandakan betapa hati-hatinya kamu memperlakukan kertas sakti itu.

Sakti, ya? Bibirmu menyunggingkan senyuman kecut.

Kadang, kamu merasa ragu. Ijazah yang kamu perjuangkan bertahun-tahun, sungguhkah kini tidak berarti apapun? Kamu pun harus mengakui, bahwa ijazah yang dikeluarkan oleh universitas ternama tidak menjamin mulusnya pencarian kerja.

Agaknya benar kata orang-orang terdahulu.

"Kalau ijazah adalah karcis masuk, maka keterampilan adalah harga jual. Namun pada akhirnya, semua akan lebih mudah kalau ada orang dalam."

Ya, namanya juga berjuang, tentu ada jatuh dan bangun. Harapan yang terputus pasti sering dirasakan. Namun yang namanya jatuh, tidak boleh membuat kamu berhenti. Pelajari triknya dalam 5 Kiat Sukses Menyikapi Penolakan ini.

Sebagaimana mengutip dari seorang B.J. Habibie, bahwa yang namanya kegagalan hanya akan terjadi jika kamu menyerah dan berhenti mencoba.

Dan Kamu yang Sedang Berlari demi Memperjuangkan Sebuah Ijazah

Apapun cita-citamu esok hari, mulailah dengan memperjuangkan ijazah

Terlepas dari manapun yang menjadi tujuan akhir kamu besok, memiliki ijazah adalah sebuah keharusan. Wajib belajar 12 tahun tidak hanya sekadar slogan. Masyarakat luas menyepakatinya sebagai minimal usia pendidikan yang dijalani demi berdiri sendiri menghadapi kerasnya dunia.

Jalanmu masih panjang, loh. Cita-citamu pun masih memiliki banyak jalur untuk dicapai.

Teruslah berlari. Lakukan yang terbaik selagi masih banyak waktu. Berbuatlah maksimal sebelum ada yang disesali.

Dapatkan ijazahmu dengan sebuah kebanggaan. Apapun yang kamu lakukan padanya esok hari, pastikan kamu bisa berdiri tegak tanpa menyesali sesuatu apapun darinya.