Kedewasaan Indonesia dalam Berdemokrasi

Seberapa dewasa masyarakat Indonesia dalam berdemokrasi?

Kedewasaan Indonesia dalam Berdemokrasi
Photo by Dage Rokphish from Flickr

Kita semua tahu Indonesia menganut sistem demokrasi yang sangat baik.

Kita mewakilkan orang orang pilihan, kita juga menilai orang tersebut, dan kita yang akhirnya memilih orang tersebut. Teori demokrasi dari rakyat, untuk rakyat, dan oleh rakyat sudah jadi panutan yang baik untuk demokrasi. Tapi, pertanyaannya apa Indonesia sudah siap jalani demokrasi semacam itu? Kamu bisa menilainya sendiri dengan pembahasan berikut ini.

Sudah 70 tahun Indonesia berdiri, kita lihat banyak yang terjadi di Indonesia ya? Dari dipimpin dengan sosok yang keras, dipimpin sosok ulama, dipimpin sosok jenius, dipimpin seorang wanita dan dipimpin seorang tukang kayu. Dengan latar belakang pemimpin yang berbeda beda ini menurut saya sudah baik sekali demokrasi di Indonesia.

Empat periode pemilihan presiden terakhir, dari tahun 2004 pertama kali, kita rakyat sipil sudah mulai dilibatkan buat memilih calon yang kita kehendaki. Kalo dulu kan masih lewat MPR. Tapi, apa menurut kamu demokrasi kita sudah dewasa? Atau demkorasi dengan panutan teori yang bagus itu sudah terlaksana? Saya rasa masih belum sepenuhnya.

Di tahun 2004, 2009, 2014, 2019 dan baru 15 tahun menuju ke 20 tahun kita berdemokrasi, tapi saya lihat masih belum ada progresi, bahkan menurut saya Indonesia masih belum siap berdemokrasi. Kita bisa lihat itu di 4 kali pemilihan presiden terakhir. Ini kita bahas presiden loh ya, yang seharusnya paling dewasa dibandingkan pemilihan kepala daerah. Presiden kan harusnya kasih contoh buat rakyatnya. Tapi di Indonesia berbeda. Banyak kandidat calon presiden dan wakil presiden di 4 periode itu. Tentu mereka semua punya orang orang yang mendukung mereka.

Dua periode terakhir, kita lihat jelas sekali demokrasi yang masih ke kanak kanakan. Setiap pendukung satu dengan yang lainnya saling menjatuhkan. Padahal kita tahu kan kalau pemilu itu punya asas tersendiri, asas LUBERJURDIL (Langsung Umum BEbas Rahasia juJUR dan aDIL). Tapi kok keliatannya asas itu sudah tidak berlaku lagi ya di Indonesia. Hak orang memilih tidak lagi Bebas dan Jujur. Banyak paksaan dari paslon satu dan paslon lainnya, bahkan tidak sedikit yang memberikan santunan demi mendapatkan suara.

Kita lihat di pemilu terakhir, sampai sampai saling fitnah dan menyebarkan keburukan lawannya. Padahal kedua paslon juga masih membangun relasi yang baik, pendukungnya bisa sampai kebakaran jenggot, kan itu sudah tidak sehat.

Apa dengan sikap seperti itu bisa kita sebut siap berdemokrasi? Siap pesta demokrasi? Bahkan ketika BAWASLU yang sudah dibentuk dan di percaya memutuskan pemenang PEMILU juga mendapat tekanan dari masyarakat.

Berbondong bondong masyarakat tanpa tujuan jelas berdemo, duduk di depan BAWASLU. Hari dimana kita  seharusnya berpesta demokrasi, malah terjadi kerusuhan di daerah BAWASLU. Hahaha iya sih pesta pake mercon dan kembang api menyembur aparat, melempari pakai batu, karena pendukung kalah tidak terima keputusan tersebut.

Lalu kalo bukan BAWASLU, KPU, siapa yang bisa netral dan memutuskan hasil pemilu? Kamu? Hahaha. Negara sudah memilih orang yang netral untuk memutuskan hasil ini dan melakukan perhitungan suara, menurut saya, itu sudah adil, kalau mau protes ya dari awal BAWASLU & KPU dibentuk lah. Kok baru sekarang koar koarnya waktu calon presiden kalian kalah? Intinya bukan KPU BAWASLU curang kan?

Tapi karena kalian tidak bisa terima hasilnya kan? Hehehe.