Generasi Muda Indonesia dan Prestasinya di Mata Dunia

Kemana perginya generasi muda Indonesia yang berprestasi? Mengapa mereka "enggan" untuk mencintai Negaranya?

Generasi Muda Indonesia dan Prestasinya di Mata Dunia
Photo by Gradikaa on Unsplash

Para anak muda selalu menjadi pedoman dan harapan sebuah bangsa.

Pribadi yang mau dan mudah belajar, gigih, berkemauan keras, dan tidak mudah menyerah itu menjadikan nilai plus.

Banyak anak muda Indonesia yang sudah berprestasi tidak hanya di standar nasional, tetapi mengharumkan nama Indonesia di mata
Internasional. Kalau di bandingkan dengan negara tetangga dan banyak negara maju lainnya, menurut saya Indonesia adalah negara yang memiliki harapan paling tinggi.

Saat ini, mayoritas penduduk Indonesia adalah kaum anak muda.

Saya banyak menemui anak muda yang passionate banget di bidang yang mereka gemari.Mereka adalah benih-benih harapan Indonesia kedepan.

Kita banyak menemukan orang orang berprestasi dari Indonesia. Namun prestasi itu hanya prestasi sementara. Setelah beberapa saat di sorot, nama dari anak anak itu sudah tidak lagi terdengar. Bahkan banyak anak muda tersebut memutuskan untuk berpindah kewarganegaraan.

Sebenarnya hal semacam itu tidak perlu terjadi bukan?

Lalu, kenapa sebenarnya mereka memutuskan untuk berpindah kewarganegaraan, atau berpindah domisili tidak lagi di Indonesia?

Salah satu contohnya itu Joey Alexander. Pasti anda sering mendengar namanya kan?

Nominator termuda di Grammy Award 2016 itu adalah anak bangsa yang masih muda, pada saat itu usianya 12 tahun. Ia merupakan pianis jazz asal Indonesia. Kita semua tahu dia masuk di Best Improvised Jazz Solo di tahun 2017.

Tapi dia juga memilih untuk tinggal dan bekerja di Amerika. Alasannya simpel, karena di Indonesia anak seperti ini kurang dihargai.

Tidak hanya itu, di Indonesia juga dunia musik masih belum berkembang, ya jadi Joey mau tidak mau harus mencari pasar buat bakatnya itu.

Indonesia baru merasa bangga ketika Joey sudah dihargai di Amerika.

Indonesia baru merasa seorang anak bangsa sudah mendapat pengakuan negara luar.

Menurut saya, dengan cara yang terus-terusan begitu, Indonesia tidak bisa maju. Seharusnya
Indonesia melihat potensi setiap anak. Melihat setiap anak memiliki kelebihan yang bisa di
kembangkan. Mendengar keinginan seorang anak.

Walaupun Joey Alexander bangga berkebangsaan Indonesia, dan masih mau berkontribusi buat Indonesia, tapi bagaimanapun, dia lebih memilih bekerja di luar Indonesia.

Itu baru salah satu anak muda hebat, masih banyak anak muda lain yang perlu di apresiasi.
Bagaimana anak muda bisa berkreasi dan mampu berkreasi kalau tidak ada wadah dan tidak ada support?

Gimana Indonesia bisa menemukan benih itu, kalo Indonesia ngga mau lihat potensi anak mudanya? Satu hal yang sangat disayangkan bukan?

Sebagai warga negara yang ingin Indonesia berkembang, saya peduli dengan keadaan ini.

Saya yakin Indonesia bisa jadi negara maju dengan banyak bibit unggul berkualitas. Saya
tahu banyak permasalahan di negara berkembang, tapi jangan lupakan harapan Indonesia ada di tangan anak muda.

Mulai koreksi, mulai gali potensi, mulai melibatkan anak muda, mulai percayakan sesuatu walaupun kecil ke anak muda. Berikan mereka kesempatan untuk salah, jangan tutup ruang untuk kesalahan. Kita akan melihat Indonesia 10 sampai 15 tahun mendatang dengan lebih baik.

Mereka hanya butuh ruang, tempat dan kesempatan untuk berkarya. Jika bukan orangtua dan pemerintah yang mendukung kita, kita harus minta dukungan siapa? Negara luar?

Saya yakin, mereka bangga jadi orang Indonesia seperti Joey.

Namun mereka terpaksa bekerja
untuk luar karena tidak ada kesempatan berkarya di Indonesia.