Ini Sebabnya, Kehidupan Digital Memang Dunia Kedua

Dunia digital punya elemen yang serupa dengan dunia nyata

Ini Sebabnya, Kehidupan Digital Memang Dunia Kedua
Photo by Bradley Hook from Pexels

Ada seseorang di dekat saya yang pernah berkata kalau sekarang ini dunia maya sudah jadi dunia kedua. Apa kamu setuju dengan pendapat ini?

Entah apa karena orang tersebut begitu menghayati kesibukannya di dunia maya ataukah karena ia merasakan banyak kemiripan antara kehidupan digital dan kehidupan nyata, yang jelas memang dunia digital saat ini tidak akan pernah tidak kita singgung tiap detiknya.

Terhubung dengan internet adalah sebuah kebutuhan, karena dalam aktifitas yang paling primer semacam berkomunikasi pun kita membutuhkan perantaranya. 

Jika dalam hal-hal yang sangat primer saja kita bergantung dengan internet, bukan tidak mungkin kalau pada akhirnya kita seakan tinggal juga di dalamnya. Dan karena memang semakin banyak persinggungan kita dengannya, semakkin banyak juga hal baru atau fenomena yang muncul dalam dunia digital.

Mungkin ada benarnya juga kata teman saya tadi. Dunia digital sudah bagaikan kehidupan kedua, dan mungkin sederet elemen ini yang menjadi penyebabnya. 

Identitas

Kehidupan Digital Memang Dunia Kedua

Di lingkungan terdekatmu, di rumah, kantor, kampus, atau lingkungan pertemanan, kamu dikenal sebagai siapa dan orang seperti apa? Pasti kamu bukan sekedar dipanggil dengan nama bukan?

Pasti saat orang memanggilmu, di saat yang bersamaan mengasosiasikan dirimu dengan sosok yang sedemikian rupa. Misalnya, ketika kamu menyebutkan tetanggamu yang namanya Tuan Crab, di kepalamu sudah ada sederet definisi yang langsung muncul, seperti visualnya bagaimana, rumahnya sebelah mana, dan kesan apa yang kamu dapatkan dari diri beliau.

Semua orang pasti punya identitas lebih dari sekedar nama di dunia nyata. Begitu juga dengan di lingkungan digitalmu. Kamu memiliki nama akun yang kamu tampakkan, entah itu menggunakan nama aslimu atau tidak. Orang lain juga mengenal dari kesan dan karakter yang nampak dari akunmu.

Namun, ada yang membedakan identitas digital dan dunia nyatamu. Dalam lingkungan digital, tema estetika atau visual dalam akunmu juga turut berperan dalam merujuk identitas. Dan tentu saja, hal ini memang sengaja kita sendiri yang sengaja mengkonstruk identitas tersebut. 

Kamu pasti sering kan, melihat akun-akun Instagram di mana pemiliknya punya unggahan foto yang semua filternya serupa? Ini semua ada maknanya sendiri. Para pemilik akun tersebut memang sengaja ingin membuat orang lain mengenal dirinya dengan kesan tertentu. Hal ini membuat perbedaan yang cukup jelas antara lingkungan digital dan lingkungan di dunia nyata.

Di lingkungan digital, kamu lebih mudah membentuk citra tertentu, sedangkan di dunia nyata, interaksimu dengan orang lain bisa diamati secara sangat detil sehingga orang menangkap kesan yang lebih beragam. 

Dan justru perbedaan inilah yang membuat kehidupan di dunia digital menjadi sebuah fenomena yang semakin menarik. 

Komposisi 

Kehidupan Digital Memang Dunia Kedua

Dalam masyarakat kita, sangat jelas siapa orang yang tersorot, selebritas, orang yang pendiam, orang dan psikolog, dan sebagainya. Ini juga berlaku dengan kehidupan digital. Ketika seorang individu millenial atau generasi Z mulai mendaftar sebagai penduduk dunia digital, ia ikut melengkapi komposisi masyarakat dunia digital.

Bisa jadi ia membawa perannya dari dunia nyata atau tidak. Atau bisa juga ia membentuk peran baru di dunia digital. Dan bisa jadi juga ia memiliki peran baru di dunia nyata karena terbawa perannya di dunia digital.

Dan masing-masing peran, baik itu seleb, seniman, dokter, penulis, dan sebagainya, juga menjalankan fungsi peran masing-masing sebagaimana yang ia lakukan di dunia nyata (jika ia juga menjalankan identitas tersebut di lingkungan digitalnya).

Istilah-istilah 

Kehidupan Digital Memang Dunia Kedua

Ketika kehidupan digital masih sama sekali belum terbentuk seperti sekarang, orang dengan mudah mempopulerkan istilah baru semacam bahasa slang dari mulut ke mulut.

Sama halnya dengan kehidupan digital, saat itu banyak istilah yang hanya ada di percakapan (tidak di kamus) bermunculan. Tetapi, ketika dunia digital makin semarak, ada berbagai istilah muncul dan tidak selalu datang dari dunia nyata, melainkan seringkali justru tercipta dari kreatifitas verbal saat menjalin komunikasi di dunia digital.

Apa yang membuatnya makin unik adalah, istilah-istilah tersebut kemudian tidak menyebar secara eksklusif di lingkungan digital saja, melainkan kenyataan saat ini menunjukkan justru banyak istilah santai sehari-hari yang ada di dunia nyata, datangnya justru dari dunia digital.

Nilai-nilai dan fenomena 

Kehidupan Digital Memang Dunia Kedua

Menurutmu kenapa di masyarakat kita tertanam nilai-nilai yang tidak tertulis? Di samping nilai-nilat tersebut juga ada budaya yang memuat nilai-nilai tadi. Ya, begitulah peradaban.

Masyarakat menyepakati konsensus nilai dan budaya tertentu agar kehidupan senantiasa stabil dan lebih mudah untuk merekatkan masyarakat. Nah, seperti itulah yang juga terjadi di lingkungan digital kita.

Orang menyepakati nilai dan budaya tertentu sebagai bentuk kesepakatan untuk membentuk peradaban digital yang stabil. Namun, tidak semuanya juga kesepakatan yang dianut di dunia digital hanya berakhir di benak masing-masing orang.

Beberapa nilai juga mengakibatkan peraturan tertulis di dunia nyata, terutama yang menyangkut hal-hal paling krusial dan kerap bersinggungan dengan dunia nyata. 

Dan tentu saja akibat adanya kultur yang tercipta, fenomena datang bersamanya, entah itu baik ataupun buruk. Berbagai fenomena yang khas kemudian muncul, seperti cyber bullying, buzzer, aksi viral, dan sebagainya. Beberapa fenomena boleh jadi hanya ditemukan di kehidupan digital, tapi sebagian juga memiliki padanannya atau tidak mirip dengan yang ada di dunia nyata. 


Dari beberapa poin di atas, sangat tampak bahwa dunia digital memang sangat menarik. Beberapa bagian darinya sangat mirip dengan dunia nyata, dan sebagian juga tampak sangat otentik.

Tidak dapat dipungkiri juga, sifat dunia digital yang sangat dinamis membuatnya sangat kaya dengan elemen-elemen baru, entah itu istilah-istilah dalam percakapan, gaya, budaya, fenomena, dan sebagainya.

Tidak ada yang tahu, apakah keadaan seperti yang kita saksikan saat ini akan tetap atau bahkan berubah hanya dalam lima tahun mendatang. Sifat dunia digital yang sangat dinamis membuat kita cukup sulit menebak.