Jangan Mau Digantung, Ini Waktu yang Tepat untuk Menyudahi LDR

Jika fase-fase seperti ini sedang kamu alami, mungkin ini waktu yang tepat untuk menyudahi LDR kamu dan pasangan.

Jangan Mau Digantung, Ini Waktu yang Tepat untuk Menyudahi LDR
Photo by Joe Yates from Unsplash

Mengutip dari Long Distance Relationship Statistics, diketahui terdapat lebih dari 14 juta pasangan LDR yang tersebar di Amerika.

Di Indonesia sendiri, belum ada survei resmi yang mendata jumlah para pejuang LDR. Namun jika secara kasar melihat persebarannya di dunia maya, tampaknya tidak sedikit loh pegiat LDR di Tanah Air.

LDR atau yang juga dikenal sebagai hubungan jarak jauh biasanya terjadi antar pasangan kekasih dikarenakan tuntutan pendidikan atau pekerjaan yang mengharuskan keduanya untuk berdomisili di wilayah berbeda, entah antar kota, antar provinsi, antar pulau, atau bahkan antar negara.

Ini tentu bukan perkara mudah, apalagi kalau menimpa dua sejoli pas lagi sayang-sayangnya. Wah, sudah harus dilanda rindu, diterpa kangen, kadang diserang berbagai macam insecurity pula. Benar saja kalau ada yang bilang LDR itu hanya untuk mereka yang kuat mental.

"Hal paling mengerikan tentang jarak adalah, ketika kamu tidak tahu apakah mereka akan merindukanmu atau melupakanmu."

- Nicholas Sparks

Sejatinya, setiap pasangan LDR tentu akan memperjuangkan hubungan jarak jauh mereka. Bahkan jika hubungan tersebut tengah diguncang oleh yang namanya jenuh, selalu ada cara untuk memperjuangkan LDR.

Tapi tidak selamanya LDR harus dipertahankan, loh. Ada kalanya LDR menampakkan tanda-tanda tidak sehat. Kalau sudah begini, mau dipertahankan seperti apapun akan jadi sia-sia.

Pokoknya, jangan mau digantung! Tanda-tanda berikut akan menunjukkan kamu waktu yang tepat untuk menyerah, mengakhiri, atau menyudahi LDR.

Kesulitan Komunikasi

Komunikasi rutin untuk menjaga kelanggengan LDR

Kalau katanya Raditya Dika, pacaran jarak jauh itu momok, makanya komunikasi itu penting. Coba deh tinjau kembali, komunikasi kamu dan pasangan yang kini berstatus LDR apa masih dalam batas wajar?

Bedakan dengan posesif, ya. Kewajaran berkomunikasi antar pasangan LDR di sini bukan berarti kamu dan dia harus selalu memantau satu sama lain via komunikasi apapun dalam waktu dua puluh empat jam.

Berikut contoh parameter yang bisa kamu coba untuk mengecek kewajaran komunikasi kamu dan pasangan:

  • Pesan kamu tak terbalas dalam waktu lama, sementara status last seen dan story si dia update terus,
  • Tidak ada hasrat untuk melakukan upgrade terhadap bentuk obrolan yang monoton,
  • Adanya rasa risih dalam memaknai candaan doi yang akhirnya berujung pada pertengkaran serius.

Ketiga parameter di atas tentunya tidak mutlak, mengingat kamu juga harus mempertimbangkan kesibukan dan perkara mood dari si dia. Tapi ya, kalau ciri di atas sudah berlangsung lama dan tak ada perubahan, sudah saatnya kalian membicarakan ini secara serius.

Terasa Bertepuk Sebelah Tangan

Menjalani hubungan satu arah bukan percintaan

"Cinta itu seharusnya menenangkan. Cinta adalah komunikasi dua arah yang dibangun oleh dua hati. Kalau hanya satu orang yang mencintai, itu namanya bukan cinta, tapi kesedihan."

- Amelia

Apa saat ini kamu jadi satu-satunya yang rutin memberikan perhatian dalam hubungan LDR kalian? Usaha kamu menyenangkan doi tidak sebanding dengan perlakuannya terhadapu?

Atau jangan-jangan, setiap kali ada pertengkaran, doi selalu lebih keras hati dan mengharuskan kamu minta maaf duluan?

Sekali dua kali, kamu mungkin bisa menoleransi ini. Namun jangan bohongi perasaan kamu kalau memang letih hanya menjalani ini sepihak. Sayangi diri kamu lebih dulu. Kalau rasa sayang itu sekarang hanya tersalurkan satu arah, tidak apa untukmu mulai menyerah.

Lebih pilih mana, menyerah sekarang atau makan hati berkelanjutan?

Hilangnya Kepercayaan

Keabsenan rasa percaya menyengsarakan sebuah hubungan

Jika doi bolak-balik mengecek Instagram kamu dan mempertanyakan setiap lawan jenis yang ada dalam foto kamu, mulailah menyeriusi ini. Atau jika kamu mulai merasa insecure yang berlebihan terhadap tindak tanduk doi yang tampak berbeda, ambillah sebuah inisiatif.

Sebagai pihak yang dicemburui, kamu bisa mulai menimbang sejauh mana kecemburuan doi memengaruhi keseharian kamu. Bagaimanapun, ini bukan hanya berarti doi sedang cemburu karena sayang. Kadang, ini juga bisa berarti bahwa kepercayaan doi mulai tergerus buat kamu.

Sebaliknya, jika kamu sebagai pihak yang mencemburu, kamu harus dapat mengukur sejauh mana kamu merasakan ini sebagai sebuah ancaman yang justru mengusik kenyamanan di hari-hari kamu yang tenang.

Ingatlah, bahwa ketenangan adalah hak setiap manusia. Jangan lupa bahwa selalu ada opsi melanjutkan dan berhenti dalam sebuah hubungan percintaan.

Teman-temannya Tak Tahu Kalau Kamu Ada

Ilustrasi pertemanan antar pria

Iya sih, kalian LDR. Tapi bukan berarti doi harus menyembunyikan keberadaan kamu dari teman-temannya, kan?

Kamu mungkin bisa sedikit maklum mengingat LDR tidak memungkinkan kamu untuk mengenali teman-teman si dia satu-persatu. Tapi kalau doi sampai menyembunyikan status hubungannya dengan kamu, wah, ini sudah jadi masalah serius.

Terlepas dari mereka mengenali kamu atau tidak, teman-teman doi harusnya aware dengan status hubungan percintaan doi. Kamu gak mau dong, kalau si dia diajak ikut kencan buta hanya karena teman-temannya tidak tahu kalau doi sudah punya kamu.

Lain soal deh, kalau ini memang jadi komitmen bersama kalian untuk tidak memublikasikan hubungan sebelum menjadi pasangan sah.

Semakin Susah Bertemu

Pertemuan adalah reuni idaman bagi pasangan LDR

Yang namanya hubungan jarak jauh, masalah terbesarnya adalah rindu. Maka dari itu, pasangan LDR cenderung akan memanfaatkan kesempatan yang ada untuk dapat saling bertemu.

Coba deh diingat. Kalau kamu dan si dia sedang LDR, kapan terakhir kali kalian bertemu?

Dengan mempertimbangkan jarak dan biaya, kamu tentu bisa menerka-nerka sejauh mana kuantitas pertemuan kalian masuk ke dalam kategori susah bertemu.

Kalau menurut kamu doi hanya mencari-cari alasan agar kalian tidak bertemu, pertimbangkan lagi deh untuk melanjutkan hubungan dengan doi.

Tidak Sejalan Soal Masa Depan

Seorang pria mengandai tentang masa depan

Kamu ingin begini, tapi doi maunya begitu. Kamu mau tetap bekerja di kota A, tapi si dia inginnya tak beranjak dari kota B.

Hubungan percintaan itu targetnya tentu pernikahan, tidak terkecuali dengan LDR. Jika negosiasi yang kamu lakukan bersama pasangan tentang target kalian di masa depan justru menemui persimpangan, salah satu di antara kalian tentu harus mengalah.

Namun jika ternyata kamu dan si dia masih berkukuh pada prinsip masing-masing, tidak ada ruginya untuk mempertimbangkan lagi tentang melanjutkan atau menyudahi LDR ini.


Toh pada akhirnya, LDR tetaplah hubungan yang melibatkan dua anak manusia. Jika hanya satu pihak yang mengusahakan perasaannya, tentu tidak akan dapat disebut sebagai sebuah hubungan.

Kamu mungkin punya parameter sendiri untuk mengecek sejauh mana batas komitmen yang masih bisa ditoleransi oleh kamu dan pasangan. Tapi intinya, jangan mau digantung. Merasa nyaman adalah hak semua orang, termasuk dalam hubungan percintaan.