Kapan Nikah dan Kekolotan Basa-Basi

Basa-basi kok gitu banget? Bisa gak sih, gak usah menyakiti dengan "kapan nikah"?

Kapan Nikah dan Kekolotan Basa-Basi
Photo by Alvin Mahmudov from Unsplash

Di acara kumpul keluarga besar, para tetua yang jarang ditemui biasa memulai sapaan dengan kapan nikah.

Numpang lewat di jalanan kompleks, kadang juga berpapasan dengan ibu-ibu tetangga yang kelewat kepo dan selalu tanya kapan nikah.

Sampai bocah-bocah kerabat yang lebih muda pun sering usil dan menikam dengan cara yang cukup sakit pakai jurus kapan nikah.

Ayolah. Apa salah diri ini sampai harus dijejali pertanyaan yang entah dimana jawabannya?

Dikutip dari data Badan Pusat Statistik yang disadur oleh Kajian Gender Universitas Indonesia, diketahui bahwa usia rata-rata pernikahan di Indonesia adalah pada rentang 19-24 tahun. Kalau berpatokan pada rentang tersebut, wajar sih kaum dewasa muda di seperempat abadnya dibombardir oleh kapan nikah.

Ya tapi kan, gak gitu juga.

Kalau percaya sama yang namanya takdir, pasti sudah tahu dong, kalau urusan jodoh itu mutlak urusan Yang di Atas. Situ gak mau kan melangkahi takdir Tuhan?

Ups.

Katanya sih, Demi Terciptanya Bahan Obrolan

Kapan nikah sebagai salah satu basa-basi yang paling dihindari

Hentikan segala bentuk alibi ini!

Bahasa Indonesia sudah kaya akan jutaan kosakata. Belum lagi ada yang namanya bahasa daerah. Itu belum terhitung perbendaharaan kata-kata kekinian yang aduhai ragamnya. Masa iya, untuk membuka obrolan saja yang terpikir hanya kata kapan dan nikah?

Mungkin niat awalnya hanya untuk membuka obrolan. Mungkin pada mulanya cuma mau memancing pembicaraan. Mungkin di suatu waktu memang murni sedang kepo berat. Bisa jadi juga tidak ada niat menyakiti di sana.

Tapi mari melihat ini dari sudut pandang si korban. Iya kalau si korban yang unyu-unyu ini sudah punya pasangan, mungkin keberlanjutan dari kapan nikah bisa didiskusikan ke pasangannya.

Sekarang pertimbangkanlah kalau si korban belum punya gandengan sama sekali. Boro-boro kasih jawaban dari pertanyaan kapan nikah, untuk bisa survive dari kesendirian ini saja sudah terlampau berat buatnya.

Hiks.

Alternatif Basa-Basi Selain "Kapan Nikah"

Basa-basi juga punya banyak alternatif

Pernah menelusuri arti kata basa-basi di Kamus Besar Bahasa Indonesia? Pada hakikatnya, basa-basi adalah tata krama pergaulan yang digunakan sebagai ungkapan untuk bersopan-santun.

See? Betapa mulia arti basa-basi yang sesungguhnya.

Sayangnya, semakin ke mari, pergeseran makna dari basa-basi justru semakin berbelok ke arah yang tidak semestinya. Mau bagaimana lagi? Wong tujuannya bersopan-santun, tapi gak berniat menyaring kosakata yang tepat.

Padahal kan ada televisi tuh, juga ada internet, pun ada tetangga di kanan kiri yang bisa jadi sumber informasi. I mean, dengan semua sumber informasi itu, tak boleh lah ya, bersembunyi di balik alasan kolot dan gaptek.

Segala informasi yang didapat dari sumber tak terbatas itu bisa dijadikan bahan obrolan. Meski kadang akan terdengar gak nyambung, tak masalah. Toh sejak awal memang hanya diniatkan untuk basa-basi kan?

"Berbasa-basilah dengan lebih cerdas—tanpa menyakiti siapapun."

Misal nih, berita di televisi sedang membahas tentang menteri-menteri muda yang menghiasi wajah Kabinet Indonesia Maju. Lontarkan saja basa-basi semacam, "Menteri baru kita pada seger ya."

Atau ketika internet sedang dihebohkan oleh kebakaran yang bermula dari niat mengusir tawon, lahirkan saja pertanyaan-pertanyaan berbobot seperti, "Gimana sih cara ampuh usir tawon tanpa harus bakar rumah?"

Pun andaikan ibu-ibu di ujung gang baru selesai bergibah tentang uang arisan yang tak kunjung turun, ide basa-basi cerdas lainnya bisa bergantian timbul bak rentetan pesan masuk di grup Whatsapp kantor. Contohnya basa-basi kayak, "Enaknya arisan bulan ini di padang rumput apa di pesisir ya?"

Apa saja. That's the point.

Gak nyambung? Who cares? Namanya juga basa-basi.

Jawaban Ter-Savage untuk Serangan Kapan Nikah

Jawaban kapan nikah gak perlu pakai otot atau cemas di sana-sini kok

Jawaban paling mudah sebenarnya adalah dengan diam. Sebagaimana kata orang bijak,

"Diam itu emas."

Ya tapi ada kalanya diam juga diartikan sebagai ketidaksopanan. Masa iya, sesepuh di keluarga bertanya kapan nikah cuma dijawab dengan bungkam. Bisa jadi bahan omongan satu generasi, dirimu!

Tenang, Saudara-saudara! Kapan nikah bukan pertanyaan tanpa jawaban.

Ada sebuah jawaban yang bisa diaplikasikan oleh semua kaum kalau berpapasan dengan kapan nikah. Mulai dari kaum jomlo, sampai kaum-kaum yang masih digantung pasangan untuk menikah. Jawaban yang satu ini paling savage deh.

Secepatnya. Jawab saja secepatnya.

Omongan itu doa kan?

Setiap kali pertanyaan kapan nikah mencuat dari sudut-sudut yang tidak kamu waspadai, tetap pasang ekspresi santai, lalu jawab, "Secepatnya."

Setelahnya, mungkin akan muncul pertanyaan-pertanyaan baru lain yang masih terkait. Tarik napas, tetap tenang lalu katakan, "Secepatnya."

Kalau si penanya masih belum puas dan tetap melempar pertanyaan menjebak lainnya, jangan ambil pusing, jawab saja, "Secepatnya."

Apapun pertanyaan yang dapat muncul dan masih terkait dengan kapan nikah, senyumin aja, kemudian jawab, "Secepatnya."

Niatkan saja sebagai doa. Siapa tahu pas ada malaikat lewat, terus diaminkan, kan lumayan.

Jalani Saja Dulu, Kalau Jodoh Tak Akan Kemana

Semua orang nanti juga akan dipertemukan dengan pasangannya

Teruntuk kamu yang belum dapat kepastian kapan nikah oleh si dia.

Hubungan itu dijalani oleh dua hati. Kalau baru salah satu pihak saja yang siap menikah, pertimbangkanlah dengan sangat matang untuk tetap menunggu atau menyerah dengan hati yang di sana.

Kalau percaya dengan takdir Tuhan, tentu harus percaya dong, kalau jodoh tak akan kemana.

Lalu, teruntuk kamu yang belum menemukan pelabuhan hati.

Percayalah kalau pernikahan bukan sebuah ajang balapan untuk melihat siapa yang laku lebih dulu. Urusan menikah sudah dijadwalkan oleh Tuhan soal kapan berlangsungnya. Kamu hanya sedang berada dalam daftar tunggu. Persiapkan saja dirimu dengan sebaik-baiknya supaya nanti gak malu-maluin pas ketemu dia.

Kalau mau menggali lebih kritis, sebenarnya sumber dari segala bentuk kekacauan pikiran atas pertanyaan kapan nikah itu bermula dari diri sendiri kok. Mengakui atau tidak, segala bentuk kekesalan itu pada dasarnya bersumber dari ketidaksiapan seseorang dalam menerima status lajangnya.

Sederhana saja kalau mau berhenti baper sama pertanyaan kapan nikah. Jadilah seorang lajang yang bahagia. Seorang single bahagia tidak akan terlalu ambil pusing untuk urusan seperti ini. Karena dia yakin, seberapa pun jauhnya, kalau jodoh pasti akan didekatkan.