Karena Menulis Bukan Sekadar Hobi

Kalau menulis bukan hobi kamu, di sini kamu akan menemukan alasan lain untuk mulai menulis.

Karena Menulis Bukan Sekadar Hobi
Photo by Aaron Burden from Unsplash

Kamu menulis untuk apa?

Berkutat dengan tulis-menulis, kadang memunculkan pertanyaan-pertanyaan retorik semacam ini. Entah dari orang-orang di sekitar, atau bahkan dari dalam kepala sendiri. Apalagi kalau sudah melakoni ini cukup lama yang padahal bukan pekerjaan utama.

Sudah jelas sih, jawabannya. Apalagi kalau bukan hobi. Menulis ibaratnya truk besar yang mengangkut sebaran kata-kata di dalam kepala untuk kemudian dipilah dan dipilih agar selanjutnya dapat membentuk barisan kata yang punya arti.

Menulis bagi banyak orang di luar sana adalah hobi. Mungkin tidak terkecuali buatmu. Bagaimana ya? Ada kenikmatan tersendiri ketika runtutan kata-kata itu membentuk bunyi yang enak didengar di kuping. Bukan berarti harus bersajak dan berrima. Yang penting enak didengar dulu deh.

Namun bagi sebagian orang lainnya, menulis itu membosankan—tidak tahu lagi kalau menulis status di media sosial termasuk. Sebagaimana kegemaran yang lain, masing-masing orang tentu punya preferensi sendiri.

Tapi tahu gak, kalau makna menulis yang sesungguhnya bukan sekadar kegemaran atau hobi. Terutama karena pengaplikasiannya yang banyak melibatkan berpikir, menulis punya kualitas yang lebih dari sekadar hobi.

"Apa yang kita tuliskan mencerminkan bagaimana kita berpikir dan menyikapi suatu keadaan."

- Benni Sinaga

Bohong, kalau bilang menulis bisa asal mengalir saja tanpa perlu dipikir dahulu. Bahkan ujaran kebencian pun dituliskan dengan penuh kehati-hatian loh, agar segala unek-unek penulisnya bisa tersampaikan secara lugas.

Karena menulis adalah satu kesatuan dengan proses berpikir, nyaris tidak ada tulisan yang tidak melibatkan pikiran, termasuk rentetan gombalan yang pernah iseng-iseng dirangkai buat godain si dia.

Dia gak tahu aja tuh, betapa butuh effort yang tidak sedikit cuma demi mendapat satu emotikon tawa yang dia kirim sebagai balasan setelahnya. Ish.

Alur Pencapaian Target

Penyusunan rencana melalui tulisan

Demi mencapai sebuah target, seseorang membutuhkan fokus yang bisa menahannya untuk tetap stick to the plan. Rencana, kalau mau dirangkum. Apalah artinya ide jika hanya berakhir di kepala dan pikiran, kan?

Nah, di situ lah tulisan berperan. Tulisan adalah wujud dasar dari komitmen untuk menjalankan sebuah ide. Melalui tulisan, seseorang sebenarnya sedang mencari jalan yang dapat dilalui oleh gagasannya.

Berhubung daya rekam manusia itu terbatas, maka dari itu, media tulis-menulis sering kali menjadi wadah pertama bagi komitmen seseorang untuk mengaktualisasi sebuah gagasan.

Ini akan sangat membantu nanti, untuk sejak dini mengestimasi dukungan dan ancaman yang bisa muncul dari sebuah ide, serta menemukan langkah terbaik yang dapat ditempuh untuk meminimalkan risiko.

Wadah Penyaluran Stres

Ilustrasi seorang wanita dalam melampiaskan emosi

Dikutip dari Health Encyclopedia University of Rochester Medical Center, menulis dapat membantu dalam:

  • Mengelola kekhawatiran,
  • Mengurangi stres, dan
  • Mengatasi depresi.

Dengan menceritakan masalah ke dalam bentuk tulisan, sebenarnya merupakan bentuk dari identifikasi permasalahan. Bahkan bukan tidak mungkin, dengan menulis juga akan membantu kamu menemukan solusi dari permasalahan yang sedang digeluti.

Melalui tulisan, seseorang sedang mengorganisasi pikirannya. Dalam proses organisasi itulah, terkadang hal-hal kecil yang sempat terabaikan bisa muncul dengan sendirinya, kemudian memberikan perspektif baru.

Gak jauh berbeda kok, dari ketika bersih-bersih kamar yang sudah cukup berantakan dan kacau balau. Nanti pasti ada muncul celetukan-celetukan semacam, "Wah, ini kan yang kemarin hilang!" atau "Ternyata di sini toh, sudah dicari kemana-mana."

Hal-hal remeh itu bisa saja bermain peran yang tak kecil loh, dalam masalah yang sedang kamu hadapi. Oleh karenanya, organisasi pikiran melalui tulisan pun menjadi salah satu alternatif yang juga tepat dalam pemecahan masalah untuk mereduksi stres.

Alternatif Penyembuhan Fisik

Kotak P3K untuk pertolongan pertama pada kecelakaan fisik

Bukan cuma luka batin loh, yang bisa diterapi lewat kegiatan menulis. Pernah dengar gak kalau menulis juga berperan dalam menyembuhkan luka fisik?

Sebuah penelitian yang dipublikasikan di tahun 2013 menyebutkan bahwa ada perbedaan yang tampak dari kecepatan penyembuhan luka sayatan pada 49 orang dewasa sehat yang diminta menulis selama tiga hari berturut-turut dengan yang tidak.

Di penelitian lain, bahkan disebutkan bahwa terapi menulis selama tiga bulan yang dilakukan pada penderita kanker payudara memiliki dampak yang positif terhadap perkembangan kesehatan pasien.

Meski masih membutuhkan studi lebih lanjut, namun fakta-fakta ini cukup menguatkan gagasan bahwasanya menulis punya peranan positif dalam proses penyembuhan fisik.

Kalau mau dikaitkan dengan dampak menulis terhadap pengelolaan stres, sebenarnya cukup punya keterkaitan juga. Habisnya, stres sendiri cukup berdampak pada keterlambatan penyembuhan fisik. Maka dengan mengeliminasi stres, seharusnya poin ini menjadi masuk akal.

Menulis adalah Kekuatan

Ada kekuatan di balik sebuah tulisan

Menulis membagikan kekuatan pada orang lain. Menulis menyalurkan ketegaran pada para pembaca. Dengan menulis, seseorang dapat bebas berekspresi dan mengeluarkan beban pikiran. Karena itu, menulis juga menjadi kekuatan bagi diri sendiri.

Tulisan adalah sarana penyaluran unek-unek. Dengan menulis, seseorang juga bisa mematenkan naskah-naskah penyemangat yang bisa dikaji lagi kapanpun mental dan hati melemah.

Ada sebuah kisah tentang seorang bocah yang sedang belajar menulis surat. Konyolnya, surat itu ditujukan untuk dirinya sendiri di masa depan.

Bocah itu senang menuliskan kata-kata penyemangat, yang pada waktunya nanti akan kembali ia baca sambil tersenyum simpul. Entah karena isinya yang terdengar sok bijak, atau karena cara menulisnya yang di kemudian hari ia dapati salah semua.

Mungkin terdengar konyol. Mungkin bagi sebagian orang jadi kayak, "Apaan sih?"

Tapi justru dari sana lah bocah kecil itu menemukan kekuatan. Ketika ia tidak bisa menemukannya dari tempat atau orang lain, justru dari dirinya yang lampau itu lah kekuatan itu datang.

Cerita yang serupa mungkin pernah kamu dapati ketika membaca tulisan apapun itu yang entah bagaimana sangat bisa menyemangati diri kamu. Percaya atau tidak, ada kekuatan yang bisa kamu temukan di balik sebuah tulisan. Terdengar aneh sih, tapi itu nyata.


Jika menulis adalah hobi kamu, mendalami kegemaran yang satu ini bisa memberikan banyak faedah lain. Apalagi kalau tulisanmu bisa bernilai lebih. Semakin banyak alasan dong, untuk meneruskan hobi ini?

Kalaupun menulis sama sekali tidak menjadi hobi dan kegemaran kamu, tak ada salahnya sesekali mencoba menekuni kegiatan yang satu ini. Lumayan kan, kalau bisa jadi salah satu terapi fisik dan mental gratis yang ternyata membuahkan hasil.