Kejutan di Balik Quarter Life Crisis

Apakah quarter life crisis adalah krisis transisi yang terakhir?

Kejutan di Balik Quarter Life Crisis
Photo by Juan Pablo Arenas from Pexels

Beberapa waktu lalu, saya mendapat sebuah notifikasi artikel tentang midlife crisis, dan akhir-akhir ini adik saya menunjukkan tanda-tanda quarter life crisis. Kemarin ia baru saja mengeluhkan kuliahnya karena belum menemukan 'worth' nya apa. Saya jadi ingat ketika sekitar 3 tahun lalu mengalami quarter life crisis. Rasanya memang luar biasa menyiksa.

Bagi yang sudah pernah merasakan quarter life crisis, pasti merasakan betapa seringkali yang kita lakukan terlihat pointless. Belum lagi ketika niatnya cari hiburan di Instagram, ujungnya membandingkan diri sendiri dengan orang lain, dan yang paling parah, tidak tahu apa yang harus dilakukan dalam hidup ini. 

Terkadang sebagian dari kita hanya melewati quarter life crisis tersebut tanpa benar-benar merasakan apa faedah di balik quarter life crisis tersebut. Tidak salah kok, barangkali saja yang kita resahkan di saat mengalami quarter life crisis baru terlihat wujud jelasnya di beberapa tahun mendatang. 

Lagipula, quarter life crisis bukanlah satu-satunya krisis transisi yang kita hadapi dalam hidup ini. Dulu kita melalui pubertas, lalu saat akan memasuki usia dua puluhan, kita mengalami transisi lagi yaitu coming of age. Tidak lama kemudian transisi yang (mungkin) lebih menyakitkan, yaitu quarter life crisis.

Tapi tunggu dulu, ketika kamu bisa dibilang mulai udzur nanti, masih ada midlife crisis yang akan kita bahas sedikit selanjutnya. Sebelum kita menuju poin pembahasan midlife crisis, ada baiknya buat kamu yang sedang mengalami quarter life crisis, untuk berbahagia dengan kejutan-kejutan ini.

'Worth' dari sesuatu tidak selalu langsung hadir 

Segala hal ada hikmahnya

Kembali ke rasa buntu yang diceritakan adik saya tadi, dulu pun saya juga memikirkan hal serupa. Hingga saya menemukan sebuah bacaan yang saya lupa sumbernya, dan ada kata-kata seperti ini 'you don't have to figure out everything until it shows clear'. Jadi, kita tidak perlu overthinking terhadap segala sesuatu hingga semuanya nampak jelas.

Quarter life crisis memang membikin kita cemas amit-amit, hingga rasanya segala yang kita lakukan harus jelas misi dan tujuan sampai hasil akhirnya sekalian. Tapi, tidak semua hal yang kita lakukan sekarang juga memiliki alasan untuk momen saat ini.

Saya kira tidak hanya saya saja, tapi juga banyak orang yang baru menemukan 'worth' dari jurusan yang digeluti atau apa yang sedang ditekuni, setelah beberapa bulan atau bahkan tahun berikutnya.

Barangkali Tuhan memang mempersiapkan worth tersebut  belakangan, sehingga bisa digunakan untuk menghadapi kehidupan di masa depan, dan untuk masa yang lebih berkepanjangan. 

Menggadaikan passion demi modal yang lebih besar

Meninggalkan passion demi kondisi ekonomi

Ada dua tipe pejuang quarter life crisis. Yang pertama, doi belum tau sama sekali apa yang harus ia geluti untuk mengembangkan diri dan mencapa 'sukses' sesuai definisi pribadinya. Yang kedua, adalah orang yang tau betul apa yang ia sukai, namun harus mengalah karena situasi yang tidak mendukung.

Untuk tipe yang kedua ini, yang mengalaminya akan rawan merutuki kehidupannya sendiri. Mungkin ia akan menyalahkan keadaan, sambil tetap merasakan banyak ketidak-tenangan di quarter life crisis. Bagi tipe yang kedua ini, jangan terlalu lama bersedih, kamu luar biasa karena mampu mengalah demi kepentingan bersama.

Mungkin untuk saat ini, menggadaikan passion dan idealisme adalah hal yang sangat pahit. Namun, tidak untuk nanti. Kamu sudah dilatih menjadi pribadi yang lebih kuat dan ikhlas. Meski keikhlasan adalah keuntungan yang tak nampak, percayalah itu adalah modal yang sangat besar, dan barangkali yang terbesar dalam hidup ini.

Kita setiap saat butuh ikhlas, dan kamu mungkin akan menemukan hal-hal yang lebih besar yang perlu diikhlaskan nantinya. Dan ketika kamu sudah memiliki modal besar berupa sikap ikhlas, kamu tidak akan terjerembab terlalu sakit untuk peristiwa-peristiwa yang berikutnya. 

Quarter life crisis bukan akhir, masih ada midlife crisis di baliknya

Midlife crisis yang dialami orang tua

Sama seperti quarter life crisis, midlife crisis adalah saat dimana seseorang memiliki banyak pertanyaan dan sikap reflektif dalam hidupnya. Namun, perlu digaris-bawahi bahwa tidak semua orang mengalami midlife crisis. Menurut sumber Verywellmind dan The Huffington Post, midlife crisis dialami pada sekitar usia 40an dan 50an. 

Meski tidak semua orang mengalaminya, kamu tetap perlu mengetahui tentang midlife crisis hanya untuk sekedar berjaga-jaga agar tidak terlalu kaget saat barangkali mengalaminya suatu hari nanti. 

Masih bersumber dari Verywellmind, midlife crisis dapat diawali dengan perubahan besar yang terjadi dalam hidup, misalnya perceraian, kematian orang terdekat, kehilangan pekerjaan, dan sebagainya. 

Tekanan yang dialami saat midlife crisis sebenarnya tidak jauh berbeda dengan krisis-krisis transisi yang lainnya. Seseorang bisa membanding-bandingkan hidupnya dengan orang lain, melakukan perubahan besar dalam hidup (bisa baik atau buruk), cemas dengan waktu yang sudah dilewati, merasa tidak puas atau bingung dengan arah hidup, dan sebagainya.

Mungkin sebagian dari kamu merasa pembahasan midlife crisis ini masih terlalu jauh, tapi jangan lupa, semua orang tidak mengalami quarter life crisis di waktu yang sama. Sebagian sudah merasakannya di usia 18 atau 19, sebagian juga baru merasakannya di usia 25an atau bahkan setelahnya. Jadi, bisa juga kamu mengalami midlife crisis di waktu yang lebih awal.

Yang pasti, krisis-krisis transisi dalam hidup mengajarkan hal yang sama, yaitu setiap orang memiliki kehidupan yang unik. Jika waktu kedatangan krisis-krisis tersebut saja berbeda, maka fase kehidupan yang lain seperti puncak karir, pernikahan, memiliki anak, dan sebagainya juga berbeda-beda tiap orang.

Tidak ada satu pun dari kita yang terlambat ataupun terlalu cepat dalam menapaki tiap fase kehidupan. Bukan berarti ketika kita melihat seseorang pada jalur yang (kelihatannya) pas, maka ada yang salah dalam hidup kita. Karena jalur kita dan yang lain memang tidak sama. 


Berbagai krisis transisi seperti quarter life crisis dan sebagainya, memang seringkali membuat kita menghadirkan sikap reflektif. Tidak apa-apa, kadang hal itu bagus hanya jika kita merefleksikan kehidupan dan membuka peluang baru yang berbeda dari sebelumnya.

Namun, kita juga perlu menjaga diri agar krisis-krisis tersebut tidak membuat kita menyesali kehidupan yang sekalian lama telah dijalani mati-matian. Bertahan hidup dengan sebaik-baiknya adalah hal yang lebih dari cukup untuk diapresiasi. Jangan sampai hasrat membandingkan diri dengan orang lain membuat kita merasa tidak menjalani hidup dengan cukup baik :)