Kenal Deepfake? Seremnya Nggak Kalah Sama Omongan Tetangga

Deepfake terlalu tampak riil sebagai kebohongan

Kenal Deepfake? Seremnya Nggak Kalah Sama Omongan Tetangga
Photo by Sebastiaan Stam from Pexels

Dulu pasti kamu sering mendengar hoaks-hoaks aneh seperti manusia berbadan setengah ikan, kadal berkepala kodok, dan sebagainya. Waktu itu, masih banyak orang yang percaya dengan humor garing semacam itu. Namun, sebenarnya ini tidak seberapa seram.

Horornya hoaks kemudian meningkat tajam meskipun tidak disertai visual absurd seperti itu, begitulah hoaks kekinian. Hoaks era kekinian bahkan bisa membuat orang saling bermusuhan bahkan menyerang satu sama lain akibat mendukung tokoh publik yang berbeda.

Hoaks saat ini juga lebih halus. Video yang dipotong-tempel jadi tampak seakan one-take video, dan berita yang berbau post-truth bisa menyetir isi kepala orang untuk memiliki bias kognitif yang rasis dan diskriminatif. 

Nah, ini baru video potong-tempel dan informasi teks. Bagaimana dengan hoaks dalam bentuk video tapi visualnya sangat utuh (tidak ada potongan) dan nyata?

Hoaks semacam ini pastinya lebih berbahaya karena sangat sulit menebak mana letak kepalsuannya. Jika kita bukan orang yang secara langsung melihat atau mengetahui kebenaran kejadian dalam video tersebut, bisa-bisa kita juga ikut termakan hoaks. Inilah yang menyeramkan dari deepfake.

Mungkin sebagian dari kamu masih asing dengan yang disebut dengan deepfake ini. Soal si deepfake ini, kita perlu banget mengetahuinya.

Selain bisa menggiring opini yang tidak benar, deepfake memang salah satu kebohongan terjahat di kehidupan digital. 

Apa itu deepfake

Apa itu deepfake

Dari namanya kamu bisa melihat ada dua kata yang membentuknya kan, yaitu deep dan fake. Pasti mayoritas dari kamu juga paham apa arti keduanya. Apalagi soal fake fake yang seperti fake love, fake friends, dan fake fake lainnya, millenial adalah ahlinya.

Kalau menurut Merriam Webster, deepfake tidak benar-benar terkonstruk dari kata deep dan fake saja. Kata deep di sini sebenarnya merujuk pada deep learning, bukan pembelajaran yang dalam. Tapi, deep learning adalah semacam machine learning, yaitu semacam proses atau mekanisme kompleks yang membuat komputer dapat meningkatkan performanya sendiri.

Rumit bukan? 

Gampangnya, deepfake adalah teknologi yang memungkinkan algoritmanya bisa menukar wajah seseorang dengan wajah orang lain di sebuah video.

Pendeknya, ini adalah sebuah teknologi video sintetis menukar wajah. 

Sudah mulai terasa seremnya bukan? Bukan seram secara visual, tapi deepfake terlalu rawan disalah-gunakan untuk tujuan yang tidak bijak. Selama ini, deepfake telah digunakan untuk meme, protes, tujuan politis, bahkan revenge porn (porno balas dendam).

Kalau untuk meme biasa atau meme protes sih masih oke saja, tapi ketika deepfake dimaksudkan untuk tujuan politis misalnya melakukan framing atas tokoh tertentu atau memfitnah figur publik demi memperlihatkan citra buruk, tentu ini sangat berbahaya.

Kehebohan pemilu baru-baru ini saja masih terasa dekat di telinga. Sulit dibayangkan hebohnya imbas deepfake di negara ini yang masyarakatnya masih gampang terbujuk rayu hoaks.

Mungkin bagi generasi digital atau digital natives, kita setidaknya bisa memberi penjagaan pada diri sendiri akan bahayanya deepfake. Namun, untuk imigran digital yang notabene diisi oleh para orang tua, emak-emak, mbah-mbah, pakde-bude ini, mereka sangat rawan percaya mentah-mentah. Boro-boro membentengi diri sendiri, mengenal deepfake saja mungkin tidak. 

Berhubung deepfake pamornya perlahan-lahan naik daun, bukan tidak mungkin di pemilihan umum berikutnya negara kita jadi makin confusing gara-gara pemanfaatan deepfake untuk hal yang enggak-enggak.

Tapi, berbahayanya deepfake tidak cuma menyasar sektor politik saja lho. Sektor pornografi bahkan sudah lebih dulu diributkan dengan adanya deepfake ini. Korbannya adalah para artis yang tiba-tiba wajahnya menempati tubuh yang bukan tubuhnya.

Dan bukan cuma artis saja yang nyatanya rentan menjadi korban deepfake untuk konten pornografi, bahkan orang biasa juga. Kamu sudah tau revenge porn (porno balas dendam) ?

Revenge porn adalah salah satu bentuk kekerasan seksual yang dimaksudkan pelaku agar mendapat apa yang diinginkannya melalui ancaman konten porno. Revenge porn menggunakan deepfake ini sama halnya dengan para artis. Wajah si korban ditempatkan di wajah model dalam video porno tersebut.

Revenge porn adalah cara culas pelaku untuk membuat korban takut andai-andai video tersebut disebarkan. 

Deepfake membuat kita lebih sulit untuk memfilter mana informasi yang bisa dipercaya dan tidak

Apa itu deepfake

Keberadaan deepfake yang kualitas gambarnya halus ini membuat orang sulit untuk menerka di mana letak celanya. Dikarenakan deepfake dan video asli sama-sama terlihat natural, tentu orang yang sangat awam dengan deepfake bisa kebingungan membedakan mana yang video asli dan mana yang tidak.

Untuk skala peredearan deepfake yang masif, hal ini akan membuat kita sulit percaya dengan informasi yang datang, satu lagi trust issue

Apalagi, opini publik bisa dengan mudah dikendalikan dengan sosok yang berkuasa dan menguasai media arus-arus utama. Jika berbagai deepfake dirilis melalui media-media arus utama yang dikuasai tokoh tertentu, tentu saja deepfake yang palsu ini bisa dianggap asli oleh sebagian orang, meskipun toh ada sanggahan atas keasliannya. 


Keberadaan deepfake bisa berarti akan semakin memperkeruh iklim dunia digital yang sudah keruh ini. Dalam skala kecil, deepfake bisa membuat seseorang kesulitan untuk mempercayai berita. Tapi, pada skala di atasnya, penyebaran deepfake bisa menghancurkan hidup dan citra individu, contohnya dalam kasus revenge porn.

Dalam skala yang di atasnya lagi, deepfake bisa menggiring opini masyarakat. Dalam skala yang paling besar, deepfake bisa merubah iklim politik sebuah negara, yang tentu saja bisa berimbas pada siapa yang memimpin dan kebijakan apa yang nantinya akan didapatkan oleh masyarakat. 

Kebohongan dunia digital memang sama sekali tidak bisa dianggap seperti tusukan duri. Entah itu hoaks dalam bentuk teks, video, ataupun deepfake, ketiganya bukan tandingan omongan tetangga.