Kenapa Ada Demo? Karena Pemerintah Tidak Kenal Shame Culture

Anak-anak berlagak dewasa karena orang dewasa seperti anak-anak

Kenapa Ada Demo? Karena Pemerintah Tidak Kenal Shame Culture
Photo by Marc Sendra Martorell from Unsplash

Sebagai aksi massa perlawanan terhadap pemerintah, skala demo yang terjadi beberapa hari terakhir adalah yang terbesar pasca 1998. Meski jelas tujuan dari para mahasiswa ini apa, tapi tentu demo menempati kesan yang berbeda pada diri setiap orang. Ada yang benar-benar pro terhadap demo, ada yang nyinyir, ada yang bilangnya 'netral'.

Neraka terdalam dipersiapkan bagi mereka yang bersikap netral di tengah krisis -Dante Alighieri-

Bahkan beberapa hari lalu ada seorang selebgram yang jadi bahan tertawaan netizen lewat sebuah akun gosip di Instagram. Mbak selebgram ini rupanya tipe kedua, ia tidak setuju dengan adanya demo. Yang membuatnya terlihat lucu adalah, beliau menyebut bahwa para mahasiswa ini sebenarnya tidak perlu 'se-be-gi-tu-nya', toh sederet UU ini belum disahkan.

Maka si akun gosip tersebut menambahkan caption 'ya kalau udah disahkan ngapain demo'. Tentu saja postingan story Instagram mbak ini mengundang banyak penghuni Instagram untuk 'bersilaturahmi'.

Banyak yang menyayangkan sikap selebgram tersebut, walau pada akhirnya ia menggembok akun Instagramnya. Dan pada akhirnya bisa ditebak, ia harus meminta maaf pada massa Instagram miliknya. 

Perbedaan pendapat di sini sebenarnya tidak masalah, tapi yang dilupakan mbak selebgram tadi adalah, ketidak-setujuan bukan berarti ia berhak menggembosi sikap mahasiswa. 

Memangnya kenapa sih, kok sampai mahasiswa turun ke jalan? Apa tidak bisa lagi diadakan dialog? 

Permasalahannya adalah, undangan dialog sudah diusahakan para mahasiswa sejak tanggal 19 September dan panggilan dialog tersebut tidak digubris. Bahkan, sindiran dari masyarakat melalui sosmed tidak mempan.

Tentu saja sikap pemerintah yang demikian mengisyaratkan bahwa pendapat rakyat yang diwakili para mahasiswa, bukanlah hal serius bagi mereka. Sikap diremehkan seperti ini jelas mengundang reaksi yang lebih keras, apalagi saat ini kita semua sedang berlomba dengan waktu. 

Selain faktor tidak digubris tersebut, sikap reaktif yang diinisiasi mahasiswa ini dikarenakan mereka mendapatkan alarm bahwa rupanya pemerintah tidak punya rasa malu atau shame culture. 

Shame culture di negara lain

shame culture di negara lain

Kita sebenarnya cukup sering melihat budaya malu di media, tapi datangnya bukan dari negara ini. Kebanyakan budaya malu ini datang dari negara-negara Asia Timur seperti Jepang dan Korea. Terutama di Jepang, pejabat yang tidak becus akan merelakan jabatannya karena tidak kuat menanggung malu akibat kinerjanya yang buruk.

Sedangkan di Korea, bagi penikmat musik di sana, penggemarnya akan terbiasa melihat berbagai artis keluar dari grup atau mundur dari dunia hiburan, atau mengumumkan hiatus, karena mereka malu dengan skandal yang menimpa dirinya, bahkan jika skandal tersebut belum terbukti.

Nah, rupanya para pejabat kita ini tidak punya budaya malu sehingga sampai para mahasiswa se-Indonesia terlibat demo pun, dibilangnya 'nostalgia'. 

Menilik budaya malu di Jepang, budaya ini rupanya terbentuk bahkan sejak ratusan tahun lalu ketika rezim samurai masih berkuasa. Tentu kamu mengenal harakiri kan? Budaya bunuh diri yang lebih dikenal dengan cara merobek perut menggunakan pedang ini memiliki filosofi ketidak-egoisannya sendiri.

Dikatakan di Psychology Today, berdasarkan aspek historisnya, pandangan sosial saat itu mengatakan bahwa ketidakbecusan para samurai sebagai pemimpin akan berakibat bagi seluruh anggota keluarga yang ia pimpin.

Oleh karena itu, harakiri dilakukan dengan logika, daripada banyak orang yang ikut susah, satu orang harus menanggungnya. Kemudian harakiri dipandang sebagai cara untuk mengembalikan kehormatan sebuah keluarga. 

Rasa malu dan rasa bersalah sebagai fungsi sosial seseorang

rasa malu dan rasa bersalah

Inilah yang tidak ditemukan dari pemerintah kita. Saya sendiri mengikuti salah satu aksi massa beberapa hari lalu tepat di depan DPRD kota saya. Namun, hingga aksi kami hampir usai, cuma ada satu anggota DPRD yang nongol ke tengah massa.

Kawannya yang lain hanya muncul di beranda DPRD ketika situasi memanas dan polisi menyiapkan water cannon, itu pun cuma beberapa orang. Tentu ini menyakitkan bukan?

Kamu bisa menganalogikan begini, ada seseorang yang jelas-jelas berbuat salah padamu, lalu kamu sengaja mendatangi rumahnya. Di depan rumahnya, kamu bahkan tidak dipedulikan. Pasti kamu berpikir seakan dirimu ini hanya lelucon baginya, iya bukan?

Alih-alih merasa malu dan bersalah, pemerintah kita yang suka ngaco itu justru masih bisa membodoh-bodohkan dan memberi jawaban berbelit-belit di berbagai dialog televisi. Tujuannya? Untuk memanipulasi pandangan, untuk membuat publik mempertanyakan daya pikir dan kewarasannya sendiri. Satu lagi bentuk gaslighting, namun bertujuan skala massal. 

Menurut tulisan Takie Sugiyama Lebra, dalam rasa malu, orang lain ditempatkan sebagai audiens, sementara dalam rasa bersalah, orang lain ditempatkan sebagai korban atas perilaku kita. Nah, kalau dari situasi kita sekarang, di mana masyarakat dianggap angin lalu, menurutmu pemerintah bisa dikategorikan yang mana?

Rasa malu dan rasa bersalah sebenarnya memiliki fungsi 'behaviour in check'. Untuk selalu menakar sikap kita sebagai makhluk individualis dan kolektifis di saat bersamaan. Ketika keduanya ini tercampur, seperti pemerintahlah contoh akibatnya.

Aturan yang dibuat demi kepentingan publik dibuat bancakan untuk kepentingan personal dan lingkar sosial mereka yang terdekat. 

Ditambah lagi pada dasarnya, rasa malu dan rasa bersalah adalah mekanisme psikologis untuk menghukum diri sendiri, dengan catatan ketika kompas moral seseorang bekerja.

Bukannya sok moralis di sini, tapi kalau menengok RUU KUHP yang isinya jelas-jelas ditulis dengan sudut pandang kaum moralis, yang sampai-sampai urusan individu harus diurus negara, itu apa tandanya kompas moral mereka bekerja tersendat-sendat dan hampir out of order?

Seperti televisi yang gambarnya dipenuhi semut atau radio yang sudah kemrusuk (tidak jelas). Hal yang harusnya jadi ranah pribadi jadi urusan negara, dan justru aturan-aturan konyol yang seharusnya dibuat demi kemaslahatan satu negara dipermak untuk kepentingan pribadi. 


Memang benar kok isi salah satu poster mahasiswa yang berbunyi 'DPR wayahe kerjo malah turu, pisan kerjo malah keliru', DPR waktunya kerja malah tidur, sekalinya kerja malah keliru.

Aksi mahasiswa bukan aksi kekanak-kanakan. Seperti halnya aksi Greta Thunberg yang membangunkan seluruh dunia bahwa kita sedang dibayangi kematian akibat perubahan iklim.

Mereka bukan sok heroik, itu adalah sikap reaktif karena mereka sadar bahwa kehidupan kita semua di bawah ancaman. Maka dari itulah, anak-anak berlagak dewasa karena orang dewasa kekanak-kanakan.

Let me go
I don't wanna be your hero
I don't wanna be a big man
Just wanna fight with everyone else

Your masquerade
I don't wanna be a part of your parade
Everyone deserves a chance to
Walk with everyone else

Family of the Year-Hero