Konspirasi Lewat Media Sosial: Bikin Geli Tapi Banyak yang Masih Percaya

Cocoklogi tidak hanya dipakai saat seseorang membaca ramalan zodiak dirinya sendiri. Faktanya cocoklogi adalah metode favorit para pembuat-pemercaya-dan penyebar teori konspirasi.

Konspirasi Lewat Media Sosial: Bikin Geli Tapi Banyak yang Masih Percaya
Photo by Kyle Glenn from Unsplash

Baru-baru ini saya mendapat forward message dari sebuah grup keluarga yang membahas tentang himbauan mewaspadai simbol love yang dibentuk oleh jari telunjuk dan ibu jari.

Katanya, simbol itu harus diwaspadai karena sebenarnya itu adalah simbol salib dan ajakan untuk berpindah ke agama lain.

Yang saya garis-bawahi, kenapa mereka anti banget sama yang bukan seiman.

Tapi, terlepas dari membahas soal agama, bagi generasi baby boomers, orang tua kita, om-tante, mbah, dan sebagainya, teori konspirasi bagi mereka adalah sesuatu yang mengguncang nalar tapi juga memberi pencerahan.

Dalam batin mereka “oh gitu ternyata!”. Walau begitu, sebagian generasi di bawahnya juga ada yang masih percaya lho.

Kalau sekarang, jarkom teori konspirasi tidak mengundang decak kagum banyak orang.

Yang ada, sebagian besar justru mengundang tawa dan caci-maki netizen. Ini pertanda bagus sih, artinya masyarakat memiliki peningkatan kognitif.

Beberapa waktu lalu, pasti kamu masih ingat kan, soal ustad Baequni yang bilang bahwa rancangan masjid Pak Ridwan Kamil mengandung banyak unsur iluminati?

Selain itu, ada kasus lain yang beneran bikin gedeg dan nafas lewat telinga, yaitu sekumpulan penduduk dari Ponorogo berbondong-bondong ke sebuah pesantren di Malang untuk menghindari hari kiamat.

Katanya, di sana adalah tempat yang nggak kena imbas kiamat. Bukannya kalau kiamat kita semua mau tidak mau pasti binasa ya? Oh, mungkin yang punya pesantren dulu ikutan bikin jagat raya sama Tuhan. Lantas menurut kalian, apa saja yang menyebabkan sebagian orang masih percaya teori konspirasi?

Mungkin untuk menjelaskan hal ini, kita perlu agak nyerempet ke psikolinguistik.

Ketika pertama kali mendapat jarkom konspirasi, orang akan merasa takut.

Paranoia yang tidak beralasan ini tidak disadari karena pembuat teori konspirasi memadukan beberapa unsur, yaitu cocoklogi serta diksi yang meyakinkan dan terdengar menakutkan. Kita perlu jujur, bahwa berita atau pengalaman negatif memang melekat lebih kuat di otak kita dalam bagian yang disebut amygdala.

Oke, kita bahas unsur yang pertama dulu, cocoklogi di sini dibuat oleh seseorang yang kreatif tidak pada tempatnya. Ia mencari serpihan-serpihan gambar dan informasi dan merangkainya seakan berkaitan, padahal tidak sama sekali.

Bagi penerima informasi yang terbiasa menerima sesuatu mentah-mentah dan kurang kritis, otomatis hal tersebut menjadi sesuatu yang terlihat baru, bombastis, dan dapat dipercaya.

Kedua, diksi yang meyakinkan dan terdengar menakutkan.

Ketakutan memang cara ampuh untuk menggerakkan masa

Contohnya bisa kita lihat dalam banyak wacana pilpres kemarin. Dan bagi orang yang kecakapan literasinya kurang, otomatis lebih mudah mempercayai sesuatu daripada memikirkan secara mendalam atau bahkan mencurigainya.

Lagipula, lemahnya daya literasi juga disebabkan karena banyak orang kurang membaca. Bank informasi yang kurang akan membuat sesorang tidak mengenali sesuatu yang seharusnya dipertanyakan, karena mereka tidak memiliki background pengetahuan yang cukup.

Bisa dibilang, mempercayai teori konspirasi sama artinya dengan memiliki rasionalitas yang tidak runut.

Dan sayangnya kawan, tingkat pendidikan sama sekali tidak menjamin seseorang akan memiliki kognitif runut dan teratur.

Penyebab hal ini bisa kita jelaskan dengan memandang metode pengajaran dan budaya literasi di Indonesia.

Menuntut ilmu di Indonesia ini terlalu ribet dan melelahkan, makanya agar tidak lelah-lelah amat, kita puluhan tahun dididik dengan fokus menghafal.

Menghafal memang bukan sesuatu yang cukup baik untuk perkembangan kognitif seseorang, karena ia akan terbiasa memperoleh informasi instan yang langsung bisa diaplikasikan. Akibatnya, ketika mendapat informasi yang sifatnya komprehensif dan butuh diurai, kita jadi gagap mencernanya.

Maka dari itu, kalau kita lihat negara-negara dengan tingkat literasi tinggi seperti di area Nordik (Finlandia, Denmark, Swedia, dkk), mereka berpenduduk orang-orang yang rasional-ilmiah dan mungkin sangat minim-atau malah tidak ada yang percaya teori konspirasi.

Untungnya adalah, sebagian besar orang yang percaya teori konspirasi adalah para senior-senior kita yang sudah tua.

Dapat dimaklumi sih, mereka masih kaget waktu disuruh imigrasi ke dunia digital. Mereka masih belum terbiasa memfilter informasi yang berasal dari sumber terpercaya atau bukan. Dan di zaman mereka dulu, mengakses bacaan tidak semudah sekarang, jadi mereka tidak terlalu luwes dengan hal-hal yang mengandung banyak informasi.

Namun, yang lebih penting lagi, jangan sampai adik-adik atau sejawat kita juga ikut-ikutan percaya teori konspirasi.

Nah, di sini lho pentingnya membaca. Percaya hal gituan bukan cuma geli didengar, kan kalau ditertawakan orang lain juga nggak asik!