Kopi - Penangkal Kantuk Yang Berubah Menjadi Tren

Kamu sadar nggak, tren dalam bermedsos akhirnya mempengaruhi pola konsumsi kita?

Kopi - Penangkal Kantuk Yang Berubah Menjadi Tren
Photo by Nathan Dumlao from Unsplash

Dulu nih, penikmat kopi biasanya ya cuma orang dewasa, bapak-bapak, om-pakde, pak satpam, mas-mas angkringan, dan justru pamor emak-emak sebagai peminum kopi tidak sekondang laki-laki dewasa yang minum kopi.

Kalau sekarang, bahkan jika kamu ingin cari remaja perempuan peminum kopi juga gampang.

Sebenarnya ini bukan soal hubungan antara minum kopi dan gender, sih.

Cuma apa kamu sadar, terutama 4-5 tahun terakhir ini kalangan penikmat kopi semakin meluas karena salah satu faktornya adalah tren bersosmed. Terutama 2 tahun belakangan, ada tren masif penikmat kopi yang umurnya masih kisaran remaja pertengahan.

Memang ini semua tidak lepas dari bagaimana setiap orang terekspos gaya hidup minum kopi yang terjadi beberapa tahun terakhir.

Apalagi, penjajak pasar dunia kopi juga mengalami lonjakan pesat, yang ditandai dengan berdirinya ribuan kafe beberapa tahun belakangan ini. Pada akhirnya, selain kafe yang berfokus pada makanan, di belakangnya diikuti ribuan kafe baru yang berfokus pada kopi.

Padahal sebenarnya bisnis kafe atau warung yang fokus pada kopi juga sudah ada sejak lama.

Bahkan, budaya ngopi-ngopi sama sekali bukan hal yang baru di negara kita. Lonjakan pasar mulai sangat terasa saat medsos, terutama Instagram menampilkan berbagai mode minum kopi. Tentu saja peran estetika juga ikut andil.

Anak muda berpengaruh biasanya memposting foto dengan tampilan yang "menjual", terlihat kekinian, serta estetik bagi kawula muda.

Tidak perlu menunggu lama tren ini langsung membanjiri Instagram.

Apalagi, ada sebuah pemahaman yang kita semua sepakati tanpa sadar, bahwa sosial media bukan hanya sekedar tepat mencari hiburan, tetapi juga tempat sebagian orang mencari validasi atas dirinya.

Bagaimanapun, ketika seseorang sudah merasa sebagai bagian dari masyarakat dunia mayanya, ia akan mencari cara agar tetap menjadi bagian dari komunitas dunia maya tersebut. Walaupun ini tidak terjadi di semua orang.

Maka, mengikuti tren adalah salah satu cara agar orang tetap menjadi bagian dari suatu komunitas dunia maya dan identitasnya tetap diakui.

Selain itu, brand kopi yang populer juga ikut membantu ‘self-branding’ penikmat kopi itu sendiri di sosial media. Seseorang lebih cenderung membeli kopi yang dapat memberi identitas dan validasi atas dirinya.

Bagaimanapun, merk kopi kekinian atau merk kopi multinasional lebih dipilih karena menunjukkan bagaimana karakter muda-mudi modern. Selain itu, saat ini pengemasan kopi yang berformat gelas plastik dan sedotan lebih dinikmati karena mampu menunjukkan merk kopi kekinian tersebut.

Pengemasan dengan cara seperti ini terlihat lebih menarik karena setiap brand memiliki riasan yang autentik.

Sebenarnya hubungan antara kopi dan tren bagi anak muda adalah sesuatu yang sangat mudah ditebak. Bagaimanapun, kaum muda selalu menjadi pusat ketertarikan dunia, apalagi pasar. Maka, terjadinya berbagai evolusi dalam mengkonsumsi kopi tentu sangat mungkin.

Tidak dipungkiri bahwa tren meminum kopi, terutama yang kekinian, banyak menciptakan peluang positif.

Tidak hanya dari segi produktifitas pasar kopi dan juga imbas finansialnya pada petani kopi, melainkan juga menghadirkan peluang-peluang wirausaha dan kreatifitas dalam hal pemasaran.

Namun, tentu saja hal ini punya imbas kurang baik dalam aspek yang lebih mendasar dan dekat kehidupan kita.

Apa itu?

Tentu kamu sadar bahwa gaya hidup adalah sesuatu yang membutuhkan kontrol. Kita boleh saja mengikuti sebuah tren karena terlihat menarik dan kita bisa mengusahakannya, tetapi itu bukan alasan untuk bersikap berlebihan.

Mau bagaimana lagi, paling tidak untuk membeli segelas kopi kamu perlu mengeluarkan puluhan ribu, ini angka yang tidak seberapa jika kamu sekali dua kali melakukannya dalam seminggu, itu pun jika kamu bekerja dengan penghasilan lumayan.

Namun, yang berbahaya adalah jika kamu terlalu memaksakan diri untuk menjadi bagian dari sebuah komunitas baik di dunia maya atau nyata dan memaksakan kondisi finansial untuk membeli kopi kekinian.

Intinya, kamu tidak apa-apa ngopi sesuka hatimu

Asal jangan sampai mempengaruhi prioritas finansial apalagi kesehatan.

Dan walaupun saat ini tren meminum kopi memiliki kesan yang lebih modern, trendi, dan memerlukan kocek ekstra, untungnya kita masih memegang teguh nilai budayanya. Kopi memang sebuah pemersatu yang pas walaupun tidak semua orang tawar meminumnya.