Kumpulan Quotes Ini Mampu Mengubah Caramu Melihat Dunia

Paertanyakan kembali semua yang kamu percayai.

Kumpulan Quotes Ini Mampu Mengubah Caramu Melihat Dunia
Photo by Allie Smith from Pexels

Banyak orang yang masih menganggap bahwa hanya dengan menjadi sama dan bersama-sama, maka ia bisa hidup dengan tenang. Boleh dibilang, hal seperti ini diakibatkan seseorang terlalu banyak berada di zona nyaman yang penuh privilese sebagai mayoritas.

Sehingga, orang tersebut tidak pernah melihat perbandingan dan menganggap satu-satunya identitas yang dimilikinya adalah yang paling benar. Dan bisa dibilang juga bahwa sikap anti toleransi, dan berbagai rasa panas yang diakibatkan karena kita berbeda, adalah kegagapan pergaulan yang terwujud dengan rasa marah. 


Mungkin sebagian dari kamu juga masih ada yang menganggap bahwa apa yang kamu percaya adalah yang terbaik. Tenang, kamu tidak akan terjustifikasi di sini, hanya saja kamu perlu tahu bahwa semua manusia tidak bisa menghilangkan subjektifitas. Jika objektifitas saja tidak selalu pas, apalagi subjektifitas?

Yang bisa kita lakukan hanyalah memperhalus yang kasar, meluweskan pandangan dan sikap kita dengan cara mengontrol ego. Ketika cara pandang kita terhadap dunia tetap kaku, kita tidak akan mendapat kedamaian baik secara spiritualitas atau realitas sebagaimana selalu didambakan.

Paradoks bukan? Kita semua selalu mendambakan kedamaian, sementara kita sendiri juga yang tidak bisa berdamai dengan keadaan. Karena itulah, sejumlah quote ini mungkin bisa mengubah caramu memandang dunia.

Pertanyakan kembali apa makna pendidikan

Pendidikan dan toleransi

"The highest result of education is tolerance" - Helen Keller

Dalam bahasa Indonesia artinya begini, pencapaian tertinggi dari pendidikan adalah toleransi. Sebagian orang mengira bahwa kepandaian secara akademis sudah cukup untuk menyimpulkan bahwa seseorang terpelajar, bukan kawan. Seseorang terpelajar atau tidak, sama sekali tidak dapat diukur hanya dari gelar akademis yang dicapai.

Kita akan dengan sangat mudah mencari seseorang dengan gelar master atau bahkan doktoral, tapi ia tetap meyakini bahwa orang beragama lain tidak pantas didekati. Oleh karena itu pendidikan tinggi yang perlu kita capai adalah dengan melalui sikap menyelami berbagai sudut pandang dan perspektif.

Hanya dengan mengenal dan berinteraksi dengan perbedaan, kita bisa bersikap lebih arif dan menjaga ego kita tetap rendah hati. Intinya adalah, pencapaian pendidikan terbaik ditunjukkan dengan pola pikirmu, bukan pola ijazahmu, hmm. 

Jika kamu berpikir bahwa memberi kasih sayang ada batasnya, mungkin yang kamu maksud bukan cinta, tapi kepentingan

Saling memberi dan toleransi dalam beragama

"No boundary or barrier surrounds the heart of a person that loves their self and others" -  Shannon L. Alder

Jika diterjemahkan artinya begini, tidak ada batas atau tembok yang mengelilingi hati seseorang yang mencintai dirinya sendiri dan orang lain. Quotes ini sebenarnya senada dengan kata Gus Dur "Jika kamu berbuat baik, orang lain tidak akan tanya apa agamamu".

Tidak mungkin kan, ketika kamu menolong orang yang jatuh di jalan, orang yang kamu tolong tiba-tiba menanyakan suku atau agamamu apa sebelum sempat ditolong? Kita semua tahu dengan bertanya seperti itu, akan membuat sebuah interaksi terasa sangat canggung. Di situasi seperti itu, kita kembali pada fitrah kita sebagai manusia, yaitu hidup berdampingan.

Namun, di luar situasi demikian, seringkali kita semua lupa bahwa di atas agama dan ras masih ada kemanusiaan. Sebagaimana yang selalu dikatakan penceramah-penceramah progresif seperti Quraish Shihab atau Habib Husein Hadar bahwa meskipun kita berbeda secara agama, tapi kita satu dalam hal kemanusiaan. 

Benarkah agama harus selalu menjadi tujuan utama?

Toleransi beragama dan kemanusiaan

"Every time we dedicate our time and other resources to others to the people around us, we serve God" -  Sunday Adelaja

Artinya begini, setiap kita mendedikasikan waktu dan hal lain terhadap orang lain di sekitar kita, kita melayani Tuhan. Indonesia sering dilanda bencana alam, tapi orang-orang masih sering menafsirkan dengan sudut pandang moral dan agama, dibandingkan membaca penafsiran ilmiah.

Tapi, apa kamu pernah berpikir, terlepas dari kondisi geografisnya, kenapa negara-negara sekuler seperti Jerman, Denmark, Swedia, dan yang lain, sangat jarang-atau mungkin tidak pernah-mendapat bencana, atau biasa yang disebut orang sebagai azab?

Mungkin kita juga perlu mengkoreksi kembali sikap beragama-berketuhanan kita. Benarkah Tuhan ingin kita membelanya? Atau justru seperti kata Gus Dur, "Tuhan tidak perlu dibela", karena Tuhan memang sudah Maha segalanya, dan membelanya hanya menafikkan ke-Maha Kuasa-an Nya. Dan lagi, apa bukan kita bawa-bawa Tuhan karena sikap butuh legitimasi ?

Jika kita belajar dari para negara sekuler tersebut, mungkin yang dimaksud Tuhan adalah, agar kita berperan sebaik-baiknya sebagai manusia. Agar kita lebih fokus pada aspek kemanusiaan, yang bagaimanapun adalah misi dalam beragama.

Bukankah agama diciptakan untuk memberikan solusi sesuai zaman? Kenapa kita tidak beragama untuk menciptakan solusi, daripada hanya sekedar membuktikan mana yang terbaik?

Baiklah, santai dan jangan tersulut, pembahasan seperti ini mungkin akan cukup alot jika kita selalu etnosentris. Kamu mungkin butuh sedikit pengenalan dari salah satu video terbaru Majelis Lucu untuk membuka sedikit pikiran dan hatimu. 

Jangan mengaburkan ego dengan dalih kasih sayang

Kasih sayang dan ego

"You cannot operate from a place of love when you are emotionally unstable" - Kemi Sogunle

Kamu tidak dapat memberikan cinta di suatu tempat ketika emosimu tidak stabil, begitulah artinya. Quote ini berlaku untuk banyak situasi. Ketika kamu sendiri bermasalah secara emosional, kamu tidak disarankan menjalin pernikahan terlebih dulu.

Begitu juga ketika misalnya kamu mendengar seorang pengkhotbah yang menyampaikan ceramah dengan meledak-ledak penuh emosi dan sifatnya hanya menakut-nakuti, apa kamu pikir kamu bisa bertahan lama mendengarnya? Kita semua pada dasarnya menyukai hal-hal yang sifatnya menentramkan dan indah.

Terlebih lagi, mood atau emosi, baik positif atau negatif, berpengaruh terhadap sekitar. Ketika kita sedang tidak dalam emosi baik, artinya kita sedang letih secara emosional. Orang akan kesulitan memberi atau melayani orang lain dalam keadaan letih bukan? 

Quote ini juga mengingatkan bahwa kita tidak bisa menggunakan dalih kasih sayang ketika pada faktanya memaksakan apa yang kita percayai pada orang lain. Jangan mengaburkan ego dengan selubung "demi kebaikan kamu, kalian, kita semua". Cinta atau kasih sayang tidak pernah mengekang.

Dan lagi, ketika seseorang merasa selalu insecure dengan agama atau pendapat orang lain, mungkin ia perlu melihat kembali ke dalam dirinya, apakah ia benar-benar sudah memahami perintah agama untuk saling mengasihi, bukan saling menandingi?


Entah kamu sadar atau tidak, kita sejak kecil memang dilatih untuk memberi sekat, sedangkan di saat bersamaan kita juga dipupuk dengan semangat kolektif berdasarkan kepentingan yang sama. Sayang sekali, kepentingan yang sama tersebut seringkali tidak menjamin ketentraman yang merata tanpa memandang latar belakang.

Jika meminjam kata Gitasav, mungkin benar bahwa kita salah fokus. Kita menampilkan sikap individualis dan kolektif tidak di tempat yang tepat. Itu sebabnya sebagian dari kita, atau mungkin juga kamu yang sadar, muak dengan berbagai berita rasisme, persekusi, dan segalanya yang intinya mau superior sendiri.