Lord Didi, The Godfather of Broken Heart

Karya Lord Didi yang penuh dengan rintik kelabu menjadi sebuah manifestasi dari fenomena patah hati.

Lord Didi, The Godfather of Broken Heart
Photo by Anthiny Delanoix from Unsplash

Mungkin topik ini sedikit terlambat, tetapi tidak apa-apa, toh patah hati selamanya ada.

Saya sedikit terpikir, jika Lord Didi tiada, siapakah dewa-mahaguru-the godfather of-campursari selanjutnya?

Saya jangan diserang ya, bukankah semua manusia pada akhirnya akan tiada. Sungguh deh,coba kalian pikirkan siapa!

Siapa yang bisa menggantikan Lord Didi sebagai The Godfather of Broken Heart selanjutnya?

Apakah ada kandidat lain yang mampu mewakili luluh lantak patah hati para sadboi dan sadgerls?

Ah sudahlah, kita pikirkan itu belakangan, yang penting sekarang asik-asik dulu dengan kepahitan Lord Didi.

Tentu kamu ingat awal Juni lalu saat para sadboi di Solo menjadi viral saat menonton aksi panggung Lord Didi. Sungguh tidak disangka ini menjadi sebuah fenomena dimana campursari menjadi sebuah representasi patah hati skala nasional.

Tidak main-main, ternyata perayaan patah hati disambut khalayak, tidak hanya dari yang mengundang penampilan Lord Didi, bahkan juga sebagian penduduk dunia maya.

Fenomena ini juga bisa jadi pertanyaan, perasaan sedih yang didukung lagu sendu ini memang murni perasaan sedih atau juga perasaan melankolis yang indah? Bukan berniat untuk menyepelekan rasa sedih dan galaumu ya kawan, tapi coba renungkan, bukankah perasaan mendayu-dayu saat dipupuk oleh lagu galau, juga terasa keasikannya?

Bukankah lagu-lagu ngilu Lord Didi terasa mengoyak tapi estetik dengan gayanya sendiri?

Rasanya seperti kamu sedang terluka, lalu ditaburi garam, tapi kamunya kuat menahan walau sambil teriak.

Ada kesan heroiknya, kan? Mungkin ini yang menjadikan para pemuda melankolis Indonesia memuja Lord Didi sebagai perwakilan patah hati mereka. Mereka bisa patah hati, tetapi dengan gaya yang tetap heroik.

Saat kamu mendengar lagu-lagu Lord Didi, kamu seakan bisa merasa sepengalaman sama isi lagu-lagu beliau.

Dari lagu-lagu Lord Didi, kita juga sedikit banyak bisa membaca psikologis Lord Didi yang melankolis, sastrawi, sendu, kelabu, begitu, kan? Bukankah ini memang salah satu yang paling tren dari muda-mudi Indonesia saat ini? Sesuatu yang kelabu, mendayu, rindu, tapi dibikin asik.

Coba deh, kamu baca lirik Suket Teki ini. Yakin, hampir semua dari kita sudah fasih merasakannya.

Aku tak sing ngalah
Trimo mundur timbang loro ati
Tak uyako wong kowe wis lali
Ora bakal bali
Paribasan awak urip kari balung
Lilo tak lakoni
Jebule janjimu jebule sumpahmu
Ra biso digugu

Jika dalam Bahasa Indonesia artinya:

Biar aku yang mengalah
Lebih baik mundur daripada sakit hati
Kukejar pun kamu sudah lupa
Tak mungkin kembali
Ibarat hidup tinggal tulang
Rela kulakukan
Ternyata janjimu ternyata sumpahmu
Tak bisa dipercaya

Bahasanya memang sederhana, tapi sangat mewakili perasaan berjuta umat muda Indonesia yang susah move on, dicampakkan, dan harus merelakan. Selain itu, penyajian dengan bahasa lokal juga ikut meromantisisasi melankolia anak muda Indonesia yang mayoritas terpusat di Jawa.

Bisa dibilang muda-mudi Indonesia suka mencari sesuatu yang memiliki relasi emosional dengan mereka.

Mungkin inilah salah satu hal yang menjadi dasar mengapa karya Lord Didi yang penuh dengan rintik kelabu menjadi sebuah manifestasi dari fenomena patah hati.

Menunjukkan patah hati lewat menyanyikan lagu-lagu Lord Didi bisa menjadi alternatif menumpahkan perasaan dengan cara yang indah.

Dan lagi, kamu tidak harus menumpahkannya sendirian, banyak sadboi dan sadgerls di luar sana yang mau menemanimu menyanyikan sad anthem milik Lord Didi.

Lord Didi, The Godfather of Broken Heart, bisa menyatukan ribuan pemuda Indonesia, yang biasanya cekcok di sosmed, bergabung dalam satu barisan, di bawah panji penyintas patah hati. Ini bukti bahwa patah hati memang tidak terukur pahitnya, tetapi asik dirayakan bersama-sama.

Karya-karya Lord Didi harus diakui setara maestro legendaris kelas dunia.

Bagaimana tidak, yang mengenal campursari pasti mengenal Lord Didi. Sumbangsihnya dengan menulis ratusan lagu serta menyanyikan puluhan album sama-sekali tidak bisa diremehkan. Terlebih lagi, walaupun campursari tergolong kedaerahan, tetapi pesan yang disampaikan mencakup perasaan skala nasional.

Tenang saja kawan, memang Lord Didi tak hidup selamanya, tetapi fallin' in love with people we can’t have dan rasa rindu akan selalu ada untuk selamanya.

Jadi menurutmu, siapa selanjutnya yang akan diangkat sebagai The Godfather atau The Godmother of Broken Heart?