Macam-macam Masalah Kejiwaan yang Paling Umum

Masalah kejiwaan bisa menyerang berbagai rentang usia dan latar belakang!

1. Gangguan Kecemasan Umum

Gangguan Kecemasan Umum
Photo by Craig Adderley from Pexels

Para praktisi klinis biasanya mengistilahkan hal ini dengan GAD (general anxiety disorder). Gangguan kecemasan ini ditandai dengan kecemasan berlebih yang dapat mengganggu aktifitas sehari-hari, dan kecemasan yang dialami tidak merujuk pada satu hal spesifik saja, namun secara umum bahkan untuk hal yang sepele.

Menurut laman Alodokter, gejala lainnya adalah selalu merasa tegang, kesulitan memutuskan sesuatu, sulit berkonsentrasi, mudah marah, dan lainnya. Namun, secara fisik penderitanya juga mengalami sakit kepala, mual, sakit perut, berkeringat, napas pendek, insomnia, jantung bergedup keras, dan sebagainya. 

Sedangkan menurut laman Healthline, faktor yang menyebabkan gangguan kecemasan umum ada beberapa, yaitu turunan, paparan stres dalam jangka waktu yang lama, ketidakseimbangan aktifitas dalam otak, mengalami kekerasan di waktu kecil, mengkonsumsi minum-minuman keras, dan sebaginya. 

GAD sangat berbeda dengan kecemasan pada umumnya, karena penderitanya akan mengalami gangguan kecemasan tiap hari dalam waktu yang lama, yaitu setidaknya 6 bulan. Selain itu, gangguan kecemasan juga terjadi ketika tidak ada alasan untuk mencemaskan sesuatu. Bahkan penderitanya sendiri juga memahami bahwa tidak ada sesuatu untuk dicemaskan.

Singkatnya, kecemasan yang mereka alami ini tidak dapat dikendalikan.

Gangguan kecemasan umum ini membuat penderitanya kerap merasa kelelahan karena mereka terus menerus mengkhawatirkan sesuatu dan pikiran mereka tidak dapat tenang. Penyakit yang dapat diderita tanpa mengenal usia ini bisa lebih ringan jika penderitanya mencoba berolahraga teratur, melatih diri untuk meditasi atau yoga, dan tidak minum alkohol. 

2. Gangguan Panik

Gangguan Panik
Photo by Claudia from Unsplash

Gangguan panik atau panic disorder/panic attack adalah salah satu dari tiga gangguan kecemasan, yaitu gangguan panik, gangguan kecemasan umum, serta gangguan kecemasan sosial.

Gangguan panik tidak sama dengan gangguan kecemasan karena tidak seperti gangguan kecemasan umum yang bisa muncul sepanjang hari, gangguan panik akan berlangsung hingga kira-kira 10 menit, satu jam, atau lebih.

Gangguan panik tidak harus mengalami kejadian yang mencetuskan serangan panik itu sendri, tetapi ia bisa muncul tiba-tiba tanpa sebab yang jelas. Meskipun gangguan panik mengalami puncaknya hanya dalam beberapa menit, penderita gangguan ini bisa merasa sangat kelelahan setelah mengalami serangan mendadak. 

Merujuk pada Mayoclinic, penderita gangguan panik mengalami banyak gejala. Beberapa gejalanya yaitu, merasa bahaya akan datang, merasa takut kehilangan sesuatu atau takut mati, jantung berdetak sangat cepat, pusing, bahkan merasa tidak nyata, dan sebagainya. 

Masih menurut laman yang sama, tiap orang bisa saja mengalami gangguan kepanikan, namun penderitanya mengalami ini berulang kali dan yang perlu digaris bawahi, mereka takut kejadian tersebut berulang.

Penderita gangguan panik memiliki sebagian gejala yang sama seperti gangguan kecemasan umum, yaitu genetik dan perubahan senyawa atau fungsi dalam otak. Namun, ada juga faktor lainnya seperti stres berat, dan sifat bawaan yang rentan terhadap stres dan emosi negatif. 

Gejala gangguan panik biasanya muncul pada akhir remaja atau dewasa muda.

Dan selain faktor-faktor di atas, beberapa faktor yang meningkatkan resiko menderita gangguan ini di antaranya, pengalaman traumatis, perubahan besar dalam hidup, merokok atau konsumsi kafein berlebih, dan kekerasan di masa kecil. 

3. Obsessive Compulsive Disorder (OCD)

Obsessive Compulsive Disorder (OCD)
Photo by Catt Liu from Unsplash

OCD (obsessive compulsive disorder) adalah salah satu kelainan psikologis yang cukup umum diderita semua orang. OCD adalah gangguan obsesif kompulsif yang menyebabkan penderitanya berpikir serta melakukan suatu hal secara berulang. Penderita gangguan ini baru akan reda rasa cemasnya setelah ia melakukan sesuatu untuk meruntuhkan rasa cemasnya. 

Misalkan, seseorang berulang kali mengecek apakah ia sudah mematikan kompor atau belum. Jika ia tidak mengulang hal ini beberapa kali (walaupun nyatanya kompor sudah dimatikan) ia akan terus merasa cemas. Jadi, ia hanya lega jika telah melakukan hal tersebut.

Hellosehat menyebutkan bahwa kebanyakan OCD muncul saat seseorang di bawah usia 20 tahun. OCD tidak hanya merujuk pada satu bentuk manifestasi gejala, tetapi ada beberapa manifestasi yang menunjukkan seseorang menderita OCD. Berdasarkan Riliv, sederet gejalanya adalah, mengatur segala sesuatunya sangat rapih, sejajar, dan sebagainya. 

Selain itu, berulang-kali cuci tangan karena takut kotoran/kuman, takut menyentuh barang-barang di tempat umum karena takut kotor, terlalu perfeksionis, mengecek sesuatu berulang-kali, takut menyakiti orang lain atau diri sendiri, dan takut melakukan kesalahan.

Masih ada lagi yaitu, takut dengan pikiran negatif dan sehingga malah muncul pikiran tidak masuk akal atau seksual serta agresif, mengulang kata/frase/kegiatan dalam pola tertentu, menimbun barang, serta sulit menerima ketidak-pastian dalam asmara dan kesalah-pahaman kecil di dalamnya. 

Berdasarkan Hellosehat, beberapa faktor di antaranya adalah perkembangan psikologis, infeksi, cedera kepala, dan kelainan fungsional pada otak.

4. Gangguan Pasca Trauma (PTSD)

Gangguan Pasca Trauma (PTSD)
Photo by Kat Jayne from Pexels

PTSD adalah singkatan dari (Post-Traumatic Stress Disorder). Masalah kejiwaan ini dipicu oleh pengalaman traumatik yang tidak harus dialami, tapi juga hanya disaksikan oleh seseorang.

Pengalaman traumatik yang sampai menghantui hidup seseorang ini biasanya dialami oleh orang yang pernah mengalami kejadian berat, termasuk seperti polisi, tentara perang, dan sebagainya. 

Sama seperti masalah kejiwaan lainnya, PTSD tidak dapat diputuskan hanya dari faktor yang sederhana. Merujuk pada Halodoc, selain kejadian traumatik, ada sederet faktor lain seperti riwayat kesehatan mental di dalam keluarga, kepribadian, dan mekanisme otak mengatur senyawa kimia atau hormon yang mengatur stres.

Tapi, seperti disebutkan sebelumnya bahwa seseorang yang bekerja dengan kondisi berpotensi trauma seperti polisi atau tentara perang, semakin berpotensi mengalami PTSD.

Apalagi jika kejadian traumatik tersebut berlangsung intens dan tidak ada dukungan dari orang-orang terdekat.

Menurut berbagai sumber, PTSD dibagi menjadi 4 tipe, yaitu gejala ingatan intrusif, tipe menghindar, perubahan negatif pada mood dan pikiran, serta perubahan negatif dalam reaksi emosional atau fisik. Jika daijabarkan lagi, gejala ingatan intrusif ditandai dengan ingatan buruk yang datang berulang, bisa melalui mimpi atau sekedar ingat. 

Lalu, untuk gejala tipe penghindar adalah penderita PTSD yang berusaha menghindari topik, tempat, atau orang yang menyebabkan pengalaman negatif tersebut. Untuk tipe yang ketiga, yaitu perubahan negatif mood dan pikiran, penderitanya bisa merasakan putus asa terhadap masa depan, kesulitann merasa emosi positif, bahkan mati rasa secara emosi, dan sebagainya. 

Yang terakhir, untuk tipe perubahan negatif terhadap emosi dan pikiran, dapat ditandai dengan insomnia, sensitif secara emosional, melakukan gaya hidup tidak sehat, dan sebaginya. 

5. Depresi

Depresi
Photp by Engin Akyurt from Pexels

Menurut WHO, depresi adalah masalah kejiwaan yang paling umum dialami, dnegan perkiraan 350 juta penderita di seluruh dunia.

Berbagai sumber menyebutkan ada banyak tanda seseorang mengalami depresi.

Di antaranya adalah, insomnia tau hipersomnia, kehilangan ketertarikan akan aktifitas yang sebelumnya disukai, merasa tidak berharga atau merasa bersalah, kesulitan berkonsentrasi, mengalami perlambatan dalam berbicara dan bergerak, kerap merasa lelah walaupun misalnya tidak sedang melakukan apapun, keinginan untuk menghilang atau bunuh diri, dan sebagainya. 

Meskipun faktor depresi disebabkan oleh genetik, fungsi biologis pada otak, serta kondisi lingkungan/stres, tetapi ada beberapa tipe orang yang lebih rentan terhadap depresi.

Menurut Medical News Today, seseorang yang pernah mengalami depresi mayor/depresi klinis, mempunyai trauma di masa kecil, mendapat tekanan hidup yang sangat berat, menyalahgunakan alkohol atau obat-obatan, pernah mengalami cedera kepala, memiliki riwayat sakit parah, serta tipe personaliti semakin meningkatkan resiko seseorang untuk menderita depresi. 

Depresi bisa muncul bahkan sejak usia anak-anak, namun menurut Mayoclinic, ada perbedaan antara gejala pada anak-anak, remaja, dan dewasa. Pada anak-anak, seorang anak bisa menjadi sangat clingy, cemas, sedih, tidak mau sekolah, dan kekurangan berat badan.

Pada remaja, mereka bisa kerap sensitif, menyakiti diri sendiri, performa sekolah buruk, merasa tidak dimengerti, dan sebagainya. Sedangkan bagi orang dewasa, selain gejala yang disebutkan tadi, penderitanya bisa merasa selalu ingin di rumah dan tidak mau bersosialisasi, sakit atau ngilu secara fisik, bahkan juga perubahan kepribadian.