Main Jaran dan Model Pendidikan Karakter Anak-Anak di Pedalaman Sumbawa

Anak-anak di pedalaman Sumbawa terdidik untuk menjadi tangguh lewat Main Jaran.

Main Jaran dan Model Pendidikan Karakter Anak-Anak di Pedalaman Sumbawa
Photo by sumbawakab.go.id

Kalau berkunjung ke daerah Indonesia Tengah, akan didapati sebuah provinsi kecil yang terdiri dari dua pulau—Nusa Tenggara Barat—yang kemudian terbagi lagi menjadi Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa.

Sumbawa mungkin belum sepopuler Lombok, namun kalau berbicara soal madu hutan dan susu kuda liar, daerah yang satu ini adalah markasnya.

Dalam kebudayaan Sumbawa, ada suatu objek permainan yang cukup menarik. Permainan ini disebut Main Jaran atau yang juga dapat diterjemahkan sebagai pacuan kuda.

Nah, yang namanya pacuan kuda tentu akan melibatkan sosok joki. Di situlah daya tarik dari ajang pacuan kuda di Pulau Sumbawa ini. Ya. Joki atau penunggang kuda di pulau ini adalah anak-anak berusia sekolah dasar, yakni pada usia sekitar 6 hingga 12 tahun.

Yes, I'm so serious here.

Sekilas, mungkin akan terdengar mustahil mengingat di usia semuda itu, anak-anak umumnya akan dihindarkan dari segala bentuk kegiatan yang membahayakan, apalagi kalau bentuknya pacuan kuda.

Tapi jangan salah. Nyatanya, memacu kuda di dalam sebuah perlombaan adalah hal wajar bagi segelintir anak-anak di pedalaman Sumbawa. Sekelumit permainan tak biasa ini, tanpa disadari justru telah menjadi permulaan tempa dan didikan karakter itu berangkat buat mereka.

Joki Cilik Sumbawa

Mereka adalah anak-anak terpilih yang dibentuk oleh alam. Kondisi geografis dan latar belakang si joki cilik sangat mendukung terbentuknya bakat mereka untuk menjadi seorang penunggang kuda yang handal.

Umumnya, para joki cilik menekuni aktivitas ini dikarenakan orang tua mereka yang dulunya juga seorang joki. Biasanya, mereka adalah anak-anak dengan latar belakang dari keluarga petani dan peternak, sehingga menjadikan mereka cukup akrab dengan kuda yang akan ditunggangi.

Berawal dari profesi yang diwariskan, menjadi joki cilik adalah sebuah kebanggaan bagi anak-anak yang rata-rata masih duduk di bangku sekolah dasar ini. Meski bertubuh mungil, mereka tak gentar menunggangi kuda yang tinggi, besar, serta sedikit liar itu.

Perlu digaris bawahi kalau menunggangi kuda di sini bukan hanya sekadar naik dan duduk di atas punggung seekor kuda. Bocah-bocah SD ini berada pada level yang jauh lebih tinggi dari itu, yakni balap lari dengan mengendarai seekor kuda.

Akrab dengan Bahaya

Ilustrasi bahaya yang mengintai di balik sebuah kesenangan

Meski terkesan membahayakan, jarang sekali akan ditemukan raut wajah takut dan khawatir di wajah para joki cilik ini atas nasib mereka di perlombaan. Mereka seolah tak pernah berpikir soal cedera dan celaka.

Entah karena kelewat polos, yang dipahami oleh joki-joki cilik ini hanyalah tentang bagaimana memacu kuda mereka sekencang-kencangnya dan menjadi sang juara.

Meski hanya dibekali peralatan seadanya, para joki cilik diharuskan sudah terlatih dan paham mengenai cara berpegangan yang benar pada tubuh kuda, juga cara mempertahankan keseimbangan ketika kuda dipecut dan mulai berlari kencang.

Risiko bukannya tidak ada. Tidak jarang kok, mereka terjatuh dari kuda yang sedang berlari sangat kencang, kemudian terseret atau bahkan terinjak. Patah tulang hingga risiko kehilangan nyawa menjadi ancaman yang nyata buat bocah-bocah polos ini.

Namun, para joki cilik cenderung tidak terlalu ambil pusing. Risiko jatuh dan terluka mereka serahkan sepenuhnya kepada sandro atau yang dalam Bahasa Indonesia diartikan sebagai orang pintar yang dipercayai dapat mengobati luka mereka nantinya.

Dengan tingkat kepercayaan demikian, tidak jarang loh, para joki cilik yang telah jatuh dari kuda masih bersikeras untuk melanjutkan perlombaan.

Ah, jangan tanyakan soal hadiah pertandingan. Jika dibandingkan dengan jumlah hadiah yang diterima, tentu saja tidak sebanding dengan risiko yang mereka hadapi.

Berbeda dengan harga kuda yang akan lekas meroket setelah memenangkan pertandingan, tidak ada jaminan sebagai atlet pacu kuda yang ditawarkan kepada para joki cilik. Juga tidak ada jaminan masa depan apapun yang menunggu untuk menyambut bocah-bocah tangguh nan berani ini.

Meski begitu, pada akhirnya mereka tetap bertanding. Joki-joki cilik ini akan tetap berkompetisi atas dasar keseruan sebuah pertandingan. Ini bukan tentang menang atau kalah, ini juga bukan tentang hadiah. Semangat kompetisi mereka jauh lebih besar dari itu semua.

Model Pendidikan Karakter Anak-Anak di Pedalaman Sumbawa

Permainan sebagai salah satu model nyata pendidikan karakter bagi anak-anak

Bicara soal pendidikan karekter, ada sebuah teori yang menarik. Katanya, semakin banyak informasi yang diterima, juga semakin matang sistem kepercayaan yang terbentuk, maka akan semakin jelas tindakan, kebiasaan, dan karakter unik dari masing-masing individu itu sendiri.

“Ringkasnya, pengalaman yang bersumber dari beragam media itulah yang membentuk karakter seseorang.”

Nah, kalau berkaca dari media zaman now yang lebih menonjolkan permasalahan dan kegundahan kaum muda seperti sinetron, rasa-rasanya perlu deh, ada media lain sebagai model karakter untuk memberikan contoh nyata yang dapat menyentuh dunia anak-anak.

Pasalnya, American Academy of Child and Adolescent Psychiatry bahkan menyebutkan bahwa keberadaan role model yang tepat untuk anak-anak adalah sangat perlu, karena dari sanalah anak-anak membentuk kepribadiannya untuk dapat bersikap dan memecahkan masalah.

Bagi anak-anak di pedalaman Sumbawa misalnya, melihat rekan-rekan sebayanya yang tengah berkompetisi penuh semangat di lapangan pacuan kuda dapat menciptakan sebuah kesan kuat bahwasanya para joki itu adalah bocah-bocah hebat, berani, tangguh, dan tidak cengeng.

Melalui permainan yang dikompetisikan seperti Main Jaran, anak-anak dapat belajar banyak soal semangat berkompetisi. Bahwa bertanding bukan hanya soal menang dan kalah, juga bukan soal hadiah.

Usahakan dulu yang terbaik, karena urusan hasil itu hanya bonus.

Dari sosok nyata seusianya, anak-anak ini mendapatkan role model baru tentang karakter hebat yang patut mereka adaptasikan. Jika ini terus berkembang sebagai sistem kepercayaan, bukan tidak mungkin loh, karakter-karakter idaman itu juga menjadi bagian dari diri mereka.

Salah satu poin kuat dari Main Jaran sebagai media pendidikan karakter adalah keatraktifannya. Tidak seperti pendidikan karakter melalui ceramah yang cenderung monoton, pagelaran suatu kegiatan tentunya akan lebih dapat menggugah emosi anak-anak.

Penyaksian sebuah pengalaman secara langsung melalui Main Jaran bisa memberikan kedekatan emosional yang lebih baik sebagai media penyampaian pesan bagi anak-anak sebagai penontonnya. Tentu saja karena pelaku utama dalam pagelaran ini juga masih seusia mereka.


Main Jaran adalah model pembentukan karakter yang tidak biasa untuk anak-anak pada umumnya, meski nyatanya cara ini berhasil bagi segelintir anak-anak di daerah tertentu.

Meskipun punya pengaruh yang positif dalam membentuk karakter, media-media seperti Main Jaran tetap saja membutuhkan pendampingan oleh orang tua dalam proses pendidikannya. Ini tentu saja untuk mencegah timbulnya pemahaman yang salah pada diri anak-anak yang justru bisa jauh dari kata mendidik.

Berangkat dari salah satu pelosok di Indonesia Tengah, kalau dari Pulau Sumbawa sendiri, begitulah kiranya model pendidikan karakter yang berkembang di salah satu sudut pedalamannya.

Bagi masyarakat luar, mungkin terdengar ekstrem, bahkan mengerikan. Tapi tidak dapat dimungkiri bahwa dari sanalah karakter tangguh anak-anak pedalaman Sumbawa itu berasal.