Marah Bukan Pilihan, Yuk Kendalikan Amarah dengan Cara Ini

Karena meluapkan amarah secara langsung tidak selamanya tepat.

Marah Bukan Pilihan, Yuk Kendalikan Amarah dengan Cara Ini
Photo by Icons8 team from Unsplash

"Meluapkan amarah dengan instan akan membuatmu terlihat bodoh."

- Bruce Lee

Ketika kekesalan menghampiri, meledak-ledakkan emosi mungkin dirasa adalah penenang paling instan. Semua tentu setuju kalau melampiaskan amarah seketika itu juga akan sangat melegakan bagi siapapun.

Namun sebagaimana kutipan yang diambil dari seorang aktor laga terkenal, Bruce Lee, meledak-ledak di saat marah hanya akan membuatmu terlihat bodoh dari kacamata orang lain, terutama melalui kacamata mereka yang sedang dalam mode waras dan tak tahu menahu tentang sebab kemarahan kamu.

Pertimbangkanlah, bahwa akan ada banyak scene yang kamu sesali di depan sana jika saat ini sembarangan melampiaskan amarah. Setidaknya tahan dirimu sebentar saja demi tidak berhadapan dengan rentetan penyesalan nan merepotkan di masa mendatang.

Marah bukan pilihan dan jangan sampai menjadi satu-satunya pilihan. Yuk kendalikan amarah kamu dengan berbagai cara di bawah ini. Bagaimanapun, kamu sepenuhnya harus memegang kontrol atas dirimu sendiri di saat kemarahan menyerang.

1. Tarik Napas yang Dalam

Menarik napas dalam adalah salah satu trik yang cukup populer dalam mengendalikan stres. Sebuah studi bahkan menampilkan hubungan antara teknik pernapasan lambat terhadap penurunan kadar stres dan peningkatan kenyamanan.

Teknik bernapas secara lambat atau dalam ini dapat kamu lakukan dengan mengambil, menahan, lalu mengeluarkan napas masing-masing dalam beberapa ketukan.

Atau, kamu juga dapat mencoba teknik pernapasan ala yoga berikut ini:

 

2. Cari Sumber Kemarahan

Menemukan sumber kemarahan akan membantu kamu untuk melakukan sesuatu terhadapnya

Temukan segala sesuatu yang menjadi sumber kemarahan kamu. Entah karena situasinya, karena orang-orangnya, atau bahkan karena lingkungannya. Bersikaplah objektif dan temukan penyebab serta sumber amarah kamu.

Ketika berhasil mendapatkan asal-usulnya, pertimbangkanlah sejauh mana sebab musabab tersebut pantas untuk menguras emosi kamu. Setelahnya, kamu bisa memilih untuk menghindar atau bahkan melakukan sesuatu untuk mengalihkannya.

3. Berbuatlah Sesuatu

Berbuatlah sesuatu untuk menangani masalah yang membangkitkan amarah kamu

Ketika amarah kamu nyaris saja meledak misalkan karena pelayanan buruk yang kamu terima, berbuatlah sesuatu. Kamu tidak perlu mengomel panjang lebar dan membuang tenaga pada pihak yang melayani kamu.

Selalu ada jalan untuk berbuat sesuatu. Kamu bisa saja menyampaikan komplain langsung kepada instansi terkait atau dapat pula membuat laporan melalui layanan-layanan pengaduan yang tersedia seperti Lapor.

Jangan membuang tenaga kamu hanya demi amukan sesaat yang mungkin hanya akan masuk telinga kanan dan keluar lewat telinga kiri oleh si penerima. Dengan melakukan sesuatu, akan ada hasil nyata yang bisa kamu dapat.

4. Lakukan Aktivitas Lain

Mengalihkan emosi lewat nyanyian adalah salah satu bentuk penyaluran energi marah

Kamu juga bisa menyebutnya sebagai pengalihan.

Sebagaimana kata Scott Haas Ph.D. yang tak lain merupakan seorang psikolog, bahwa kemarahan adalah energi. Di saat marah, kamu akan dilingkupi oleh sekumpulan energi yang siap untuk meledak kapanpun kamu melepaskan kendali diri.

Jika berpikir demikian, maka trik lainnya untuk mengendalikan amarah adalah dengan melemparkan energi tersebut kepada aktivitas fisik lainnya. Tak usah memikirkan aktivitas berat, lakukan saja hal-hal sederhana, seperti:

  • Jalan-jalan,
  • Olahraga,
  • Berkreasi,
  • Memasak, atau bahkan
  • Bernyanyi dan bersenandung dengan penuh semangat.

Apapun itu, fokuskan energi kamu ke dalam aktivitas baru yang kamu pilih. Jika aktivitas tersebut adalah termasuk aktivitas produktif, selain mendapat kepuasan dari melampiaskan, kamu bisa saja menerima hasil yang juga sepadan.

5. Ganti Perspektif

Melihat dari perspektif lain untuk mendapat lebih banyak pertimbangan

Lihatlah dari sudut pandang lain. Kamu mungkin akan menemukan jawaban berbeda.

Jika sumber kemarahan kamu adalah rekan kerja yang terus menyalahkan kamu atas gagalnya proyek bersama kalian, coba ganti perspektif kamu dengan melihat masalah dari kacamata rekan kerja tersebut.

Mungkin pekerjaan kamu memang kurang memuaskan. Mungkin hasil yang kamu bawa masih jauh dari target. Mungkin rekan kerja kamu hanya sedang PMS. Atau mungkin kamu hanya terlalu baper.

Memahami perbedaan perspektif dalam diri setiap manusia itu perlu sebagai salah satu prinsip dalam membangun relasi, termasuk dalam lingkungan pekerjaan. Pelajari prinsip lainnya dalam artikel 3 Prinsip Utama Menghadapi Rekan Kerja nan Menyebalkan.

6. Bercerita pada Orang Lain

Bercerita pada orang lain untuk melepaskan sedikit banyak emosi yang terkurung

Jangan remehkan kekuatan berbagi.

Jika kamu berhasil menekan amukan kamu ketika insiden mengesalkan itu muncul, namun belum dapat sepenuhnya menormalkan perasaan kamu, bicaralah.

Kamu tidak perlu membicarakan ini pada si dia yang tengah berselisih dengan kamu, atau kepada pribadi lain yang mungkin masih punya keterkaitan terhadapnya.

Berceritalah bahkan kepada siapapun yang kamu merasa nyaman terhadapnya. Entah merasa nyaman karena dia orang terdekat, atau merasa nyaman karena kamu semata merasa aman berbagi cerita itu dengannya.

Kekuatan berbagi cerita dapat menghadirkan perpektif baru buatmu—atau bahkan ide penyelesaian yang tak pernah terlintas di benak kamu. Namun yang terpenting, melalui berbagi cerita, kamu juga dapat melepaskan beban emosional yang sedang menempeli hati dan pikiran kamu.

7. Luapkan Melalui Tulisan

Menulis juga bisa menjadi alternatif lain untuk menuangkan emosi

Salah satu cara untuk mengontrol emosi yang berlebihan adalah dengan mengekspresikannya, salah satunya adalah melalui tulisan.

Sebuah ensiklopedia kesehatan dari University of Rochester menyebutkan bahwasanya menuangkan emosi melalui tulisan adalah sebuah cara yang baik untuk mengontrol emosi dan meningkatkan kesehatan mental.

Selain dapat mencurahkan isi hati dan perasaan kamu, dengan menulis, kamu juga dapat melacak gejala ataupun berbagai kondisi dan sebab beserta pengaruhnya terhadap tingkat amarah kamu. Bukan tidak mungkin untukmu menemukan penyelesaian dari masalah yang kamu miliki.

Di masa remaja, kamu bisa saja sering melakukan ini dengan istilah menulis diary. Konsep yang ini pun tidak jauh berbeda dari curahan hati yang dituangkan dalam sebuah diary.

Curhat tidak kenal usia dan gender, kok. Kalau kamu tidak bisa melakukannya pada seorang teman, menuangkannya dalam sebuah tulisan bisa bantu menyalurkan emosi kamu yang masih memendam di sudut hati.

Yang manapun pilihan kamu, ingatlah untuk tidak memendam kemarahan terlalu lama. Karena segala sesuatu yang memendam, selalu akan menemukan alasan untuk dilepaskan.


Pada hakikatnya, marah sebetulnya hanya sebuah respon yang ditunjukkan oleh tubuh ketika ada batasan-batasan pribadi dalam diri kamu yang kemudian dilanggar oleh situasi dan pihak lainnya.

Batasan-batasan pribadi kamu tidak akan sama dengan yang dimiliki orang lain. Karena batasan ini adalah milik kamu, maka sadarilah bahwa kamu sepenuhnya masih memegang kuasa penuh atas respon apapun yang muncul terhadapnya.

Mengendalikan amarah itu perlu.

Seorang bijak pernah berkata, jangan membuat keputusan apapun selagi marah. Karena di beberapa waktu mendatang, akan ada penyesalan yang mungkin tidak bisa kamu ulang.