Maret

Ketika bulan Maret tidak hanya berarti musim semi.

Maret
Photo by Leonardo Wong from Unsplash

Kau menatap purnama yang menggantung. Sinar kuningnya pedih memaksa kelopak matamu mengatup. Sesekali kau mengintip di balik celah sempitnya, namun purnama terlalu kuat mengintimidasimu. Bahkan bayangnya mampu membuatmu geming.

Alhasil, membekulah kau di sana. Terbaring di atas bangku kayu taman nan luas. Rerumputan menari-nari, menghiburmu yang kini bak raga tak berotot. Geming—meski serangga malam yang berdendang mengejek di sekitarmu paham benar, kau mampu meluluhlantakkan habitat mereka dengan satu kibasan tangan.

Tapi sekali lagi, kau masih di sana. Takluk hanya dengan sinaran keemasan purnama. Dimana iris gelapmu yang kerap memandang tajam dan tegas? Bergidik ngeri di balik katupan kelopak matamu?

Entah, tapi kau tak peduli akan itu. Satu persatu pori di kulit pucatmu sibuk menafsirkan belaian angin malam. Mencoba memahami setiap bait irama lembutnya. Indera penciumanmu pun tak mau kalah. Lekukan tajam sempurna itu menangkap wangi yang terbawa angin. Tak asing. Justru menghantarkan kepingan memori lama.

Ah, kau baru ingat. Ini bulan Maret, musim bagi ribuan bunga bersemi menampakkan cantiknya. Dan di tengah taman sana, ratusan kelopak bunga tengah asyik menari bersama udara yang bergerak lincah.

Seruni. Nama yang cantik, terlintas begitu saja di barisan syaraf pusatmu. Wanginya lembut, tariannya lincah. Tak jauh berbeda dari Seruni yang ada di seberang sana. Ya, siapa lagi kalau bukan putri semata wayangmu. Gadis kecil yang selalu membayangimu. Tiap waktu mengejarmu dengan pelukan manja. Kesayangan, begitulah sebutan akrabmu untuknya.

Namun di balik itu, kau hanya berusaha menampik sesuatu yang lain. Sesuatu yang tak bisa kau jelaskan dengan bibir ranummu yang kaku. Teramat kaku, hingga kau selalu kesulitan meloloskan kalimat lain dari sana, terkecuali nama putri cantikmu. Kata yang diam-diam, justru kau jadikan mantra penguat di saat dunia seolah berbalik dan menantangmu. Karenanya kau enggan mengelak bahwa putrimu lah satu-satunya alasanmu bertahan hingga kini.

Maret. Kelopak flamboyan mendarat lambat di telapakmu. Tanpa melihat, kau mampu memastikan pendaratan mulusnya. Gesekannya di kulitmu perlahan kau coba telaah. Mengais kenangan lain yang mampu kau tarik darinya.

Siluetnya kembali melintasi awangmu. Kau mencoba menepisnya, tapi terlalu melekat pada memorimu. Di tengah malam dingin seperti ini, apa yang tengah ia lakukan? Ah, ia pasti sudah lelap sekarang. Menikmati bunga tidurnya yang bermekaran layaknya bunga-bunga di bulan Maret.

Adakah bayangmu sekadar melintasi alam mimpinya? Kau kembali berharap. Namun andai kau tahu, ia masih setia untukmu. Masih menunggu uluran tangan halusmu merengkuh tubuh mungilnya dengan penuh kasih sayang. Akan tetap menunggumu menyebut namanya dengan lembut, sembari membawanya berkeliling di tengah kota. Tetap menunggu sampai kau kembali mengusap kepalanya dengan cengiran sebal ketika ia berbuat salah. Dan akan tetap begitu, tanpa pernah kau tahu ia tak sekali pun menyerah.

Deru angin sedikit meningkatkan temponya. Beku menepuk kulitmu, namun tetap tak kau indahkan. Kini pikiranmu sibuk bermain dengan masa lalu. Zona hitam putih dengan julukan nostalgia. Puzzle-puzzle ingatan yang kian mengabur berusaha kau cerahkan. Ketika kau mendapatkan sepasang angka, batinmu girang sekaligus bingung. Ya, kau merasa bodoh saat ini. Kau bahkan tak tahu tanggal berapa sekarang.

Tidak mungkin kau memutar kemudi ingatanmu pada peristiwa tiga tahun silam. Ketika kau masih bersama keluarga kecilmu dan mengenal benda bernama kalender. Tidak lucu, kalau kau harus menghitung mulai dari saat kau pergi hingga hari ini.

Lalu, bagaimana kau tahu kapan hari itu tiba?

Dua puluh delapan, angka yang sempat menggantung rapuh dalam ingatanmu. Hari berharga untuknya. Untuk Seruni. Dan tahun ini, tahun ke tujuh belas untuk gadis itu. Detik-detik mendebarkan, gerbang kedewasaan. Putrimu sudah bukan gadis kecil lagi.

Meski hanya terbersit sekilas, sesuatu membisikimu akan hari itu. Hari dimana kau menghampiri Kesayanganmu dan memberikan ucapan selamat padanya. Tak perlu membingkisinya hadiah, karena kehadiranmu sudah lebih dari cukup untuknya. Beri ia pelukan kerinduan, sembari menikmati hangatnya segelas teh dan mendengarkan cerita-ceritanya.

Ah, sungguh, kau merasa sangat bodoh saat ini. Hanya mampu berangan. Setidaknya, angkat kelopak matamu dan tunjukkan sepasang iris gelap itu pada rembulan. Yakinlah bahwa sinar kejamnya tak bisa menghalangi langkahmu. Angkat ragamu dan ayunkan kakimu. Melangkah lah ke sana, padanya.

Tidak! Batinmu mengelak. Kau menggeleng dalam diam. Sederet pertimbangan merantai semangatmu. Bahkan sepasang lensamu belum menunjukkan taringnya pada dewi malam.

Satu helaan napas terhentak mengosongkan paru-parumu. Antara ya dan tidak. Keduanya pilihanmu, dan hanya kau yang berhak menentukan. Tak ada seorang pun di sini yang bisa membantumu menjawab. Sekali lagi, kata hatimu yang menentukan—walau terkadang, kata hatimu teramat sering menyakiti banyak orang.

Lagi, lukisan wajahnya tak henti meracuni alam sadarmu. Decakan bibirmu membuktikan kau cukup bosan akan keadaan ini. Tak apalah, satu kali ini saja, maka kau putuskan bangkit dari pembaringanmu. Benar kau ayunkan langkah, dan benar kau menuju padanya.

Akan kau buktikan, tanggal dua puluh delapan itu. Hati kecilmu terus berteriak, memohon agar hari itu belum terlewatkan. Semoga.

….

Beginilah yang harus kau lakukan selama masih menjadi budak egomu. Mengendap-endap hanya untuk kembali pulang. Kau patut bersyukur, tidak banyak yang memerhatikan kedatanganmu. Berterimakasihlah pada rembulan yang menunjukkan dunia larutnya malam ini.

Maka sampailah kau di sana. Di hadapan pintu apartemen minimalis di antara deretan perumahan kota. Remang cahaya dari dalamnya mengindikasikan keberadaan sang pemilik. Tak berubah semenjak terakhir kali kau kemari. Cat pink polosnya, bahkan rangkaian anggrek yang setia menggantung di depan pintu. Semuanya masih sama, terkecuali batang-batang bunga yang sudah jauh meninggi dalam pot putihnya. Cukup menyadarkanmu seberapa lamanya kau meninggalkan semua itu.

Cukup sudah dengan nostalgiamu. Kali ini tujuanmu mantap menemui putri kecilmu. Entah terlambat atau tidak, pergolakan batinmu mengharuskan memberinya sekadar ucapan selamat ulang tahun yang tersirat. Tiga tahun telah berlalu tanpa kehadiranmu di sisinya, maka menemuinya sekarang semestinya tidak menjadi sebuah dosa.

Tidak! Bukan hanya itu. Sesungguhnya bagian lain dalam dirimu menginginkan lebih. Ingin tahu keadaannya. Ingin memastikan raga itu tak merasakan sakit barang sedikit pun—walau tak ada yang bisa mengelak, bahwa hati Seruni berkebalikan, jauh merasakan luka. Setidaknya, kau ingin menatap wajahnya lebih lama, menghayati makna pertambahan usia di wajah polosnya yang ringkih.

Tiga tahun silam, ketika kau meninggalkan rumah itu dengan emosi yang memuncak, kau bahkan tak mengirim kata pamit pada Seruni. Bocah ceria itu sedang berada di sekolah ketika kau dan istrimu saling melempar cercaan. Atau ketika barang-barang di rumahmu mulai melawan gravitasi, terlempar acak diiringi sorak kemarahan.

Seruni tidak pernah tahu tentang ayah dan ibunya. Seruni tidak pernah tahu tentang apa yang terjadi di hari itu, bahkan hingga ibunya wafat di tahun lalu. Yang Seruni pahami, kau meninggalkan mereka. Bahwa kau lah penjahat dalam cerita hidup yang sedang ia lakoni. Setidaknya begitu yang kau percayai, hingga selalu berat untuk menampakkan eksistensimu di hadapannya.

Kau terdiam di hadapan pintu apartemen yang kini hanya ditinggali Seruni seorang. Sejuta cara melintas di otakmu untuk petualangan kecil malam ini. Karangan bunga yang sejak tadi setia tergenggam oleh balutan jemarimu, entah akan kau apakan.

Ketika hatimu mantap, gagang pintu itu sedikit bergerak. Kau menghilang dengan cepat, menyembunyikan diri dari segala kemungkinan terburuk. Sosok lain muncul di baliknya, dan kembali menutup pintu dengan rapat.

Sepasang lensamu sedikit kau picingkan untuk memastikan sosoknya. Seorang pemuda yang tak pernah kau tahu, kini mematung dengan senyuman tipis di depan pintu apartemen putrimu. Meski teramat benci akan kegagalan kecilmu, kau tetap menunggu, menanti tindakan selanjutnya dari lelaki muda itu. 

"Selamat tidur, Seruni. Selamat ulang tahun!"

Dua puluh delapan Maret. Hari ini.

Kau kembali geming mengamati kehadiran pemuda asing di apartemen putrimu—atau apartemen lamamu. Terlebih ketika nada paraunya berujar akan sesuatu yang kau mahfum benar. Sekelebat perasaan kesal menjamahi alam sadarmu. Sebal, kecewa, sesal, dan segala tudingan sebagai makhluk paling bodoh kau tujukan untuk dirimu sendiri. Apa yang telah dilakukan pemuda itu di apartemen Seruni tengah malam begini? Apapun itu, kembali telah mengurungkan niatmu.

Sesaat ketika melihatnya pergi, kau jatuhkan buket bungamu di depan pintu. Lalu kembali menghilang, persis seperti hari-hari sebelumnya.

….

Pagi itu, Seruni mendapati kejutan kecil di hari ulang tahunnya. Sekotak kado yang tergeletak rapi di atas meja riasnya, berisikan sebuah syal merah jambu—yang ia tahu persis—pemberian sang kekasih, Erlangga, entah sejak kapan ada di situ.

Ah, ia baru ingat! Tak lama sebelum ini, ia pernah memberikan Erlangga kunci duplikat apartemennya. Pasti semalam Erlangga membawanya ke sana.

Tapi bukan itu yang benar-benar membuat gadis muda itu terkejut. Hal yang aneh terjadi pagi ini ketika ia membuka pintu apartemennya. Sebuah karangan bunga yang agak layu terbaring manis di depan kakinya. Entah dari mana ia datang. Buketnya terasa hangat, agaknya sudah cukup lama berada di depan sana.

Secarik kartu kecil ditemukan Seruni di balik pita biru yang mengelilingi buket itu. Hanya selembar kertas yang bertuliskan, "Selamat ulang tahun,” dalam tulisan tangan yang tidak ia kenali. Di pojok kertas tempat menuliskan nama pengirim, Seruni mendapati jejak pena yang menitik cukup kuat. Sang Pengirim tampaknya bergelut cukup keras dengan pikirannya sendiri untuk menuliskan namanya, yang akhirnya tidak ia lakukan.

Satu hal yang Seruni tahu, itu bukan salah satu dari kejutan yang diberikan Erlangga untuknya. Namun karangan bunga itu, kini menjadi kejutan paling spesial di ulang tahun ke tujuh belasnya. Aroma lain yang bercampur dengan wangi sekelompok bunga itu sungguh tak tabu bagi Seruni. 

Tapi Seruni tak akan berspekulasi. Gadis kuat seperti Seruni tahu betul, bahwa spekulasi hanya akan membuka jalan bagi kekecewaan lain. Karenanya, Seruni berjanji untuk menyimpan kejutan kecil itu, sampai suatu saat nanti pengirim karangan bunga itu sungguh datang dan mengabarkan siapa pengirimnya.

Akankah?