Memang Siapa Kita Boleh Menjustifikasi Orang Lain?

Menjustifikasi orang lain tidak akan membuatmu tampak lebih baik!

Memang Siapa Kita Boleh Menjustifikasi Orang Lain?
Photo by Helena Lopes from Pexels

Beberapa hari yang lalu, tepatnya 24 November 2019 salah seorang selebriti asal Korea Selatan, Goo Hara ditemukan meninggal di rumahnya. Tentu saja dengan adanya kabar ini, sebagian pendapat publik khususnya di Indonesia tidak beranjak dari komentar 'memang kurang iman', 'dasar plastik (operasi plastik)',  dan celaan terhadap penderita depresi.

Ketiga topik ini sama-sama punya bias yang sangat khas di Indonesia. Sebagai negara yang mengakui Tuhan, masyarakat kita memang sangat suka dengan hal-hal yang menyangkut agama dan keimanan. Tidak jarang, saking terbawanya, kita gemar mengurusi hidup orang lain dengan membawa-bawa agama.

Dan dengan adanya bias agama ini pula, operasi plastik juga menjadi sesuatu yang selalu renyah untuk dijadikan bahan justifikasi, meski rasa asing kita dengan operasi plastik juga turut mempengaruhi. Dan untuk yang terakhir, ya meskipun saat ini mental health awareness lebih baik, tapi tidak menyasar seluruh masyarakat dengan cukup merata.

Kalangan millenial dan generasi Z yang mau berpikiran terbuka saja yang tidak memandang jijik pada masalah kejiwaan. Bagi sebagian yang lain, depresi tetap dikaitkan kurang iman, gila, dan sebagainya. Jadi tidak perlu kaget ketika ada kabar bunuh diri, maka yang muncul justru cemoohan, bukan sikap empati dalam mengambil pelajaran.

Padahal kita sendiri tahu, dengan mencela orang lain, sama sekali tidak membuat kita terlihat lebih baik.

Namun tetap saja, bukankah mencela orang lain membuat kita merasa lebih puas daripada berempati padanya? 

Saat justifikasi atau celaan pada orang lain terjadi, naluri yang diwariskan nenek moyang kita sebagai makhluk pemburu muncul. Rasa superior dan intimidatif membuat kita dengan mudah melontarkan komentar tanpa tahu penyebab dan apa saja yang dilewati seseorang hingga bisa melakukan suatu hal.

Padahal, sikap orang lain yang tampak sangat tidak familiar akan selalu ada. Lagipula, siapa kita hingga boleh menjustifikasi orang lain?

Semua orang memiliki jalan ceritanya sendiri-sendiri

Justifikasi terhadap orang lain

Kita semua tahu, setiap dari kita pasti pernah melakukan setidaknya satu hal yang anti mainstream dibandingkan lingkungan kita. Saat kita melawan arus seperti itu, apa yang kita pikirkan? 

Untuk melakukan sesuatu yang bisa dibilang tidak terlalu umum pastinya kita tidak bisa memutuskannya secara impulsif bukan? Ketika kita memutuskan melakukan sesuatu yang cukup berbeda, pasti kita memiliki banyak hal untuk dipertimbangkan.

Tidak cuma itu, untuk menjadi anti-stereotip, kita sudah lebih dulu dihadang oleh rasa takut atau kecemasan untuk menjadi berbeda. Intinya, sebenarnya kita semua tahu kalau tidak semua hal mudah untuk diputuskan dan dijalani. 

Tapi ketika melihat seseorang melakukan hal yang berbeda dari yang kita percayai, kita langsung lupa bahwa orang tersebut juga mengalami kecemasan yang sama dan melewati berbagai pertimbangan yang sama. Di saat seperti ini, kita bisa menjadi usil pada orang lain dikarenakan bias kognitif kita sendiri.

Dan yang kita seringkali gagal pahami saat mengomentari orang lain adalah, kita mengira bahwa orang tersebut lebih bodoh dan lebih buruk dari kita. Padahal, kita sama sekali tidak memiliki persyaratan yang membuat kita boleh menjustifikasi orang lain.

Bukan karena cuma tidak tahu betul soal perjalanan hidup orang, tapi kita juga tidak pernah tahu dengan detil, kronologis pola pikir orang lain sejak ia kecil.

Apa yang mendasari orang tersebut melakukan hal demikian, latar belakang pengetahuan apa yang mendasarinya, atau kejadian bahkan trauma apa yang dialami seseorang sehingga membuatnya berbuat demikian, kita tidak pernah benar-benar tahu.

Jika dengan keluarga terdekat saja kita tidak bisa membaca dengan jelas pikirannya, bagaimana pula orang lain? Kenapa kita mudah sekali merasa superior dan lebih bermoral hingga merasa berhak berkomentar?

Kalau di detik pertama kehidupan kita semua sudah berbeda, kenapa kita repot mencemooh pandangan atau sikap yang berbeda?

Justifikasi terhadap orang lain

Ketika banyak netizen yang kemudian mencemooh selebriti Korea karena melakukan operasi plastik, sepertinya mereka lupa tidak semua orang memangku pandangan yang sama dengan mereka. Kita tidak bisa memaksakan pandangan agama kita yang misalnya tidak memperbolehkan operasi plastik, untuk menjustifikasi mereka yang melakukannya.

Kita juga tidak bisa mencemooh mereka yang melakukan operasi tersebut dengan dalih tukang pencitraan atau penuh kepalsuan. Karena, toh kita memang memperlihatkan sisi palsu kita di taraf tertentu.

Bagaimanapun kita tidak bisa lepas dari pencitraan dan menjadi palsu karena kita terkadang perlu menjadi pragmatis. Sedangkan keadaan pragmatis tersebut tidak jarang membutuhkan kepura-puraan. Bukan berarti sikap pragmatis selalu buruk, tidak selalu.

Sikap pragmatis tidak pelak juga terkadang merupakan kebutuhan dan bisa menjaga agar hubungan antar manusia tidak kacau-kacau amat. Lagipula, tidak ada satu pun dari kita yang bisa menampilkan 100% diri kita pada orang lain tiap detiknya. Bahkan dinding Instagram kita saja diisi dengan citra yang bagus-bagus kan?

Jika sepasang anak kembar saja memiliki tiap detik yang berbeda, kenapa kita harus menjadi orang yang penuh racun saat melihat yang tidak sejalan?


Tidak ada yang salah dengan kata-kata 'kebodohan dan kebencian adalah saudara'. Kalau kita bisa mentolerir sikap orang lain yang tidak merugikan, kenapa kita tidak mengusahakannya? Toh kita memang tidak pernah benar-benar tahu apa yang orang lain pikirkan.

Jika sedikit-sedikit kita tidak mentolerir tiap pandangan atau sikap berbeda, kehidupan ini tidak akan beranjak menjadi sedikit lebih tenang. Ketika kasus semacam bunuh diri terjadi, saat kita berkomentar buruk tentangnya, sebenarnya kita juga ikut menyumbang terhadap iklim sosial yang keruh.

Jadi, berhentilah menjustifikasi berdasarkan bias kita semata karena ocehan itu secara langsung dan tidak langsung hanya akan membuat hidup (termasuk hidupmu) makin terasa frustasi.