Menikah di Negeri Ini Kenapa Mahal Sekali?

Mulai dari foto pre-wedding, seragam, gedung, sampai catering, rasanya belum apa-apa sudah menggoda iman dan kesanggupan.

Menikah di Negeri Ini Kenapa Mahal Sekali?
Photo by freestocks.org from Unsplash

Berangkat dari resepsi pernikahan beberapa orang kawan, rengrengan biaya untuk melangsungkan sebuah pernikahan mulai memenuhi kepala saya.

Mulai dari foto pre-wedding, undangan pernikahan, ongkos gedung plus dekorasi, seragam pengantin dan panitia, tukang make-up, biaya catering, belum lagi fee untuk fotografer dan souvenir pernikahan.

Kalau dihitung-hitung, gaji saya setahun masih jauh dari kata cukup untuk menikah dengan versi selengkap itu. Hiks.

Sempat berpikir untuk melangsungkan akad pernikahan di KUA saja, kayak youtuber Suhay Salim yang sempat viral beberapa waktu lalu karena konsep pernikahan ekstra iritnya. Namun ketika mendiskusikan ini dengan orang tua, saya malah kena semprot di sana sini.

Pernikahan Anak Itu adalah Acaranya Orang Tua

Yang menikah siapa, yang sibuk siapa, ya namanya juga orang tua

Seseorang pernah menyampaikan hal serupa beberapa waktu yang lalu. Pernikahan seorang anak sebetulnya adalah acara silaturahmi orang tua. Makanya, gak heran kalau ketika acara berlangsung, pasangan pengantin bisa saja tak kenal siapa yang disalami.

Pokoknya tahu salaman, kasih senyum, beres.

Karena jadi hajatan dari orang tua, otomatis gengsi yang ada di sana juga sebagian dimiliki orang tua. Tak usah heran deh, kalau orang tua banyak mengatur ini dan itu soal pernikahan. Wajar dong, wong acara nikahan anak kan, sering jadi momen langka orang tua untuk show off pada rekan mereka.

Ups.

Daripada mendiskusikan hal tanpa titik temu, saya pilih mengalah saja. Hitung-hitung membalas budi orang tua. Ya, selama tak sampai melebihi budget dan saldo di buku rekening.

Antara Kesanggupan dan Gengsi

Kesanggupan dan gengsi adalah dua hal yang begitu kontras

Bilangnya mau menikah irit. Eh pas lihat foto pre-wedding teman-teman berseliweran di beranda Instagram, bawaannya langsung baper. Katanya mau menikah serba hemat. Lah, waktu hadir di resepsi kawan, mupeng sendiri sama gaun dan riasan pengantinnya.

Slogan-slogan seperti "Pernikahan itu kan maunya sekali seumur hidup," atau "You only live once," kadang bisa banget tuh, bikin retak prinsip menikah ala kadarnya. Wanita normal mana sih yang gak pengen hari bahagianya dibuat memorable?

Cuma ya gitu, kalau ada rupa pasti ada harga.

Kalau berani bayar mahal, apa sih yang gak bisa dibuat bagus. Tapi kadang-kadang, inginnya hati tak mau sejalan dengan saldo di rekening. Maunya bagaimana, eh sanggupnya tak seberapa.

Ada sih, opsi pinjam sana sini. Tapi kalau ingat besok setelah menikah akan ada cicilan ini itu yang menagih untuk dilunasi, rasanya spending too much untuk acara yang cuma tiga atau empat jam itu agak berlebihan deh.

Makanya Ada Teknik Menyusutkan Pengeluaran

Kalau bisa dibuat murah, kenapa harus dibikin mahal

Dikutip dari Bridestory, untuk melaksanakan pernikahan dengan total undangan 100 orang saja, dibutuhkan biaya sekitar 75 juta Rupiah. Nilai ini tentu akan terus naik seiring dengan meningkatnya jumlah tamu yang diundang.

Bisa kok, dapat paket pernikahan lengkap ala-ala kekinian dengan budget menyesuaikan. Setidaknya itu yang dikatakan internet dan survei pengalaman menikah beberapa kerabat di sana sini.

Mari mulai dari pre-wedding. Saya pribadi tidak menganggap ini penting, jadi sebetulnya tak masalah kalau mau ditiadakan. Cuma ya, kalau mau tambah-menambah koleksi di feed Instagram, ceritanya sudah lain.

Tujuan pre-wedding sebetulnya cuma sebagai spoiler kalau we are getting married. Atau bisa juga buat pajangan di entrance gedung pas acara resepsi nanti.

Memilih penyedia jasa foto yang ongkosnya imbang dengan kesanggupan dompet adalah mutlak. Atau minta tolong kerabat yang biasa megang kamera juga bisa. Pokoknya diakali bisa sehemat mungkin dengan hasil yang tetap pantas, lah.

Soalnya untuk pre-wedding saja nih, kalau kata Bridestory, ongkos minimalnya 7-10 juta. Lumayan kan, kalau bisa pangkas anggaran dari situ.

Soal undangan, triknya adalah dengan mengundang secara elektronik. Khususnya untuk kelompok teman-teman atau geng main nih, yang jumlahnya mungkin sudah tak terhitung. Tapi khusus untuk pihak-pihak tertentu yang sekiranya penting, bolehlah diberikan undangan cetak.

Lebih dari lumayan loh, kalau bisa memotong beberapa lembar Rupiah dari anggaran undangan.

Nah, buat seragam pengantin, saya sih terpikir untuk menyewa saja. Bikin pakaian pengantin cuma untuk jadi Raja dan Ratu sehari, menurut saya agak mubazir. Habisnya, pakaian sekontras dan se-mencolok itu kalau dipakai di occasion lain akan cukup ribet, kan.

Kalau bisa menyelamatkan beberapa lembar Rupiah lagi, kenapa enggak?

Soal seragam panitia atau bridesmaid, menurut saya juga bukan prioritas. Saya sih, maunya ditiadakan saja. Cuma ya gitu, ada risiko nyinyiran dari kanan dan kiri yang harus siap didengar. Gak terkecuali dari sanak keluarga kekinian yang akan kecewa kalau tak diberi seragam.

Tapi ya, kalau mau pakai prinsip,

"Kan duit gue, suka-suka gue dong mau diapakan."

Bingo! Apalah arti omongan orang. Toh, ongkos yang dianggarkan juga gak minta sama mereka.

Untuk souvenir, sebetulnya juga opsional, sih. Tapi supaya jadi paket pernikahan lengkap ala-ala kekinian tanpa menyakiti saldo, mencari souvenir murah nan bermanfaat juga tak sulit, kok.

Saya pernah menghadiri sebuah pernikahan yang souvenir darinya adalah bibit tanaman yang dikemas sederhana juga cantik. Setelah mengecek Google, harganya ternyata beragam tergantung kreasi yang ditawarkan.

Menarik. Sudah berkesan, mendukung konsep Go Green pula.

Cara lain yang lebih menampakkan hasil, sebetulnya adalah dengan membatasi orang-orang yang akan diundang, yaitu hanya meliputi sanak saudara dan teman-teman dekat.

Eh, tapi kalau kembali ingat betapa hajatan ini adalah milik orang tua, rasanya kalau esok saya mengajukan opsi yang satu ini akan langsung tertolak.

Huft.

Menikah Itu Murah, yang Bikin Mahal Gengsinya

Suasana garden party di sebuah pesta pernikahan

Ada sebuah kutipan random di luar sana yang menurut saya menarik,

"Kalau tidak punya uang, jangan banyak mau. Kalau punya banyak mau, jangan takut keluar uang. Kalau tidak punya uang tapi punya banyak mau, kreatif dong!"

Jadi kembali lagi, kalau anggaran dana tidak seberapa, tak usah banyak gaya!

Opsi menikah paling affordable, sebetulnya sudah ada dan sudah sering dilakoni—lewat KUA. Di weekday, ongkos menikah di KUA adalah gratis. Kalaupun mau menikah di KUA pas akhir pekan, keluar duit sekitar 600 ribu masih dirasa mampu, lah.

Setidaknya, segitu harga menikah di KUA yang termaktub dalam PP 48 tahun 2014.

Tapi nih ya, kalau lihat model emak-emak sekarang yang gak mau kalah eksis dari putra-putrinya, kayaknya agak susah untuk ambil jalan pintas nan murah seperti cara di atas. Lain soal sih, kalau orang tua mau ikut andil dalam menanggung ongkos pernikahan.

Ya, karena pada akhirnya, menikah di negeri ini bukan cuma soal punya pasangan atau tidak. Harus ada tabungan yang siap dikuras, gengsi yang kudu ditekan, lalu perasaan orang tua dan lain-lain yang perlu dijaga.

Bukan karena menikah di negeri ini mahal sekali, tapi lebih kepada keinginan masing-masing yang harus rela diciutkan.